POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 26, 2026
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak guru honorer mengeluh, merasa diperlakukan tidak adil oleh negara. Mereka mengabdi bertahun-tahun dengan berlinang air mata, begitu sulitnya diangkat menjadi pegawai PPPK. Sementara pegawai SPPG yang baru seumur jagung, begitu cepat diangkat sebagai ASN. Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di sebuah negeri yang gemar berpidato tentang masa depan, lahirlah sebuah program yang diperlakukan seperti anak mahkota kerajaan. Namanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia dikawal jenderal, dielus regulasi, dipamerkan ke luar negeri, dan disanjung sebagai fondasi generasi emas. Negara menunduk hormat padanya. Tapi jauh dari panggung megah itu, di ruang-ruang kelas yang catnya mengelupas, tragedi sunyi sedang berlangsung, tanpa kamera, tanpa karpet merah, tanpa tepuk tangan.

Ada 4,21 juta guru di Indonesia pada tahun ajaran 2024/2025. Dari jumlah itu, sekitar 1,6 hingga 1,7 juta masih berstatus honorer. Mereka datang paling pagi dan pulang paling sore. Mereka menulis di papan tulis sambil menghitung sisa beras di rumah. Gaji mereka sering kali hanya Rp300 ribu sampai Rp1 juta per bulan. Ada yang lebih kecil dari uang parkir pejabat dalam sebulan. Namun mereka bertahan, karena di negeri ini, mengajar selalu disebut sebagai pengabdian, kata indah yang sering dipakai untuk menutupi ketidakadilan.

Lalu datanglah SPPG, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, tulang punggung MBG. Lewat Perpres Nomor 115 Tahun 2025, negara membuka jalur cepat menuju surga bernama PPPK. Masa kerja bisa kurang dari satu tahun. Seleksi cukup CAT sederhana. Sekitar 32.000 pegawai inti, kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, diproyeksikan langsung menjadi PPPK. Total ekosistemnya bahkan mencapai 741.985 orang. Negara bergerak cepat, secepat tangan ibu menyuapi anak kesayangannya.

Begitu status PPPK disematkan, angka-angka pun berubah drastis. Berdasarkan Perpres Nomor 11 Tahun 2024, gaji PPPK 2025 dimulai dari Rp1,79 juta hingga Rp5,77 juta per bulan, tergantung golongan. Pegawai inti SPPG umumnya berada di kisaran Rp3 sampai Rp5 juta. Angka-angka itu terdengar seperti dongeng bagi guru honorer yang sudah mengabdi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun. Mereka mengajar anak-anak yang kini makan bergizi gratis, sambil menahan lapar struktural yang tak pernah masuk laporan resmi.

Ironi ini makin pedih ketika dibandingkan dengan perangkat desa. Kepala desa digaji Rp2,42 juta per bulan, sekretaris desa Rp2,22 juta, perangkat lain Rp2,02 juta. Stabil, tapi tak melonjak. Guru honorer? Masih menggantung di langit-langit kebijakan. Negara seperti berkata, mengurus dapur lebih cepat dihargai dari membangun akal.

📚 Artikel Terkait

Sepeda : Kendaraan Ramah Lingkungan yang Kian Populer

Ketika Dedikasi Seorang Guru Bertemu Tanggung Jawab Kepala Sekolah

Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta

Berlayar Melanjutkan Jejak, Meski Nahkoda Telah Berpindah Dermaga

Organisasi guru, PGRI dan forum honorer, telah lama bersuara. Mereka menuntut keadilan, bukan belas kasihan. Mereka tidak menolak MBG, tapi bertanya dengan suara bergetar, mengapa kami selalu yang diminta sabar? Mengapa jalur PPPK kami penuh rintangan, sementara jalur lain dibentangkan seperti jalan tol tengah malam?

Yang paling menyakitkan, MBG belum berlandaskan Undang-Undang. Ia baru berdiri di atas Perpres dan Keppres. Namun perlakuannya sudah seperti hukum abadi. Guru, yang menjadi tulang punggung peradaban, justru masih menunggu pengakuan negara yang mereka layani setiap hari.

Inilah tragedi kita. Anak-anak kenyang, tapi guru mereka lapar. Negara merayakan masa depan, sambil mengorbankan masa kini. Di ruang kelas, air mata tidak jatuh karena sedih semata, tapi karena merasa dilupakan. Di situlah ironi paling kejam bersemayam. Negeri ini memberi makan tubuh anak-anaknya, tetapi membiarkan jiwa para pendidiknya perlahan kelaparan.

Program sebesar apa pun akan kehilangan makna jika dijalankan dengan menyingkirkan keadilan bagi mereka yang paling setia mengabdi. Guru bukan hiasan pidato dan bukan angka di laporan, mereka adalah nadi peradaban. Jika murid dijamin gizinya, maka martabat gurunya wajib dijamin keadilannya.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Tafsir Prediktif Alkitabiah Atas Kejatuhan Islam

Tafsir Prediktif Alkitabiah Atas Kejatuhan Islam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00