POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ramadan di Serambi Mekkah: Manifesto Rekonstruksi Peradaban dari Aceh ke Dunia

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 21, 2026
Ramadan dan Rekonstruksi Kekuatan Umat: Integrasi Ritualitas dan Intelektualitas Menuju Umat yang Kuat Secara Spiritual dan Struktural
🔊

Dengarkan Artikel

Ramadan #4

Oleh: Dayan Abdurrahman

Setiap Ramadan, lebih dari 1,9 miliar Muslim di dunia memasuki siklus latihan spiritual kolektif yang konsisten setiap tahun. Selama tiga puluh hari, disiplin puasa menjadi ruang pengendalian diri, empati sosial, dan refleksi moral—sebuah mobilisasi etika besar yang jarang ditemukan pada tradisi lain.

Namun pada saat yang sama, dunia kontemporer bergerak melalui arsitektur sistemik: teknologi maju, manajemen produksi, riset ilmiah, pasar global, serta kalkulasi geopolitik. Ini menimbulkan ketegangan fundamental: bagaimana kekuatan moral yang besar dapat dipersandingkan atau bahkan diintegrasikan dengan kekuatan struktural yang menentukan relasi global modern?

Umat Islam secara statistik signifikan: mereka mencakup sekitar 24% populasi dunia dan tersebar di puluhan negara yang secara kolektif memiliki aset sumber daya besar. Namun, kontribusi ekonomi dan inovasi struktur mereka—misalnya dalam PDB global, paten teknologi, atau indeks inovasi—masih relatif rendah dibandingkan negara-negara maju. Dalam Global Innovation Index 2023, hanya segelintir negara Muslim yang berada dalam top 50, sementara banyak lainnya masih berada di peringkat menengah ke bawah. Rasio belanja riset dan pengembangan (R&D) di banyak negara Muslim rata-rata di bawah 1% PDB, jauh dibandingkan negara maju yang berkisar 2–4% atau lebih.

Data ini bukan menunjukkan kurangnya iman, tetapi menunjukkan jarak antara potensi sumber daya moral dan kapasitas institusional.

  1. Aceh: Sejarah, Spiritualitas, dan Jejak Peradaban

Aceh—sering disebut Serambi Mekkah—memiliki sejarah panjang sebagai pintu masuk Islam di Nusantara. Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan Samudera Pasai berdiri sejak abad ke-13 sebagai salah satu pusat awal Islamisasi di Asia Tenggara, berkat posisi strategisnya di jalur perdagangan Selat Malaka yang menghubungkan Arab, Persia, India, dan Cina. Samudera Pasai menjadi “jembatan” Islam ke Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi inti penyebaran fikih, tauhid, dan tasawuf di kawasan ini.

Sejak itu, Aceh berkembang menjadi pusat pendidikan Islam. Dayah—lembaga pendidikan tradisional—melahirkan generasi ulama yang mempengaruhi jaringan keilmuan di seluruh Alam Melayu. Pada masa Sultanat Aceh Darussalam (abad ke-16–17), ulama-ulama besar seperti Nur al-Din al-Raniri dan Syekh Abd al-Rauf al-Sinkili (Syiah Kuala) menjadi figur penting dalam pengembangan pemikiran Islam klasik, termasuk tafsir, fiqh, dan tasawuf. Karya mereka tidak hanya membentuk tradisi pemikiran lokal, tetapi juga terhubung dengan tradisi global melalui jaringan pelajar dan ulama dari Haramain (Mekah–Madinah) hingga Asia Tenggara.

Peran ini memperlihatkan bahwa Aceh bukan sekadar wilayah geografis, tetapi simpul peradaban yang mampu menyatukan tradisi religius dan intelektual di ruang Eurasia.

  1. Spiritualitas Ramadan dan Moral Capital

Ramadan—dalam perspektif Islam—tidak hanya merupakan ibadah puasa semata. Menurut Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183), tujuan puasa adalah agar manusia mencapai takwa, yakni kesadaran etis dan pengendalian diri yang tinggi. Dalam psikologi modern, konsep ini berkaitan dengan delayed gratification—kemampuan menunda kepuasan demi tujuan jangka panjang—yang secara empiris berkaitan dengan stabilitas sosial dan produktivitas ekonomi. Studi perilaku ekonomi menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kontrol diri tinggi cenderung memiliki kohesi sosial yang lebih kuat dan risiko konflik internal yang lebih rendah.

Sosiolog Max Weber menegaskan bahwa etika religius dapat menjadi basis rasionalitas ekonomi dan budaya kerja, sementara ekonom ilmiah Amartya Sen menyatakan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan pendapatan, tetapi perluasan kapabilitas individu dan masyarakat. Dalam tradisi Islam sendiri, pemikir seperti Ibn Khaldun menunjukkan bagaimana solidaritas sosial (’ashabiyah) dan tata kelola adil menjadi fondasi keberlanjutan peradaban.

