Dengarkan Artikel
Ramadan #4
Oleh: Dayan Abdurrahman
Setiap Ramadan, lebih dari 1,9 miliar Muslim di dunia memasuki siklus latihan spiritual kolektif yang konsisten setiap tahun. Selama tiga puluh hari, disiplin puasa menjadi ruang pengendalian diri, empati sosial, dan refleksi moral—sebuah mobilisasi etika besar yang jarang ditemukan pada tradisi lain.
Namun pada saat yang sama, dunia kontemporer bergerak melalui arsitektur sistemik: teknologi maju, manajemen produksi, riset ilmiah, pasar global, serta kalkulasi geopolitik. Ini menimbulkan ketegangan fundamental: bagaimana kekuatan moral yang besar dapat dipersandingkan atau bahkan diintegrasikan dengan kekuatan struktural yang menentukan relasi global modern?
Umat Islam secara statistik signifikan: mereka mencakup sekitar 24% populasi dunia dan tersebar di puluhan negara yang secara kolektif memiliki aset sumber daya besar. Namun, kontribusi ekonomi dan inovasi struktur mereka—misalnya dalam PDB global, paten teknologi, atau indeks inovasi—masih relatif rendah dibandingkan negara-negara maju. Dalam Global Innovation Index 2023, hanya segelintir negara Muslim yang berada dalam top 50, sementara banyak lainnya masih berada di peringkat menengah ke bawah. Rasio belanja riset dan pengembangan (R&D) di banyak negara Muslim rata-rata di bawah 1% PDB, jauh dibandingkan negara maju yang berkisar 2–4% atau lebih.
Data ini bukan menunjukkan kurangnya iman, tetapi menunjukkan jarak antara potensi sumber daya moral dan kapasitas institusional.
- Aceh: Sejarah, Spiritualitas, dan Jejak Peradaban
Aceh—sering disebut Serambi Mekkah—memiliki sejarah panjang sebagai pintu masuk Islam di Nusantara. Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan Samudera Pasai berdiri sejak abad ke-13 sebagai salah satu pusat awal Islamisasi di Asia Tenggara, berkat posisi strategisnya di jalur perdagangan Selat Malaka yang menghubungkan Arab, Persia, India, dan Cina. Samudera Pasai menjadi “jembatan” Islam ke Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi inti penyebaran fikih, tauhid, dan tasawuf di kawasan ini.
Sejak itu, Aceh berkembang menjadi pusat pendidikan Islam. Dayah—lembaga pendidikan tradisional—melahirkan generasi ulama yang mempengaruhi jaringan keilmuan di seluruh Alam Melayu. Pada masa Sultanat Aceh Darussalam (abad ke-16–17), ulama-ulama besar seperti Nur al-Din al-Raniri dan Syekh Abd al-Rauf al-Sinkili (Syiah Kuala) menjadi figur penting dalam pengembangan pemikiran Islam klasik, termasuk tafsir, fiqh, dan tasawuf. Karya mereka tidak hanya membentuk tradisi pemikiran lokal, tetapi juga terhubung dengan tradisi global melalui jaringan pelajar dan ulama dari Haramain (Mekah–Madinah) hingga Asia Tenggara.
Peran ini memperlihatkan bahwa Aceh bukan sekadar wilayah geografis, tetapi simpul peradaban yang mampu menyatukan tradisi religius dan intelektual di ruang Eurasia.
- Spiritualitas Ramadan dan Moral Capital
Ramadan—dalam perspektif Islam—tidak hanya merupakan ibadah puasa semata. Menurut Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183), tujuan puasa adalah agar manusia mencapai takwa, yakni kesadaran etis dan pengendalian diri yang tinggi. Dalam psikologi modern, konsep ini berkaitan dengan delayed gratification—kemampuan menunda kepuasan demi tujuan jangka panjang—yang secara empiris berkaitan dengan stabilitas sosial dan produktivitas ekonomi. Studi perilaku ekonomi menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kontrol diri tinggi cenderung memiliki kohesi sosial yang lebih kuat dan risiko konflik internal yang lebih rendah.
Sosiolog Max Weber menegaskan bahwa etika religius dapat menjadi basis rasionalitas ekonomi dan budaya kerja, sementara ekonom ilmiah Amartya Sen menyatakan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan pendapatan, tetapi perluasan kapabilitas individu dan masyarakat. Dalam tradisi Islam sendiri, pemikir seperti Ibn Khaldun menunjukkan bagaimana solidaritas sosial (’ashabiyah) dan tata kelola adil menjadi fondasi keberlanjutan peradaban.
