POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ulama, Keadilan, dan Jalan Dewasa Aceh di Abad ke-21

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 20, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Setiap fase sejarah Aceh selalu memiliki aktor penentu arah. Pada masa kolonial, ulama memimpin perlawanan. Pada masa konflik, sebagian masyarakat menggantungkan harapan pada kekuatan bersenjata. Pada masa damai, Aceh justru menghadapi tantangan yang lebih sunyi tetapi menentukan: siapa yang memimpin arah moral dan rasional perjuangan Aceh hari ini.

Pertanyaan ini penting, karena Aceh bukan wilayah tanpa identitas. Islam telah menjadi basis nilai sosial, hukum adat, dan legitimasi publik sejak ratusan tahun lalu. Namun, persoalan Aceh abad ke-21 bukan lagi soal keberanian melawan, melainkan kemampuan menata keadilan secara dewasa dalam dunia yang berubah cepat. Di titik inilah peran ulama perlu dibaca ulang—bukan sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai aktor etik masa depan.

Ulama dalam Sejarah Aceh: Dari Perlawanan ke Penuntun Akal

Dalam sejarah Aceh, ulama tidak pernah berdiri di pinggir. Mereka hadir sebagai pemimpin moral sekaligus sosial. Perang Aceh melawan kolonialisme Belanda bukan semata konflik bersenjata, melainkan perlawanan berbasis legitimasi keagamaan dan martabat kolektif. Ulama berfungsi sebagai penyatu emosi rakyat sekaligus pemberi makna atas penderitaan.

Namun, konteks hari ini berbeda secara fundamental. Aceh tidak lagi berada dalam situasi kolonial bersenjata. Tantangannya bukan penjajah fisik, melainkan ketimpangan struktural, tata kelola sumber daya alam, kerusakan lingkungan, dan ketertinggalan kapasitas manusia. Jika peran ulama tetap dibingkai dengan logika lama—emosional, simbolik, dan reaktif—maka Islam justru berisiko kehilangan relevansi sosialnya.

Sejarah memberi pelajaran penting: setiap zaman menuntut bentuk kepemimpinan yang berbeda. Ulama Aceh hari ini tidak dituntut untuk mengobarkan perang, tetapi menjernihkan arah.

Islam sebagai Etika Keadilan, Bukan Simbol Penolakan Dunia

Aceh sering menyebut dirinya sebagai Serambi Mekkah. Namun, penyebutan ini kerap berhenti pada simbol, bukan substansi. Islam dalam tradisi Aceh sejatinya bukan agama penolak perubahan, melainkan agama yang menata perubahan dengan etika. Prinsip-prinsip seperti keadilan (‘adl), kemaslahatan (maṣlaḥah), dan larangan kerusakan (fasād fi al-arḍ) sangat relevan untuk membaca persoalan Aceh hari ini.

Ambil contoh pengelolaan sumber daya alam. Kerusakan hutan, konflik agraria, dan ketimpangan ekonomi bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan moral publik. Dalam kerangka Islam, eksploitasi yang merugikan masyarakat lokal adalah kezaliman, dan pembiaran terhadap kerusakan ekologis adalah pelanggaran amanah. Di sinilah ulama seharusnya tampil—not to mobilize anger, but to frame injustice as a moral and rational issue.

📚 Artikel Terkait

Menyusuri Tempat Wisata di Spanyol yang Kental Sejarah Islam

Menanti Status Bencana Nasional Untuk Aceh, SUMUT dan SUMBAR

Hari Tani Nasional 2025: Memperjuangkan Marhaen di Tengah Tantangan Pertanian

Berharap Kepada Manusia, Harus Siap Kecewa

Pendekatan ini jauh lebih kuat dan aman dibandingkan narasi konflik atau pemisahan yang tidak lagi memiliki dukungan global. Dunia hari ini tidak berpihak pada siapa yang paling menderita, tetapi pada siapa yang mampu menunjukkan keadilan yang terukur dan kesiapan tata kelola.

Antara Akademisi, Negara, dan Ulama: Siapa Menentukan Arah?

Dalam banyak diskusi publik, suara akademisi sering dianggap sebagai satu-satunya rujukan rasional. Akademisi memang penting, terutama dalam menyediakan data dan analisis kebijakan. Namun, di Aceh, otoritas moral publik tidak sepenuhnya berada di kampus, melainkan di ruang-ruang keagamaan dan sosial.

Karena itu, menempatkan ulama sebagai aktor utama perjuangan etis Aceh bukanlah langkah mundur, melainkan strategi kontekstual. Ulama memiliki modal kepercayaan sosial yang tidak dimiliki oleh banyak aktor lain. Ketika ulama berbicara tentang keadilan fiskal, kerusakan lingkungan, atau tanggung jawab negara, pesan tersebut diterima bukan sebagai agenda politik, tetapi sebagai seruan moral.

Tantangannya tentu tidak kecil. Ulama dituntut untuk keluar dari zona nyaman simbolik dan berani berdialog dengan data, realitas ekonomi, serta perubahan global. Ulama yang menutup diri dari ilmu pengetahuan modern justru melemahkan peran Islam itu sendiri. Sebaliknya, ulama yang mampu mengintegrasikan nilai Islam dengan nalar rasional akan menjadi kekuatan penyeimbang yang sangat dibutuhkan Aceh.

Tantangan Masa Depan: Dari Romantisme ke Kesiapan

Aceh hari ini berada di persimpangan. Romantisme masa lalu masih kuat, tetapi kebutuhan masa depan menuntut kesiapan yang berbeda. Generasi muda Aceh hidup di dunia digital, global, dan kompetitif. Mereka membutuhkan rujukan keislaman yang tidak alergi pada dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya.

Jika ulama mampu memimpin transformasi ini—menjadikan Islam sebagai etika publik yang membimbing tata kelola, bukan sekadar identitas—maka Aceh memiliki peluang besar untuk keluar dari siklus stagnasi. Namun, jika ulama terjebak pada simbol, konflik naratif, dan penolakan terhadap perubahan, Aceh akan terus berjalan di tempat sambil dunia melaju.

Penutup

Perjuangan Aceh abad ke-21 bukan lagi soal mengangkat senjata atau menghidupkan kembali luka lama. Ia adalah perjuangan menata keadilan secara dewasa, dengan Islam sebagai fondasi etik dan rasionalitas sebagai metode. Dalam konteks ini, ulama Aceh memiliki peran strategis yang tidak tergantikan—bukan sebagai aktor konflik, tetapi sebagai penjaga akal sehat kolektif.

Aceh tidak kekurangan sejarah, tidak kekurangan identitas, dan tidak kekurangan iman. Yang dibutuhkan hari ini adalah kepemimpinan moral yang mampu membaca zaman. Jika itu dapat diwujudkan, maka Aceh tidak hanya setia pada masa lalunya, tetapi juga siap menyongsong masa depannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Haul Gus Dur

Haul Gus Dur

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00