Nilai-nilai ini menggambarkan bahwa spiritualitas Ramadan adalah modal moral (moral capital) yang tidak bersifat pasif, tetapi memiliki kapasitas normatif dan etis.

📚 Artikel Terkait

Ketika Demokrasi Bercermin: Antara Efisiensi, Ingatan dan Hak untuk Memilih

Menolak Lupa: Orang Rantai Perjuangan Anak Bangsa

Warisan Cinta dalam 289 HalamanUntuk Anak-cucuku

Teruntuk Yang Terkasih, Ibu

  1. Struktural: Tantangan Kekinian dan Ketimpangan Global

Namun moralitas besar tanpa struktur yang kuat sering berubah menjadi simbolis. Di era modern, kekuatan global ditandai oleh:

Investasi R&D yang tinggi

Institusi riset terintegrasi dengan industri

Tata kelola ekonomi profesional

Diversifikasi ekonomi dan ketahanan pangan

Negara-negara seperti Korea Selatan dan Jerman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kekuatan inovasi tidak hanya bergantung pada sumber daya, tetapi pada konsistensi kebijakan struktural. Negara-negara ini mengalokasikan lebih dari 3–4% PDB untuk R&D, membangun ekosistem inovasi yang memadukan universitas, swasta, dan publik.

Di banyak negara Muslim, termasuk Aceh sendiri, ketergantungan terhadap komoditas mentah membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global, sementara struktur riset dan manufaktur modern belum berkembang seoptimal potensinya.

  1. Model Integratif: Moral, Intelektual, dan Institusional

Agar spiritualitas Ramadan berkontribusi pada kekuatan peradaban kontemporer, kita perlu melihatnya tidak sebagai ritual individual, tetapi sebagai sumber modal moral yang kemudian diinstitusionalisasikan. Saya mengusulkan model Triadik Peradaban Ramadan:

  1. Moral Capital
    — Disiplin spiritual dan empati sosial yang kuat, seperti nilai solidaritas zakat dan self-control puasa.
  2. Intellectual Capital
    — Investasi pendidikan sains, literasi teknologi, dan pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan zaman.
  3. Institutional Capital
    — Tata kelola profesional, transparansi, sistem keuangan kompetitif, serta kebijakan yang berorientasi masa depan.

Ketiganya saling memperkuat. Moral tanpa intelektualitas dapat menjadi romantik, intelektualitas tanpa moral dapat menjadi dominasi tanpa etika, sementara struktur tanpa keduanya menjadi teknokratis tanpa arah tujuan nilai.

  1. Aceh sebagai Laboratorium Peradaban

Aceh memiliki basis historis kuat: sebagai pusat awal penyebaran Islam, sebagai penghasil ulama‑ulama berpengaruh, dan sebagai wilayah dengan tradisi pendidikan Islam yang panjang (dayah). Statistik sensus tahun 2016 menunjukkan populasi Muslim di Aceh mencapai sekitar 98% dari total penduduk, yang sudah berlangsung puluhan generasi dan membentuk identitas kolektif masyarakatnya.

Itu berarti Aceh memiliki modal moral besar. Tantangannya kini adalah mentransformasikannya menjadi kapasitas intelektual dan struktural. Dayah yang selama ini menjadi pusat pendidikan agama bisa diintegrasikan dengan pendidikan sains dan teknologi, sehingga menghasilkan generasi yang tidak hanya kuat spiritualitasnya tetapi juga kuat kemampuan menyelesaikan masalah kontemporer—teknologi, ekonomi, kebijakan publik, dan inovasi sosial.

  1. Dialektika Iman dan Sistem Global

Sistem global tidak menunggu siap. Stabilitas geopolitik dibangun oleh negara-negara yang mampu menggabungkan etika sosial dengan kapasitas teknis dan kelembagaan yang kuat. Moral tanpa struktur menjadi kapital simbolik. Struktur tanpa moral menjadi dominasi tanpa tujuan nilai.

Ramadan—jika dipahami lebih dari ritual musiman—dapat menjadi titik strategis untuk refleksi kolektif, yang kemudian melahirkan kebijakan pendidikan, ekonomi, dan teknologi yang konsisten dengan nilai moral yang kuat.

  1. Kesimpulan: Dari Serambi Mekkah ke Panggung Dunia

Ramadan di Aceh bukan sekadar tradisi ritual; ia adalah jejak panjang sejarah peradaban yang pernah menjadi pusat ilmu dan spiritualitas. Mengingat kembali kedalaman tradisi itu bukan berarti sekadar nostalgia, tetapi mengaktifkannya sebagai basis transformasi struktural.

Peradaban besar tidak lahir dari kemarahan atau retorika semata. Ia lahir dari integrasi moral, pemikiran rasional, dan desain kelembagaan yang konsisten dan berorientasi pada masa depan.

Ramadan adalah titik berangkatnya.
Peradaban adalah tujuannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 110x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 69x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
78
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00