• Latest

Damai yang Disalahpahami: Elite Aceh, Otonomi Khusus, dan Krisis Ekologi yang Menguji Masa Depan Aceh

Januari 22, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Damai yang Disalahpahami: Elite Aceh, Otonomi Khusus, dan Krisis Ekologi yang Menguji Masa Depan Aceh

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Januari 22, 2026
in Aceh, Artikel, Damai, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh hari ini sedang tidak baik-baik saja. Pernyataan bahwa “Aceh aman, Aceh baik-baik saja” terdengar rapi di podium dan siaran pers, tetapi runtuh ketika kita turun ke lapangan. Di setidaknya 16 kabupaten dan kota, krisis ekologi menjelma menjadi bencana kemanusiaan: Aceh Tamiang, Aceh Utara (Langkahan dan Sawang), Pidie Jaya, wilayah daratan tinggi Gayo, hingga kawasan pesisir yang berulang kali dilanda banjir dan longsor. Ini bukan sekadar cuaca ekstrem. Ini adalah akumulasi kebijakan yang salah arah.

Laporan lapangan menunjukkan korban jiwa, rumah rakyat hanyut, sekolah rusak, kantor pelayanan lumpuh, lahan pertanian dan sumber penghidupan musnah. Di banyak tempat, rakyat menyambut bulan suci Ramadhan bukan dengan ketenangan, tetapi dengan kecemasan: kehilangan rumah, kehilangan sawah, kehilangan masa depan. Anak-anak belajar di tenda, orang tua bertahan di pengungsian, sementara narasi resmi masih sibuk menenangkan statistik.

Di titik inilah perdamaian Aceh pasca-Helsinki kembali diuji. Damai selama ini dimaknai terlalu sempit: tidak ada perang, tidak ada tembakan, tidak ada bom. Padahal damai sejati menuntut keselamatan hidup, kepastian ekonomi, dan perlindungan ekologi. Ketika banjir dan longsor menjadi rutin, ketika bencana tidak lagi dianggap luar biasa, maka damai kehilangan maknanya yang paling dasar.

Otonomi khusus yang seharusnya menjadi instrumen koreksi justru gagal menjawab krisis ini. Dana otsus mengalir, tetapi tidak membangun daya tahan ekologi. Elite Aceh—baik di eksekutif maupun legislatif—terlalu lama memandang damai sebagai fase menikmati hasil. Banyak dari mereka adalah mantan aktivis perjuangan yang dulu hidup dalam keterbatasan dan ketakutan. Namun transisi dari pejuang ke pemimpin negara tidak diiringi dengan pendewasaan visi. Damai disalahartikan sebagai kompensasi, bukan amanah sejarah.

Pada saat yang sama, pemerintah pusat tidak pernah benar-benar melepaskan Aceh dari logika ekstraksi. Di sektor kehutanan, pertambangan, dan energi, izin konsesi tetap dikeluarkan dari Jakarta. Pendekatan pembangunan masih berwatak pengurasan sumber daya. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Republik Indonesia dan para menteri terkait menyampaikan bahwa pembangunan harus berjalan, investasi harus masuk, dan stabilitas harus dijaga. Pernyataan-pernyataan ini sah secara politik, tetapi menjadi problematik ketika tidak disertai perlindungan ekologis yang serius.

Aceh terjepit di antara dua kepentingan: pusat yang mendorong ekstraksi dan elite lokal yang menikmati ruang tawar kekuasaan. Dalam posisi ini, rakyat dan alam menjadi pihak yang paling rentan. Hutan dibuka, daerah aliran sungai rusak, gunung digerus, dan bencana datang sebagai konsekuensi yang terus diulang.

Respons pemerintah terhadap bencana juga menyisakan luka. Penolakan atau keraguan menetapkan status bencana nasional dipersepsi rakyat sebagai pengabaian penderitaan. Negara tampak hadir dalam bahasa administrasi, bukan empati. Ketika rumah hanyut dan korban berjatuhan, perdebatan status terasa dingin dan jauh dari realitas lapangan. Di sinilah kepercayaan publik kembali tergerus.

Narasi elite bahwa “Aceh baik-baik saja” juga diperkuat oleh sebagian tokoh nasional dan daerah yang lebih sibuk menjaga citra stabilitas. Sebaliknya, di ruang digital, netizen terbelah: ada yang bersimpati, ada pula yang sinis dan menyalahkan Aceh atas pilihan sejarahnya. Solidaritas bercampur dengan kebencian. Aceh kembali menjadi objek, bukan subjek penderitaannya sendiri.

Dalam konteks ini, peran aktor moral—termasuk ulama—perlu dikaji ulang. Banyak ulama masih membaca pembangunan dalam bingkai sempit: halal–haram tanpa ekologi, berkat tanpa keberlanjutan. Padahal krisis iklim menuntut tafsir agama yang lebih kontekstual, yang memandang perusakan alam sebagai dosa sosial dan ketidakadilan antargenerasi. Ketika agama gagal hadir dalam isu lingkungan, maka ruang itu diisi oleh logika pasar dan kekuasaan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Aceh hari ini berada dalam fase pasca-konflik sekaligus pasca-iklim. Ancaman tidak lagi datang dari senjata, tetapi dari air bah, longsor, kemiskinan, dan ketimpangan. Jika elite Aceh masih terjebak dalam nostalgia perjuangan dan euforia kekuasaan, maka damai ini rapuh. Konflik masa depan tidak lagi bersenjata, tetapi bersifat ekologis, ekonomi, dan sosial.

Yang paling absen adalah mekanisme evaluasi perdamaian. Tidak ada badan independen yang secara berkala mengukur: apakah damai meningkatkan kualitas hidup? apakah otsus memperkuat daya tahan ekologis? apakah kepemimpinan pasca-konflik cukup matang? Tanpa evaluasi, damai berubah menjadi slogan kosong.

Masyarakat Aceh sendiri juga perlu bercermin. Budaya patronase, pragmatisme politik, dan sikap permisif terhadap kerusakan lingkungan memperlemah kontrol sosial. Ketika bencana dianggap takdir semata, maka kebijakan buruk lolos tanpa perlawanan.

Aceh membutuhkan redefinisi kepemimpinan. Bukan kepemimpinan yang hidup dari romantisme masa lalu, tetapi yang mampu membaca tantangan zaman. Negara juga harus hadir sebagai orang tua yang arif—membimbing, menegur, dan melindungi—bukan sekadar mengatur dari jauh.

Perdamaian Aceh seharusnya bermakna luas: manusia selamat, alam lestari, ekonomi adil, dan martabat terjaga. Jika damai hanya dimaknai sebagai ketiadaan konflik bersenjata, maka Aceh sedang berjalan menuju krisis yang lebih dalam.

Dan sejarah akan kembali bertanya: setelah begitu banyak penderitaan, mengapa Aceh kembali gagal melindungi dirinya sendiri?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Anthropic Launches Claude AI With Enhanced Computer Control

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com