POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh dan Strategi Perjuangan Baru: Dari Luka Konflik ke Kriris Ekologi

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 16, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Selama ini banyak pihak menganggap bahwa persoalan Aceh sudah selesai ketika perundingan damai Helsinki disepakati. Diplomasi menutup babak konflik bersenjata, pembangunan dianggap menggantikan operasi militer, dan Aceh disebut kembali ke normalitas. Namun sejarah tidak bekerja sesederhana itu. Dua dekade setelah damai, Aceh justru memasuki babak baru yang jauh lebih sunyi: babak krisis ekologis. Bencana lingkungan datang tanpa suara tembakan, tetapi menumpuk luka sosial yang tidak kalah dalam.

Aceh adalah wilayah yang hidup dengan memori perang, luka tsunami, dan budaya perlawanan. Tetapi hari ini, Aceh berhadapan dengan musuh yang lebih halus: kerusakan hutan, banjir bandang, tambang yang rakus, abrasi pesisir, musim yang tak menentu, sungai yang mengering, dan pangan yang terancam. Di era pasca-konflik, darah rakyat Aceh tidak lagi ditumpahkan oleh peluru, tetapi oleh kebijakan yang mengabaikan alam dan masa depan hidup rakyatnya. Jika dulu rakyat menderita karena konflik bersenjata, kini mereka menderita karena negara membiarkan alam hancur.

Hampir setiap tahun, Aceh mengalami bencana ekologis yang berulang dan semakin parah. Derita ini tidak datang dalam bentuk statistik kering; ia datang melalui kisah-kisah manusia yang kehilangan tempat tinggal, ladang, dan sumber air. Di Aceh Besar, banjir rutin merendam rumah dan sekolah, memutus akses kesehatan. Di Aceh Barat dan Nagan Raya, hutan gambut yang rusak terbakar, menciptakan kabut asap yang mengancam paru-paru anak dan lansia. Di Aceh Selatan dan Subulussalam, longsor menelan pemukiman dan memaksa keluarga mengungsi ketika hujan berkepanjangan mengguyur. Di Aceh Tenggara dan Gayo Lues, sungai meluap membawa batang kayu hasil pembalakan, menghantam jembatan dan memutus jalur ekonomi desa. Di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Pidie, dan Bireuen, banjir merendam sawah, menghancurkan panen, dan mengancam sumber pangan keluarga petani. Sementara di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Utara, cuaca ekstrem merusak kebun kopi dan sayur-sayuran, membuat petani terjerat utang karena hasil panen tidak menutup biaya produksi. Kota Meulaboh, Lhoksukon, dan Blangpidie hampir setiap tahun masuk berita nasional sebagai zona banjir parah, seakan menjadi penanda bahwa alam Aceh sedang memberi peringatan keras.

Di balik setiap banjir dan longsor, ada penderitaan manusia yang sering tidak tertulis. Anak-anak tidak bisa sekolah karena jalan putus; perempuan terpaksa berjalan jauh mencari air bersih; petani kehilangan panen dan masuk jurang hutang; lansia menghadapi kelaparan ketika bantuan terlambat; rumah ibadah rusak diterjang air bah; bahkan kuburan ikut terbongkar ketika tanah longsor. Bencana ekologis di Aceh adalah perang baru yang tidak diakui secara resmi, tetapi dampaknya jelas menghancurkan martabat rakyat. Jika dahulu konflik menghantam psikologi kolektif, kini ekologi menghantam fondasi kehidupan rakyat secara perlahan tapi pasti.

Yang menakutkan, semua ini terjadi ketika Aceh justru menganggap persoalan utamanya hanya soal politik. Narasi-narasi lama tentang referendum atau otonomi sering muncul, tetapi narasi baru tentang masa depan alam dan ekologi Aceh masih kurang diperjuangkan. Padahal di era global hari ini, perjuangan melalui isu politik identitas sudah tidak cukup. Dunia kini lebih sensitif pada isu lingkungan, HAM, dan keberlanjutan. Negara-negara pasca-konflik menangkap perubahan ini dan mengubah strategi perjuangannya dengan sangat cerdas.

