• Latest
Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Februari 17, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Februari 17, 2026
in Bedah buku, Buku, Menulisbuku, Peluncuran Buku
Reading Time: 6 mins read
0
Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Novita Sari Yahya

Bagian prolog : Utusan Khusus di Balik Pintu Tertutup

“Baron tetaplah di ruangan ini, temani aku berbicara tentang urusan khusus PBB.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang, tetapi memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Pintu ruangan tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa lebih padat dari sebelumnya. Cahaya siang menembus tirai tipis, membentuk garis lembut di lantai marmer. Suasana formal bercampur dengan keakraban yang aneh, seolah pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan ruang tempat kepentingan besar dipertaruhkan.

Utusan khusus itu duduk tegap, map tipis berada di pangkuannya. Tatapannya lurus, profesional, dan terlatih untuk membaca situasi.

“Saya utusan khusus untuk wilayah yang selama ini dianggap berkonflik dengan militer karena dituduh sebagai gerakan separatis,” katanya datar.
“Kami bertemu dengan ketua adat dan masyarakat setempat. Temuan kami menunjukkan hal yang berbeda. Ada tindakan represif militeristik yang dikendalikan oleh rezim berkuasa. Jika Anda menjadi presiden bagi lebih dari 300 juta orang, dan Anda seorang perempuan, bagaimana Anda akan menjamin kehidupan masyarakat adat sekaligus menyelesaikan persoalan separatisme?”

Pertanyaan itu meluncur tanpa tekanan nada, tetapi bobotnya terasa berat di udara. Itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan pengukuran visi dan keberanian.

Wulan tersenyum tipis. Ia duduk tegak, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya tenang, menyiratkan keyakinan yang lahir dari perjalanan panjang.

“Saya merasa terhormat atas kunjungan ini,” jawabnya. “Meski saya hanya salah satu kandidat dalam pemilihan presiden 2029.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara mantap.

“Saya berdiri di atas legacy politik keluarga kami selama seratus tahun. Kakek saya adalah salah satu pendiri bangsa. Prinsip kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah fondasi kebijakan saya. Sebagai seorang muslim, kewajiban saya memastikan keadilan hadir dan memperbaiki karakter bangsa sebagai negara merdeka.”

Nada suaranya tetap lembut, tetapi setiap kata terasa jelas.

“Kami akan memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Kami akan menempatkan pejabat yang kompeten dan berintegritas. Kami memahami sejarah bangsa ini rumit, tetapi banyak persoalan lahir dari campur tangan asing. Karena itu kami harus kembali pada pembangunan karakter bangsa sebagaimana dirintis para pendiri.”

Ia menatap langsung ke mata utusan itu.

“Jika dunia percaya kami mampu menyelesaikan persoalan HAM, maka kedaulatan negara kami juga harus dihormati.”

Aku melihat utusan khusus itu mengangguk kecil. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian berlebihan, tetapi sorot matanya menunjukkan pengakuan. Jawaban itu bukan retorika kosong.

Pertemuan kemudian mencair. Mereka makan siang bersama di ruang makan rumah. Hidangan sederhana tersaji: sup hangat, nasi, dan beberapa lauk rumahan. Tawa kecil mulai terdengar, menggantikan ketegangan formal.

Baca Juga

7fb8d49c-8ec5-4336-99da-ba4fb75fa40c

Dari Cerpen ke Layar

Maret 25, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Bedah Buku – Kitab al-Shifa

Maret 10, 2026

Utusan itu berkeliling rumah, memperhatikan foto keluarga di dinding. Ia berhenti cukup lama di depan sebuah foto lama, seolah mencoba memahami manusia di balik sosok politik yang baru saja berdiskusi serius dengannya.

Setelah ia pergi, rumah kembali sunyi.

Wulan memanggilku ke ruang tamu.

“Baron, kamu dengar sendiri maksud mereka,” katanya tanpa basa-basi. “Bahasa kasarnya, jika kita tidak mampu mengurus konflik itu, mereka bisa masuk dengan alasan memerdekakan wilayah tersebut.”

Nada suaranya kini berbeda. Lebih jujur, lebih berat.

“Aku tidak peduli pada sumber daya alamnya,” lanjutnya. “Aku peduli pada rakyat yang setia pada negara. Aku tidak mau mereka saling berhadapan. Korban selalu masyarakat sipil, perempuan, dan anak-anak.”

ADVERTISEMENT

Ia menatapku dalam.

