POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Data ke Empati

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
February 22, 2026
Dari Data ke Empati
🔊

Dengarkan Artikel

Membaca Ulang Polemik PBI dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional

Oleh : dr. Novita sari yahya
Pendahuluan

Polemik mengenai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) kembali memicu perdebatan publik yang cukup intens. Ketika muncul pertanyaan mengapa terdapat kelompok yang secara kasatmata dianggap mampu tetapi masih tercatat sebagai penerima bantuan, diskusi sering berhenti pada persoalan administratif semata. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, persoalan ini menyentuh dimensi yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana negara mendefinisikan kemiskinan, bagaimana data sosial dikumpulkan dan diperbarui, serta sejauh mana kebijakan kesehatan benar-benar memahami realitas hidup masyarakat yang berlapis.

Dalam sistem jaminan kesehatan nasional yang dikelola oleh BPJS Kesehatan, akurasi data merupakan fondasi utama keadilan kebijakan. Namun keadilan tidak cukup hanya dibangun melalui sistem teknis yang presisi; ia juga memerlukan empati sebagai kerangka berpikir yang menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Pertanyaan mengenai kemampuan membayar iuran sebesar Rp42.000 per bulan tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang beragam. Bagi sebagian orang angka tersebut relatif kecil, tetapi bagi keluarga dengan pendapatan tidak tetap, jumlah itu dapat menjadi pilihan yang sulit antara memenuhi kebutuhan pokok atau mempertahankan perlindungan kesehatan.

Dengan demikian, polemik PBI tidak seharusnya dipahami sebagai persoalan administrasi, melainkan sebagai cermin dari tantangan struktural dalam sistem perlindungan sosial. Memperlihatkan bahwa kebijakan kesehatan berada pada persimpangan antara akurasi data, keadilan distribusi, dan sensitivitas terhadap realitas sosial.

Fragmentasi Data dan Tanggung Jawab Negara

Pendataan PBI pada prinsipnya merupakan tanggung jawab negara melalui berbagai lembaga dan kementerian yang memiliki mandat di bidang kesejahteraan sosial. Namun dalam praktiknya, data sosial di Indonesia masih tersebar dalam berbagai sistem yang belum sepenuhnya terintegrasi. Fragmentasi ini menyebabkan munculnya tumpang tindih, ketidaktepatan sasaran, serta perbedaan angka kemiskinan antarinstansi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan data bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan tata kelola. Ketika data tidak konsisten berbasis nama dan alamat secara mutakhir, kebijakan publik menjadi rentan terhadap bias administratif. Akibatnya, terdapat kelompok yang seharusnya menerima bantuan tetapi terlewat, sementara kelompok lain masih tercatat meskipun kondisinya telah berubah.

Pendekatan berbasis komunitas melalui pendamping tenaga kesehatan menghadirkan perspektif alternatif yang lebih kontekstual. Dengan rasio pendamping yang menjangkau sekitar 1.000 hingga 2.000 warga, proses pengumpulan data dapat dilakukan secara lebih mendalam dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis, karena menempatkan masyarakat sebagai subjek yang memiliki pengalaman hidup, bukan sekadar objek statistik.

Lebih jauh, pendekatan komunitas membuka ruang dialog antara negara dan warga. Data tidak lagi dipahami sebagai angka yang statis, tetapi sebagai refleksi dinamika sosial yang terus berubah. Dalam konteks ini, akurasi data tidak hanya diukur dari presisi angka, tetapi juga dari kemampuan menangkap kompleksitas kehidupan masyarakat.

Mengapa Angka Kemiskinan Berbeda

Perdebatan mengenai kemiskinan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perbedaan metodologi pengukuran antara Badan Pusat Statistik dan World Bank. BPS menggunakan pendekatan garis kemiskinan nasional berbasis pemenuhan kebutuhan dasar, sementara Bank Dunia menggunakan standar internasional berbasis paritas daya beli (purchasing power parity).

Perbedaan metodologi ini menghasilkan angka kemiskinan yang tidak selalu sejalan. Namun perbedaan tersebut tidak berarti keduanya saling bertentangan. Sebaliknya, kedua pendekatan justru saling melengkapi dalam memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi kesejahteraan masyarakat. Data nasional menggambarkan kemiskinan absolut yang relevan untuk kebijakan domestik, sedangkan standar internasional membantu memahami tingkat kerentanan yang lebih luas dalam konteks global.

Dalam perspektif kebijakan kesehatan, pemahaman mengenai kerentanan menjadi sangat penting. Banyak keluarga berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi sangat rentan jatuh miskin ketika menghadapi risiko kesehatan, seperti penyakit kronis atau kebutuhan perawatan jangka panjang. Fenomena ini menegaskan bahwa garis kemiskinan bukan batas yang kaku, melainkan spektrum kondisi sosial ekonomi.

Pandangan mengenai spektrum kemiskinan juga sejalan dengan pemikiran Vivi Alatas yang menekankan bahwa kebijakan sosial perlu mempertimbangkan kerentanan, bukan hanya kategori statistik. Dengan pendekatan ini, kebijakan kesehatan dapat dirancang lebih responsif terhadap dinamika kehidupan masyarakat.