Timor Leste adalah contoh terdekat. Setelah berdaulat, perjuangan mereka tidak berhenti. Mereka membuka babak baru melalui negosiasi minyak dan gas di Laut Timor. Isu lingkungan diangkat sebagai moral legitimacy untuk menekan Australia. Itu bukan perang, bukan referendum, melainkan diplomasi sumber daya yang bertumpu pada moralitas lingkungan dan keadilan distribusi.

📚 Artikel Terkait

Amuk Lanting Paring

JNIB: May Day Momemtum Perbaikan Kesejahtraan Buruh

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

RETORIKA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN

Bougainville di Papua New Guinea memperlihatkan pola serupa. Kerusakan tambang Rio Tinto menjadi argumen moral perjuangan bangsa mereka. Plebisit 2019 yang menghasilkan 97,7% dukungan kemerdekaan tidak hanya disokong oleh memori perang, tetapi oleh memori ekologis tentang hutan yang hilang dan tanah adat yang tercemar. Isu lingkungan membuka ruang simpati global yang sulit didapat hanya melalui retorika politik.

Kolombia pasca-perjanjian damai 2016 menyaksikan konflik berpindah dari hutan Amazon ke ruang-ruang diplomasi HAM internasional. Ketika para aktivis lingkungan terbunuh, PBB dan lembaga internasional turun tangan. Dunia mulai melihat bahwa perdamaian tanpa keadilan ekologis hanya ilusi. Dan di Kurdistan-Irak, isu minyak dan kerusakan lingkungan menjadi instrumen diplomasi yang membuat dunia tetap mendengarkan mereka tanpa mereka harus berperang lagi.

Aceh—entah disadari atau tidak—memiliki modal moral yang sangat besar untuk masuk ke arena perjuangan ekologis global. Modal itu terdiri dari tiga lapis: memori konflik panjang, trauma tsunami, dan kekayaan ekologis yang luar biasa. Di atas itu, Aceh memiliki masyarakat adat, ulama kampung, petani kopi, nelayan tradisional, dan perempuan desa yang menjadi penjaga terakhir ruang hidup. Mereka adalah penjaga yang tidak diakui negara, tetapi bertanggung jawab penuh melindungi tanah, air, dan hutan. Mereka juga adalah korban pertama setiap bencana ekologis.

Di sinilah Aceh perlu membaca ulang strategi perjuangannya. Perjuangan ekologis bukan sekadar soal lingkungan; ia menyangkut keadilan sosial, HAM, dan masa depan hidup rakyat. Perjuangan ini juga bersifat inklusif: ia tidak butuh pasukan, tidak butuh elit, tidak butuh ideologi berat. Ia lahir dari dapur-dapur ibu rumah tangga yang kehilangan air bersih, dari petani yang kehilangan panen, dan dari nelayan yang kehilangan jalur tangkap.

Lebih dari itu, perjuangan ekologis membuka ruang komunikasi baru antara Aceh dan dunia. Dunia tidak butuh diterangkan apa itu referendum, tetapi dunia mengerti apa itu banjir, longsor, hutan hilang, dan anak kurang gizi akibat gagal panen. Dunia tidak selalu simpati pada konflik politik, tetapi dunia sangat cepat merespons isu HAM dan lingkungan. Rezim diplomasi internasional sudah berubah: yang dihargai bukan retorika politik, tetapi pembelaan terhadap kehidupan.

Aceh tidak sedang meminta belas kasihan siapa pun. Aceh hanya ingin memastikan masa depannya tidak dihancurkan oleh kerakusan pada hari ini. Damai Helsinki adalah pintu, bukan tujuan. Tujuan sebenarnya adalah kehidupan manusia yang layak, adil, dan berkelanjutan. Jika dulu Aceh berani melawan ketidakadilan melalui konflik, hari ini Aceh harus berani melawan ketidakadilan melalui ekologi.

Perjuangan ini lebih sunyi. Ia tidak menghasilkan headline besar. Namun ia menyelamatkan hidup. Dan justru karena menyelamatkan hidup, perjuangan ini lebih bermartabat daripada perang apa pun.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi

Budaya Ngopi Dalam Perspektif Anak Muda

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00