Nilai-nilai ini menggambarkan bahwa spiritualitas Ramadan adalah modal moral (moral capital) yang tidak bersifat pasif, tetapi memiliki kapasitas normatif dan etis.
📚 Artikel Terkait
- Struktural: Tantangan Kekinian dan Ketimpangan Global
Namun moralitas besar tanpa struktur yang kuat sering berubah menjadi simbolis. Di era modern, kekuatan global ditandai oleh:
Investasi R&D yang tinggi
Institusi riset terintegrasi dengan industri
Tata kelola ekonomi profesional
Diversifikasi ekonomi dan ketahanan pangan
Negara-negara seperti Korea Selatan dan Jerman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kekuatan inovasi tidak hanya bergantung pada sumber daya, tetapi pada konsistensi kebijakan struktural. Negara-negara ini mengalokasikan lebih dari 3–4% PDB untuk R&D, membangun ekosistem inovasi yang memadukan universitas, swasta, dan publik.
Di banyak negara Muslim, termasuk Aceh sendiri, ketergantungan terhadap komoditas mentah membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global, sementara struktur riset dan manufaktur modern belum berkembang seoptimal potensinya.
- Model Integratif: Moral, Intelektual, dan Institusional
Agar spiritualitas Ramadan berkontribusi pada kekuatan peradaban kontemporer, kita perlu melihatnya tidak sebagai ritual individual, tetapi sebagai sumber modal moral yang kemudian diinstitusionalisasikan. Saya mengusulkan model Triadik Peradaban Ramadan:
- Moral Capital
— Disiplin spiritual dan empati sosial yang kuat, seperti nilai solidaritas zakat dan self-control puasa. - Intellectual Capital
— Investasi pendidikan sains, literasi teknologi, dan pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan zaman. - Institutional Capital
— Tata kelola profesional, transparansi, sistem keuangan kompetitif, serta kebijakan yang berorientasi masa depan.
Ketiganya saling memperkuat. Moral tanpa intelektualitas dapat menjadi romantik, intelektualitas tanpa moral dapat menjadi dominasi tanpa etika, sementara struktur tanpa keduanya menjadi teknokratis tanpa arah tujuan nilai.
- Aceh sebagai Laboratorium Peradaban
Aceh memiliki basis historis kuat: sebagai pusat awal penyebaran Islam, sebagai penghasil ulama‑ulama berpengaruh, dan sebagai wilayah dengan tradisi pendidikan Islam yang panjang (dayah). Statistik sensus tahun 2016 menunjukkan populasi Muslim di Aceh mencapai sekitar 98% dari total penduduk, yang sudah berlangsung puluhan generasi dan membentuk identitas kolektif masyarakatnya.
Itu berarti Aceh memiliki modal moral besar. Tantangannya kini adalah mentransformasikannya menjadi kapasitas intelektual dan struktural. Dayah yang selama ini menjadi pusat pendidikan agama bisa diintegrasikan dengan pendidikan sains dan teknologi, sehingga menghasilkan generasi yang tidak hanya kuat spiritualitasnya tetapi juga kuat kemampuan menyelesaikan masalah kontemporer—teknologi, ekonomi, kebijakan publik, dan inovasi sosial.
- Dialektika Iman dan Sistem Global
Sistem global tidak menunggu siap. Stabilitas geopolitik dibangun oleh negara-negara yang mampu menggabungkan etika sosial dengan kapasitas teknis dan kelembagaan yang kuat. Moral tanpa struktur menjadi kapital simbolik. Struktur tanpa moral menjadi dominasi tanpa tujuan nilai.
Ramadan—jika dipahami lebih dari ritual musiman—dapat menjadi titik strategis untuk refleksi kolektif, yang kemudian melahirkan kebijakan pendidikan, ekonomi, dan teknologi yang konsisten dengan nilai moral yang kuat.
- Kesimpulan: Dari Serambi Mekkah ke Panggung Dunia
Ramadan di Aceh bukan sekadar tradisi ritual; ia adalah jejak panjang sejarah peradaban yang pernah menjadi pusat ilmu dan spiritualitas. Mengingat kembali kedalaman tradisi itu bukan berarti sekadar nostalgia, tetapi mengaktifkannya sebagai basis transformasi struktural.
Peradaban besar tidak lahir dari kemarahan atau retorika semata. Ia lahir dari integrasi moral, pemikiran rasional, dan desain kelembagaan yang konsisten dan berorientasi pada masa depan.
Ramadan adalah titik berangkatnya.
Peradaban adalah tujuannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





