Dengarkan Artikel
Di sudut Kota Banda Aceh, di sebuah warkop tradisional, saya bertemu Arthur Schopenhauer. Ia memandang sinis pada gawai di tangan saya—kata demi kata yang saya ketikkan seperti sedang mencari pembenaran.
“Ngapain menulis?”, demikian tanya Schopenhauer
Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam. “Tentu saja ingin menyampaikan sesuatu,” jawab saya.
Ia tersenyum tipis. Seolah tahu, banyak orang menulis bukan karena punya sesuatu yang harus disampaikan, melainkan karena ingin terlihat punya sesuatu.
Schopenhauer membagi penulis menjadi dua: mereka yang menulis karena benar-benar memiliki gagasan, dan mereka yang menulis demi reputasi—demi uang, nama baik, atau sekadar agar dianggap intelektual.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “ngapain menulis”, melainkan: kita masuk kategori yang mana? Kita hidup di zaman ketika orang membaca banyak, tetapi berpikir sedikit. Mengutip banyak, tetapi merenung jarang. Buku dibeli, difoto, dipajang. Nama besar disebut, tetapi pikiran sendiri tidak pernah diuji.
Membaca tanpa mengolah hanya membuat kita menjadi papan tulis. Menerima goresan, lalu diam. Ali Shariati pernah menegaskan bahwa literasi harus melahirkan kesadaran sosial. Tetapi sebelum kesadaran sosial, ada kesadaran intelektual: keberanian berpikir sendiri dan keberanian menulis tanpa berlindung di balik nama besar.
Masalahnya bukan pada menyebut nama besar. Masalahnya adalah ketika nama itu menjadi tameng. Kita sering merasa argumen lebih sah jika disertai kutipan, seolah kebenaran harus disahkan oleh otoritas. Dalam tulisan maupun dialog, kita lebih percaya diri menyebut tokoh daripada mempertaruhkan pikiran sendiri. Tanpa sadar, kita membiasakan diri bergantung pada reputasi orang lain. Akhirnya kita mahir merangkai referensi, tetapi gagap ketika diminta berdiri dengan pikiran sendiri.
Padahal berpikir itu berisiko. Menulis itu membuka diri untuk dikritik. Dan justru di situlah prosesnya.
Jika kampus mengenalkan verifikasi, Karl Popper mengajarkan falsifikasi. Artinya, jangan cepat merasa benar. Uji pikiran sendiri. Bahkan curigai ia. Karena pikiran yang tidak pernah diuji akan mudah mengonsumsi propaganda, teori konspirasi, buzzer, dan hoaks tanpa saringan.
Ada pula ironi di ruang-ruang kampus: seminar penuh istilah, diskusi sarat kutipan, jurnal dipenuhi referensi, tetapi sunyi keberanian berpikir mandiri. Kita fasih menyebut Karl Popper tentang falsifikasi, namun jarang memfalsifikasi keyakinan sendiri. Kita bangga mengulang nama Jacques Derrida, tetapi takut mendekonstruksi kenyamanan intelektual kita.
📚 Artikel Terkait
Kita hafal teori, tetapi gagap ketika diminta pendapat pribadi tanpa bersandar pada kutipan. Kampus akhirnya melahirkan pengelola wacana, bukan penghasil pikiran. Kita sibuk terlihat kritis, tetapi jarang sungguh-sungguh kritis pada diri sendiri. Dan mungkin yang paling berbahaya: kita merasa sudah berpikir, padahal baru belajar mengutip.
Ketika kebiasaan itu terbawa keluar kampus, pikiran kita menjadi rapuh. Ia tampak cerdas, tetapi tidak tahan uji. Dan pikiran yang rapuh sangat mudah menelan apa pun yang lewat di beranda tanpa proses penyaringan.
Bayangkan jika pikiran kita terus mengonsumsi “kotoran”. Masihkah ia jernih? Di sinilah menulis menemukan maknanya. Bukan untuk pamer kecerdasan. Bukan untuk mengumpulkan pujian. Tetapi untuk menjernihkan pikiran melalui proses mengungkapkannya.
Menulis adalah cara kita memasak bacaan. Jangan makan daging mentah gagasan orang lain. Olah. Kritik. Ubah. Bahkan bantah.
Kopi mulai dingin, saya kembali menoleh pada Schopenhauer yang sejak awal mengawasi saya.“Tapi bukankah Anda sendiri terlalu keras?” tanya saya padanya di malam itu.
“Jika menulis harus selalu lahir dari pemikiran yang sepenuhnya matang, bukankah banyak orang akan memilih diam? Bukankah proses berpikir kadang justru terjadi saat menulis?” Ia menatap tajam. Seolah tak suka argumennya diganggu.
“Saya paham Anda membenci penulis dangkal,” lanjut saya. “Tetapi tidak semua tulisan lahir dari kejernihan total. Ada yang lahir dari kegelisahan. Ada yang masih mencari bentuk. Ada yang justru menemukan pikirannya ketika ia menulis. Jika kita menunggu sempurna dulu baru berani menulis, mungkin kita tidak pernah benar-benar mulai.” Ia tidak menjawab, hanya menghela nafas sambil melirik kopi di depannya.
Saya menyadari satu hal: standar yang terlalu tinggi bisa melahirkan ketakutan. Dan ketakutan melahirkan diam. Padahal diam yang panjang bisa lebih berbahaya daripada tulisan yang belum sempurna.
Karena itu, menulis bagi saya bukan tentang kesempurnaan gagasan, melainkan keberanian memulai. Keberanian berpikir di ruang terbuka. Keberanian diuji.
Kalau Anda menulis hanya untuk terlihat pintar, berhentilah. Kalau Anda membaca hanya untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, berhentilah.
Tetapi jika Anda menulis untuk membersihkan pikiran Anda sendiri, untuk membagikan air yang telah Anda serap, lanjutkan. Meski tak ada yang memuji.
Dalam sebuah ceramah tarawih, saya mendengar perumpamaan tentang air hujan. Ada tanah yang menolak. Ada yang menyerap tetapi tidak membagikan. Dan ada yang menyerap lalu mengalirkannya menjadi mata air. Ilmu seperti air hujan.Jika hanya diserap, ia berhenti. Jika dibagikan, ia menghidupkan. Jadi, ngapain menulis?
Agar kita tidak menjadi papan tulis. Agar kita tidak hanya menjadi pengutip. Agar kita tidak mati sebelum sempat berpikir sendiri. Mulailah menulis. Bukan untuk dikenal. Tetapi agar pikiran Anda benar-benar hidup.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