Jaminan Kesehatan sebagai Solidaritas Sosial

Perjalanan jaminan kesehatan nasional menunjukkan bahwa pembiayaan kolektif merupakan pilihan yang rasional sekaligus moral. Prinsip gotong royong dalam sistem jaminan sosial memastikan bahwa risiko kesehatan ditanggung bersama, sehingga beban biaya tidak sepenuhnya ditanggung individu. Tanpa mekanisme solidaritas, biaya kesehatan berpotensi memperlebar ketimpangan sosial.

📚 Artikel Terkait

Aksi Siaga Bencana SDIT Muhammadiyah Manggeng

Puisi- Puisi Tasya Febrianda

Memulai Bisnis Accessories Melalui Sosial-Media

Perkembangan Islam di Filipina

Landasan hukum sistem ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS. Kedua regulasi tersebut menegaskan bahwa jaminan kesehatan merupakan hak seluruh warga negara dan tanggung jawab negara untuk memenuhinya.

Dalam konteks ini, perdebatan yang menempatkan jaminan kesehatan sebagai bagian dari agenda global seharusnya dibaca secara proporsional. Terlepas dari dinamika wacana internasional, implementasi jaminan kesehatan di Indonesia merupakan mandat konstitusional yang berorientasi pada perlindungan warga. Fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada peningkatan kualitas layanan, ketepatan sasaran, serta keberlanjutan pembiayaan.

Perspektif Kajian: Manusia di Balik Statistik

Pendekatan yang melihat manusia sebagai subjek kebijakan menegaskan bahwa data sosial tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupan sehari-hari. Kajian mengenai revisi Jamkesda, pendamping tenaga kesehatan, serta pembangunan kesehatan berbasis keadilan sosial menempatkan pengalaman hidup masyarakat sebagai sumber pengetahuan kebijakan.

Pendamping tenaga kesehatan tidak hanya berperan mengumpulkan data, tetapi juga memahami konteks sosial seperti pekerjaan, pola konsumsi, akses terhadap pangan, serta relasi keluarga. Pemahaman ini membantu mengungkap faktor-faktor non-medis yang memengaruhi kesehatan, termasuk kemiskinan, pendidikan, dan lingkungan.

Integrasi pendekatan kesehatan dengan pemberdayaan perempuan dan nutrisi berbasis kearifan lokal menunjukkan bahwa kesehatan merupakan bagian dari ekosistem sosial yang lebih luas. Kebijakan kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan kebijakan pendidikan, ekonomi, dan perlindungan sosial.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kebijakan yang efektif bukan hanya yang efisien secara administratif, tetapi yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Empati sebagai Fondasi Kebijakan

Kemiskinan struktural tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga dengan ketimpangan akses terhadap pendidikan, pekerjaan layak, dan layanan dasar. Ketika kebijakan hanya berfokus pada angka, terdapat risiko hilangnya dimensi kemanusiaan dalam proses pengambilan keputusan.

Empati dalam kebijakan publik tidak berarti mengabaikan akuntabilitas atau disiplin fiskal. Sebaliknya, empati berfungsi sebagai kerangka etis yang memastikan setiap keputusan mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan warga. Dengan empati, data menjadi alat untuk memahami manusia Tanpa empati, data berpotensi menjadi statistik yang terlepas dari realitas sosial.

Pendekatan kebijakan yang berorientasi pada manusia juga memperkuat legitimasi publik. Ketika masyarakat merasa dipahami, kepercayaan terhadap institusi meningkat, dan implementasi kebijakan menjadi lebih efektif.

Penutup

Polemik PBI seharusnya dipandang sebagai momentum refleksi untuk memperbaiki sistem perlindungan sosial, bukan sekadar kontroversi administratif. Integrasi data sosial, penguatan pendekatan komunitas, serta pemahaman yang lebih luas mengenai kemiskinan merupakan langkah penting menuju kebijakan kesehatan yang lebih adil.

Jaminan kesehatan pada akhirnya adalah wujud solidaritas sosial yang menegaskan bahwa setiap orang berhak hidup sehat tanpa takut jatuh miskin akibat sakit. Ketika kebijakan dibangun di atas data yang akurat dan empati yang kuat maka sistem tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga bermartabat.

Daftar Referensi

Badan Pusat Statistik. (2025, 2 Mei). Memahami Perbedaan Angka Kemiskinan Versi Bank Dunia dan BPS.
https://www.bps.go.id/id/news/2025/05/02/702/memahami-perbedaan-angka-kemiskinan-versi-bank-dunia-dan-bps.html
Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Kemiskinan di Indonesia.
www.bps.go.id
World Bank. (2025). Poverty and Equity Brief: Indonesia.
databank.worldbank.org

Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
peraturan.bpk.go.id

Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

peraturan.bpk.go.id
BPJS Kesehatan. (2025). Laporan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
www.bpjs-kesehatan.go.id

Alatas, Vivi. (2024). Berbagai Publikasi tentang Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia. World Bank/Kajian Akademik.
www.worldbank.org

Yahya, Novita Sari. (2024). Kajian Revisi Jamkesda dan Pendamping Nakes Berbasis Keadilan Sosial.

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

Lagu suara yang meredup
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi Novita sari yahya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 122x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 62x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
79
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00