POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memahami Kejatuhan Aceh sebagai Pembelajaran Peradaban

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 24, 2026
🔊

Dengarkan Artikel


Kajian Historis, Analitis, dan Futuristik Lintas Generasi

Oleh: Dayan Abdurrahman

Kajian ini tidak lahir dari niat untuk merendahkan Aceh, apalagi melemahkan semangat perjuangan rakyatnya. Sebaliknya, tulisan ini berangkat dari satu keyakinan akademik yang mendasar: setiap peradaban besar yang pernah jatuh menyimpan pelajaran berharga bagi generasi setelahnya. Aceh tidak terkecuali. Memahami kejatuhan Aceh sebagai sebuah proses historis dan struktural bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah, melainkan upaya pematangan kesadaran kolektif agar perjuangan ke depan tidak mengulang kesalahan yang sama dalam bentuk baru.

Dalam ilmu sejarah dan kajian peradaban, kejatuhan tidak pernah dipahami sebagai aib, melainkan sebagai fase transisi. Imperium Ottoman, Dinasti Qing, Kekhalifahan Abbasiyah, hingga kekuatan maritim Eropa pernah mengalami fase kejayaan dan kemunduran. Yang membedakan bangsa yang bangkit dan yang terus terpuruk bukanlah besarnya sejarah masa lalu, melainkan kemampuan membaca sebab-sebab kejatuhan secara jujur dan rasional. Dalam kerangka inilah Aceh perlu dibaca ulang—bukan secara emosional, tetapi secara ilmiah dan bertanggung jawab lintas generasi.

Aceh pada abad ke-16 dan ke-17 merupakan salah satu pusat peradaban Islam dan kekuatan geopolitik di Asia Tenggara. Kesultanan Aceh Darussalam mengendalikan jalur perdagangan strategis, memiliki jaringan intelektual lintas wilayah, serta memainkan peran penting dalam politik kawasan. Namun kajian historis menunjukkan bahwa kekuatan Aceh saat itu sangat bergantung pada posisi geopolitik dan komoditas utama, khususnya perdagangan lada. Ketergantungan ini menjadi kerentanan ketika tatanan ekonomi global berubah akibat ekspansi kolonial Eropa dan pergeseran jalur perdagangan dunia.

Dalam perspektif ekonomi politik historis, Aceh mengalami apa yang disebut vulnerability of mono-commodity power—kekuatan besar yang rapuh karena tidak terdiversifikasi. Ini bukan kesalahan moral, tetapi keterbatasan struktur zaman. Namun, keterbatasan tersebut menjadi titik awal kerentanan ketika Aceh menghadapi kolonialisme yang tidak hanya militeristik, tetapi juga sistemik.

Perang Aceh melawan Belanda tidak bisa dipahami hanya sebagai konflik bersenjata, melainkan sebagai pertemuan antara imperium lama dengan bentuk kekuasaan kolonial modern. Belanda tidak sekadar mengalahkan Aceh secara militer, tetapi menghancurkan fondasi institusionalnya: struktur politik, ekonomi, dan otoritas sosial-keagamaan. Dalam kajian pascakolonial, fase ini disebut sebagai de-institutionalization of indigenous power—pencabutan kapasitas lokal untuk mengatur diri sendiri.

Penting ditegaskan bahwa kehancuran ini bukan karena kelemahan moral orang Aceh, melainkan karena perubahan radikal dalam teknologi, organisasi, dan logika kekuasaan global. Namun pada saat yang sama, fragmentasi internal, konflik elite, dan keterbatasan adaptasi turut mempercepat proses kejatuhan. Di sinilah pelajaran pertama muncul: kejayaan tanpa pembaruan institusional akan rapuh ketika dunia berubah.

Masa kolonial juga menandai awal perubahan relasi Aceh dengan lingkungannya. Sistem adat dan keberlanjutan yang sebelumnya mengatur hubungan manusia dan alam digantikan oleh logika ekstraksi kolonial. Hutan, tanah, dan laut diperlakukan sebagai objek ekonomi semata. Dalam kajian ekologi politik, ini disebut sebagai awal kolonisasi ekologi, yang efek jangka panjangnya baru sepenuhnya terasa pada abad ke-21.

