• Latest
Menggali Makna Banjir

Dari Banjir ke Kebijakan: Sejauh Mana Pemerintah Aceh Menjawab Krisis Ekologi?

Februari 4, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Banjir ke Kebijakan: Sejauh Mana Pemerintah Aceh Menjawab Krisis Ekologi?

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Februari 4, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Artikel, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 4 mins read
0
Menggali Makna Banjir
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abdurrahman

Banjir dan longsor besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 bukan sekadar peristiwa alam yang datang lalu pergi. Ia meninggalkan jejak luka yang panjang, bukan hanya pada bentang alam, tetapi juga pada ingatan kolektif masyarakat. Data sementara yang dihimpun dari berbagai posko darurat, laporan lapangan, dan estimasi lembaga kebencanaan menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa di Aceh diperkirakan telah melampaui seribu orang, dengan ribuan lainnya luka-luka dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat selama berminggu-minggu.

Wilayah seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, dan sebagian kawasan Pidie menjadi daerah yang terdampak paling parah. Permukiman di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) luluh lantak, lahan pertanian terendam, dan akses transportasi terputus. Ribuan rumah rusak—dari ringan hingga hancur total—sementara sekolah, puskesmas, dan rumah ibadah ikut terdampak. Di banyak tempat, masyarakat bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan.

Fenomena serupa juga terjadi di luar Aceh. Sumatera Utara (Tapanuli, Sibolga, Padangsidimpuan) dan Sumatera Barat (Agam, Tanah Datar) mengalami bencana dengan pola yang mirip: banjir bandang, longsor, dan kerusakan besar pada infrastruktur serta lingkungan. Ini menandakan bahwa bencana yang terjadi bukan persoalan lokal semata, melainkan krisis ekologis regional di Pulau Sumatra.

Banjir Bukan Lagi Peristiwa “Biasa”

Aceh memang bukan wilayah yang asing dengan hujan lebat. Namun, ketika banjir datang berulang dengan intensitas dan dampak yang semakin luas, kita perlu bertanya lebih jauh. Curah hujan ekstrem hanyalah pemicu. Yang menentukan besarnya kerusakan adalah kondisi lanskap ekologis di bawahnya.

Hutan yang dulu berfungsi sebagai penyerap air kini semakin menyempit. Daerah hulu sungai yang seharusnya menjadi benteng ekologis perlahan berubah akibat pembukaan lahan, pertambangan, dan alih fungsi kawasan. Ketika hujan turun deras, tanah kehilangan kemampuannya menahan air. Sungai meluap, arus menjadi liar, dan kampung-kampung di hilir menanggung akibatnya.

Dalam konteks ini, banjir tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa alam semata, melainkan sebagai ekspresi dari krisis tata kelola lingkungan.

Respons Cepat, Tetapi Masih Kuratif

Pemerintah Aceh, bersama pemerintah pusat, tentu patut diapresiasi atas respons darurat: evakuasi, distribusi bantuan, pembukaan akses jalan, serta pemulihan infrastruktur dasar. Langkah-langkah ini menyelamatkan banyak nyawa dan membantu masyarakat bertahan dalam masa krisis.

Namun, jika dicermati lebih dalam, pola kebijakan yang muncul masih dominan kuratif—menangani dampak setelah bencana terjadi. Perhatian besar diberikan pada normalisasi sungai, perbaikan tanggul, dan rehabilitasi fisik. Sementara itu, upaya pencegahan yang menyentuh akar persoalan ekologis masih tampak terbatas dan belum menjadi agenda utama.

Pendekatan seperti ini ibarat merawat luka tanpa mengobati penyebab penyakitnya. Bencana boleh reda, tetapi risiko tetap tinggal.

Agenda Lingkungan: Ada, tetapi Belum Menjadi Arah

Dalam dokumen perencanaan pembangunan Aceh, isu lingkungan hidup sebenarnya tidak absen. Istilah pembangunan berkelanjutan, ketahanan ekologi, dan mitigasi bencana kerap muncul. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada keberanian politik untuk menjadikannya kebijakan yang mengikat.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Evaluasi izin pertambangan dan perkebunan di kawasan rawan bencana belum dilakukan secara menyeluruh. Penegakan tata ruang sering kali kalah oleh kepentingan jangka pendek. Akibatnya, lingkungan hidup lebih sering hadir sebagai wacana normatif, bukan sebagai fondasi pengambilan keputusan.

Di sinilah terlihat jarak antara rencana di atas kertas dan realitas di lapangan.

Biaya Ekologi yang Ditanggung Manusia

Kerusakan lingkungan selalu memiliki wajah manusia. Di balik angka korban jiwa dan kerusakan material, terdapat cerita anak-anak yang terputus sekolah, petani yang kehilangan sawah, dan keluarga yang harus memulai hidup dari nol di pengungsian.

Bencana ini juga meninggalkan trauma sosial yang tidak mudah diukur. Kehilangan rasa aman terhadap ruang hidup sendiri adalah kerugian yang sering luput dari perhitungan ekonomi. Ketika rumah, ladang, dan sungai tidak lagi memberi rasa aman, maka krisis ekologis berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Peringatan yang Datang Lebih Dulu dari Publik

Menariknya, peringatan tentang kerusakan ekologis Aceh telah lama disuarakan oleh akademisi, aktivis lingkungan, dan masyarakat sipil. Mereka mengingatkan tentang degradasi hutan, rusaknya DAS, dan lemahnya pengawasan izin. Sayangnya, peringatan ini sering dianggap sebagai suara pinggiran—hingga akhirnya dibuktikan oleh bencana.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sering menjadi sensor paling awal terhadap perubahan lingkungan. Ketika suara-suara ini diabaikan, alam akan berbicara dengan caranya sendiri—dan biayanya selalu mahal.

Dari Pembangunan ke Ketahanan Ekologi

Aceh kini berada di persimpangan penting. Pembangunan tetap dibutuhkan, tetapi tanpa fondasi ekologi yang kuat, pembangunan justru memperbesar risiko bencana. Ketahanan ekologi seharusnya tidak diposisikan sebagai hambatan pembangunan, melainkan sebagai investasi jangka panjang.

Perlindungan kawasan hulu, restorasi hutan dan DAS, evaluasi izin berbasis data ilmiah, serta penegakan tata ruang yang konsisten perlu ditempatkan di jantung kebijakan publik. Tanpa itu, siklus bencana dan pemulihan akan terus berulang.

Penutup: Sebuah Pertanyaan

Setelah air surut dan tenda-tenda pengungsian dibongkar, pertanyaan penting tetap menggantung: apakah Aceh hanya akan terus merespons bencana, atau mulai berani menjawab akar krisis ekologinya?

ADVERTISEMENT

Pilihan ini bukan sekadar teknis kebijakan, melainkan pilihan moral tentang bagaimana kita memperlakukan alam—sebagai sekutu kehidupan, atau sekadar sumber daya yang dieksploitasi hingga batas terakhirnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
Next Post
Serumpun Puisi Zulkifli Hj. Mohd Top@1

Serumpun Puisi Zulkifli Hj. Mohd Top@1

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com