“Kamu urus komunikasi dengan petinggi militer. Termasuk mereka yang punya bisnis di sana. Ekspansi mereka harus dikendalikan.”

Aku hanya mengangguk. Itu bukan sekadar perintah, melainkan amanah yang sarat risiko.

Keheningan kembali turun. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang dipenuhi kesadaran bahwa percakapan ini akan memengaruhi nasib banyak orang.

Di luar, angin berdesir pelan di sela jendela.

Wulan bersandar. Wajahnya tak lagi menunjukkan ekspresi kandidat presiden, melainkan seseorang yang memikul beban kemanusiaan. Pertemuan tadi mungkin telah selesai, tetapi persoalan sebenarnya baru dimulai.

Hari itu aku menyadari, kekuasaan, kemanusiaan, dan kedaulatan bisa bertemu dalam satu titik rapuh. Dan di titik itulah masa depan ditentukan.

Beberapa minggu kemudian, aku menyerahkan undangan pernikahanku yang ketiga kepada Wulan. Dalam hati, ada harapan yang bahkan tak berani kuakui sepenuhnya: mungkin ia akan menunjukkan sesuatu—kecemburuan, keterkejutan, atau setidaknya perubahan ekspresi.

Namun tidak.

“Aku akan hadir di pesta pernikahanmu, Baron,” katanya tenang.

Tidak ada drama. Tidak ada getar suara. Ia hanya menyerahkan selembar kertas berisi agenda pengamanannya menjelang pemilihan presiden.

“Aku berharap kamu tetap loyal setelah menikah,” katanya. “Supaya aku tahu kesetiaanmu bukan karena perasaan pribadi, tetapi karena keyakinan bahwa perubahan memang harus terjadi.”

Kata-kata itu menembus lebih dalam dari yang ia sadari.

Aku pergi ke kamar dan memutuskan mengasingkan diri ke kampung ibuku di Jawa Tengah. Di sana aku menemui Kiai Husein, guru spiritual yang selama ini membimbingku keluar dari dunia gelap politik jalanan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menangis di depannya.

“Mungkin separuh hidup saya di jalanan,” kataku pelan. “Saya melihat banyak ketidakadilan, bahkan menjadi bagian darinya. Tapi sejak mengenal Wulan, ada sesuatu yang berubah. Apa yang sebenarnya terjadi pada saya, Kiai?”

Kiai Husein tersenyum lembut.

“Dalam hidup, kita bertemu seseorang bukan untuk dimiliki,” katanya, “tetapi untuk belajar dan disadarkan.”

Aku terdiam lama.

“Saya jadi ragu dengan pernikahan ini,” kataku. “Apakah saya mencintai, atau hanya mencari sosok Wulan dalam diri perempuan lain?”

Kiai menatapku penuh pengertian.

“Pernikahan adalah komitmen, bukan sekadar keinginan,” ujarnya. “Mintalah petunjuk lewat tahajud. Jika hatimu tenang, itulah jawabannya.”

Selama sebulan aku tinggal di kampung. Semua komunikasi kumatikan. Aku hanya beribadah, berjalan pagi, dan berbicara seperlunya.

Menurut Roni, orang kepercayaanku di Jakarta, Desi berkali-kali menelepon sambil menangis. Ia bahkan datang ke rumah ibuku, memastikan keadaanku.

Wulan berbeda. Ia hanya menitip pesan: semoga aku sehat dan segera kembali karena masa kampanye akan segera dimulai.

Dua perempuan. Dua bentuk cinta. Dua cara peduli.

Aku tetap bertanya-tanya: perbedaan apa yang membuat Wulan selalu menjaga jarak? Mengapa selama lima belas tahun aku hanya bisa menyimpan rindu tanpa pernah benar-benar bersamanya?

Dan di situlah aku mulai memahami, bahwa kisah kami bukan sekadar tentang cinta. Ini tentang idealisme, kekuasaan, luka masa lalu, dan pilihan hidup yang tak selalu bisa dipersatukan.

Cerpen ini terdiri dari 7 bab dan ini adalah bab pertama prolog cerita. Cerita ini terdapat dalam buku siluet cinta, pelagi rindu yang segera akan terbit .

Lagu : Mencintaimu dalam diamku .
Pencipta lagu Gede Jerson
Berdasarkan puisi karya Novita sari yahya

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post

Ramadan, Keadilan Global, dan Agenda Moral Abad ke-21

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com