• Latest
Ketika Tiket Menuju Akad Kian Meroket

Ketika Tiket Menuju Akad Kian Meroket

Januari 29, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Tiket Menuju Akad Kian Meroket

Redaksi by Redaksi
Januari 29, 2026
in Aceh, Artikel, Pesta pernikahan, POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
Ketika Tiket Menuju Akad Kian Meroket
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Nasrul Hadi, S.Pd
Guru di SMKN 1 Jeunieb
, Kabupaten Bireun, Aceh

Meroketnya harga emas belakangan ini kembali memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, emas bukan lagi sekadar logam mulia, melainkan simbol yang menentukan layak atau tidaknya sebuah pernikahan dilangsungkan. Banyak calon pasangan merasa pernikahan kian berat dilangkahi, seolah-olah emas menjadi satu-satunya tiket menuju akad.

Ketika harga emas terus meningkat, beban itu pun ikut naik, membayangi niat baik yang seharusnya disambut dengan kemudahan. Padahal, dalam Islam, pernikahan tidak pernah dimaksudkan sebagai ajang pamer kemampuan materi, melainkan jalan ibadah yang dimudahkan dan penuh keberkahan.

Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran makna mahar dalam kehidupan sosial. Mahar yang sejatinya simbol penghormatan dan tanggung jawab, perlahan berubah menjadi ukuran gengsi dan status. Di sejumlah lingkungan, besaran mahar bahkan menjadi bahan perbincangan, perbandingan, dan tekanan sosial yang tidak jarang melukai perasaan calon pengantin. Akibatnya, pernikahan yang seharusnya membawa ketenangan justru diawali dengan kecemasan dan kegelisahan.

Sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia, Ketua MPU Aceh, Tgk Faisal Ali yang akrab disapa Abu Sibreh, memberikan pencerahan saat berkunjung ke Aceh Tengah pada Senin malam (26/1/2026). Dalam penyampaiannya, Abu Sibreh menegaskan bahwa Islam tidak mewajibkan mahar pernikahan harus berupa emas. Penegasan ini menjadi pengingat penting di tengah realitas sosial yang sering kali keliru memaknai mahar. Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan anggapan bahwa kemuliaan pernikahan ditentukan oleh mahal atau tidaknya mahar yang diberikan.

Abu Sibreh, menjelaskan bahwa terdapat dua prinsip utama dalam penentuan mahar menurut ajaran Islam. Pertama, mahar harus berupa sesuatu yang sah dimiliki secara syariat, bukan barang haram atau najis. Kedua, mahar tersebut harus memberikan manfaat bagi perempuan. Jika dua prinsip ini terpenuhi, maka tidak ada ketentuan bahwa mahar harus emas. Apa pun boleh dijadikan mahar, selama bernilai kebaikan dan maslahat bagi pihak perempuan. Penjelasan ini sesungguhnya menempatkan mahar kembali pada ruh dan tujuan aslinya, bukan sebagai beban yang memberatkan.

Dalam kerangka ini, mahar bukanlah beban, bukan pula ukuran harga diri perempuan. Mahar adalah simbol penghormatan, ketulusan, dan tanggung jawab seorang laki-laki kepada calon istrinya. Ketika mahar dipaksakan harus mahal dan mengikuti standar sosial tertentu, pernikahan berpotensi berubah menjadi beban psikologis dan ekonomi. Bahkan, tidak sedikit niat baik yang seharusnya disegerakan justru tertunda, atau lebih buruk lagi, gagal terwujud karena tuntutan yang melampaui kemampuan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Kenyataannya, tekanan sosial tentang mahalnya mahar masih sangat kuat mengakar. Banyak calon pengantin laki-laki merasa berada di persimpangan sulit: antara keinginan menyempurnakan agama dan keterbatasan ekonomi yang mereka miliki.

Di sisi lain, calon pengantin perempuan pun sering kali terjebak dalam ekspektasi lingkungan yang menilai mahar sebagai cermin martabat keluarga. Dalam kondisi harga emas yang terus melambung, realitas ini semakin terasa menyulitkan, terutama bagi masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Padahal, jika menengok kembali sejarah Islam, mahar Rasulullah saw. dan para sahabat dikenal sangat sederhana. Ada yang berupa hafalan Al-Qur’an, ada pula berupa jasa mengajarkan ilmu. Kesederhanaan tersebut tidak mengurangi kemuliaan pernikahan mereka, justru mempertegas bahwa nilai pernikahan terletak pada niat yang lurus, komitmen yang kuat, dan tanggung jawab yang dijalani dengan penuh kesadaran. Sejarah ini seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam dalam memaknai mahar secara lebih bijak dan proporsional.

Dari kenyataan inilah harapan perlu dibangun. Meroketnya harga emas semestinya menjadi momentum refleksi bersama, bukan sekadar keluhan yang berulang. Masyarakat perlu kembali memahami ajaran agama secara utuh, tidak terjebak pada tradisi yang memberatkan dan menjauhkan tujuan pernikahan itu sendiri. Ulama, tokoh adat, dan pendidik memiliki peran penting dalam meluruskan pemahaman ini agar nilai-nilai agama lebih diutamakan daripada gengsi sosial.

Harapannya, mahar tidak lagi dipandang sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai bentuk kesepakatan yang manusiawi, realistis, dan bermakna. Kesederhanaan tidak perlu dipermalukan, karena justru di sanalah letak kejujuran dan keikhlasan. Pernikahan yang diawali dengan kesederhanaan dan saling pengertian memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dalam ketenangan dan keberkahan.

ADVERTISEMENT

Pada akhirnya, pernikahan adalah tentang membangun kehidupan bersama, bukan tentang mempertontonkan kemampuan materi di awal perjalanan. Mahar tidak harus emas, tidak harus mahal, tetapi harus sah secara syariat, bermanfaat bagi perempuan, dan disepakati dengan lapang dada. Dengan cara pandang ini, pernikahan diharapkan kembali menjadi jalan yang lapang bagi siapa pun yang berniat baik, serta benar-benar mengantarkan pasangan menuju tujuan utamanya: membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
Next Post
Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab

Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com