Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Definisi tajir melintir inilah dia. Sampeyan bayangkan ribuan jamaah salat tarawih dikasih uang masing-masing Rp300 ribu. Luar biasa. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Ramadan baru buka gerbang. Matahari masih panas macam dipanggang di tepi garam Madura. Tapi di Sumenep, suasana sudah seperti musim liburan di Pulau Gili Labak. Bedanya, yang datang bukan turis bawa snorkel, tapi jamaah bawa sajadah. Ribuan orang. Iya, ribuan. Dari siang sudah parkir badan di pelataran masjid sampai meluber ke jalan raya. Polisi? Turun 193 personel. Seratus sembilan puluh tiga! Ini tarawih apa pengamanan KTT?
Drone terbang. Video viral. Dari atas, barisan manusia itu melengkung seperti garis pasir di Pantai Sembilan. Warna mukena dan sarung seperti karang-karang hidup. Indah. Epik. Sinematik. Netflix lewat.
Orang mungkin berpikir, “Masyaallah, oksigen spiritual Sumenep lagi tinggi-tingginya!” Memang, kalau mau metafora, semangatnya setinggi kadar udara di Pulau Gili Iyang yang disebut-sebut paling segar sedunia. Tapi jangan naif dulu, cak. Ada faktor X yang bikin jamaah menumpuk macam akar di Wisata Mangrove Kedatim, rapat, berlapis, tak terpisahkan.
Faktor itu bernama Rp300.000 per kepala. Tunai. Cash. Amplop putih polos. Tanpa logo, tanpa watermark, tanpa “ingat 2029”. Distribusi dilakukan usai tarawih malam pertama, 18 Februari 2026, di delapan titik, Musala Wakaf Abdullah Kepanjen, Masjid Laju, Masjid Fathimah binti Said Gauzan Manding, Masjid Naqsabandiyah, Mushala Habib Muhsin, Mushala Zainab, Mushala Ba’antar, dan Mushala Bahrez.
Estimasi jamaah? 10.000–15.000 orang. Kali Rp300 ribu. Hasilnya? Rp3 miliar sampai Rp4,5 miliar beredar dalam satu malam. Satu malam, cak! Itu bukan lagi sedekah skala RT. Itu injeksi ekonomi setara festival daerah. Kalau uangnya ditumpuk mungkin bisa jadi menara baru di halaman Masjid Agung Sumenep.
Tokoh di balik layar? MH Said Abdullah, anggota DPR RI, Ketua Banggar DPR, orang yang sehari-hari main angka triliunan. Tapi malam itu, angka yang paling ditunggu jamaah cuma enam digit, 300.000.
📚 Artikel Terkait
Secara budaya, Sumenep ini kota kerajaan. Di Museum Keraton Sumenep tersimpan jejak para sultan. Tapi malam itu, yang terasa seperti “keraton modern” justru sistem distribusi amplopnya, rapi, terstruktur, dikawal aparat. Khidmatnya hampir setara ziarah ke Kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep, hanya saja bedanya jamaah pulang bukan cuma dengan doa, tapi juga isi dompet bertambah.
Fenomena ini unik. Seunik tengara Tulang Ikan Paus yang bikin orang berhenti dan bertanya, “Ini beneran?” Tarawih berubah rasa jadi “event Ramadan edition”. Rebutan tempat seperti rebut tiket konser. Booking sejak siang. Full 20 rakaat? Insyaallah kuat, wong hadiahnya jelas.
Apakah ini salah? Tidak ada yang bilang begitu. Zakat mal memang kewajiban. Berbagi itu indah. Uang berputar, ekonomi hidup, dapur mengepul. Tapi pertanyaan nakal tetap mengambang di udara Sumenep yang segar, kalau tidak ada Rp300 ribu itu, apakah jamaah tetap meluber sampai jalan? Apakah perlu 193 polisi? Apakah drone harus terbang?
Sumenep memang negeri gili, banyak pulau kecil yang eksotis, termasuk Giliyang dan kawan-kawannya. Tapi malam itu, masjid-masjid berubah jadi pulau harapan dadakan. Orang datang dengan niat ibadah, pulang dengan niat belanja.
Inilah Ramadan versi Sumenep, iman dan amplop berjalan bergandengan tangan seperti laut dan pasir. Kadang sulit dibedakan, mana yang lebih dulu bikin orang datang, panggilan langit atau panggilan dompet.
Subhanallah… subhanadompet… yang penting antre tertib, cak.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