📚 Artikel Terkait

RUMIT

Sejarah Penghancuran Huruf Arab Melayu/Jawi dan Jawoe Oleh Penjajah Eropa

Melihat di Balik Layar: Perang Komentar yang Mengungkap Krisis HIV/AIDS di Indonesia dan Filipina

1000 Sepeda : Mengayuh Menuju Asa “Kayoh Laju Bek Dile Piyoh”

Ketika Indonesia merdeka, Aceh memasuki fase baru. Harapan akan keadilan, pengakuan sejarah, dan otonomi tumbuh kuat. Namun negara pascakolonial menghadapi tantangan besar: membangun kesatuan dari wilayah-wilayah yang sangat beragam. Dalam proses ini, Aceh sering diperlakukan dengan pendekatan administratif dan keamanan, bukan sebagai entitas sejarah dengan kebutuhan rekonstruksi khusus. Reduksi Aceh dari pusat peradaban menjadi wilayah administratif menciptakan jarak psikologis dan struktural.

Konflik politik yang muncul pascakemerdekaan—baik DI/TII maupun GAM—tidak dapat dilepaskan dari kegagalan membangun integrasi yang bermartabat. Namun kajian ini perlu menegaskan satu hal penting: konflik adalah gejala, bukan solusi peradaban. Ia lahir dari ketidakadilan, tetapi tidak selalu melahirkan kapasitas membangun sistem pasca konflik.

Orde Baru memperdalam kerusakan struktural. Sentralisasi, eksploitasi sumber daya, dan militerisasi menciptakan ketertinggalan multidimensi. Aceh kehilangan momentum membangun sumber daya manusia, institusi sipil, dan basis ekonomi modern. Dalam istilah akademik, Aceh mengalami double marginalization: terpinggirkan secara politik dan terhambat secara pembangunan.

Reformasi dan Perjanjian Helsinki membuka peluang sejarah yang sangat besar. Untuk pertama kalinya, Aceh memiliki ruang fiskal, politik, dan hukum yang luas. Namun peluang ini tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi transformasi peradaban. Banyak energi terserap pada konsolidasi kekuasaan, sementara agenda membangun sistem ekonomi, pendidikan, dan ekologi berkelanjutan tertunda. Aceh memasuki fase stabilitas tanpa lompatan peradaban.

Kajian ini tidak bermaksud menyalahkan satu generasi atau kelompok tertentu. Sebaliknya, ia ingin menegaskan bahwa setiap fase sejarah membawa keterbatasannya sendiri. Namun, tugas generasi hari ini adalah membaca keterbatasan itu dengan jujur, agar masa depan tidak dibangun di atas ilusi.

Tujuan utama kajian ini adalah memberikan benang merah lintas masa: bahwa kejatuhan Aceh bukan takdir, dan kebangkitan Aceh tidak akan lahir dari romantisasi masa lalu. Kebangkitan hanya mungkin jika perjuangan diposisikan ulang secara modern, elegan, dan bermartabat—melalui pembangunan institusi, pengetahuan, ekonomi berkelanjutan, dan etika kekuasaan.

Apa yang tidak boleh dilakukan ke depan adalah mengulangi paradigma lama: menjadikan konflik sebagai identitas, atau menjadikan sejarah sebagai alat legitimasi tanpa refleksi. Apa yang harus dilakukan adalah menjadikan sejarah sebagai ruang belajar kolektif. Dalam ilmu peradaban, inilah yang disebut historical consciousness for future-making—kesadaran sejarah untuk membangun masa depan.

Dengan memahami sebab-sebab kejatuhan, Aceh tidak melemah, tetapi justru memperkuat fondasi kebangkitannya. Kajian ini adalah undangan intelektual lintas generasi, lintas disiplin, dan lintas pengalaman untuk membangun Aceh yang tidak terjebak nostalgia, tetapi bergerak dengan kesadaran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan zaman.

Di sinilah perubahan sejati dimulai: bukan dari amarah sejarah, tetapi dari kejernihan pemahaman.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Moral Masyarakat dalam Bencana

Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00