• Latest

Ekonomi Eksploitatif Indonesia

Januari 13, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ekonomi Eksploitatif Indonesia

Warisan Desain Orde Baru dan Bayang-Bayang Mafia Berkeley.

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Januari 13, 2026
in #Aspirasi, #Brain rot, #Ekonomi, Artikel, Indonesia, Kapitalisme
Reading Time: 7 mins read
0
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Novita Sari Yahya 

Pendahuluan

Ketika menyaksikan cuplikan video TikTok yang menampilkan Wawancara 

Ichsanuddin Noorsy seorang ahli ekonomi, berdiskusi dengan presenter Kompas TV, saya berhenti sejenak dan merenung cukup lama. Pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitatif dan eksploratif terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. 

Pernyataan tersebut seakan merangkum perjalanan panjang ekonomi nasional sejak masa Orde Baru hingga hari ini. Bukan hanya tentang angka pertumbuhan atau stabilitas makro, melainkan tentang cara pandang, paradigma, dan desain ekonomi yang dibangun di atas eksploitasi sumber daya alam serta eksplorasi tenaga kerja dan ruang hidup rakyat.

Ekonomi Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dirancang, dipengaruhi, dan diarahkan oleh kepentingan politik global, elite domestik, serta paradigma pembangunan tertentu. Untuk memahami mengapa eksploitasi menjadi watak dominan, kita perlu menelusuri akar sejarahnya, terutama pada masa Orde Baru ketika arah ekonomi nasional dikonsolidasikan oleh sekelompok teknokrat yang dikenal sebagai Mafia Berkeley.

Lahirnya Paradigma Ekonomi Orde Baru

Setelah pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru pada akhir 1960-an, Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh. Inflasi tinggi, utang luar negeri menumpuk, dan kepercayaan internasional terhadap Indonesia berada pada titik nadir. Dalam situasi tersebut, Presiden Soeharto membuka pintu lebar-lebar bagi para ekonom lulusan Amerika Serikat, khususnya dari University of California, Berkeley.

Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Mafia Berkeley. Mereka menawarkan resep pembangunan berbasis stabilitas makroekonomi, keterbukaan terhadap modal asing, dan integrasi Indonesia ke dalam sistem ekonomi global. Secara teknis, pendekatan ini berhasil menekan inflasi dan memulihkan kepercayaan investor internasional. Namun, keberhasilan jangka pendek tersebut menyimpan persoalan struktural yang kelak menjadi beban berkepanjangan.

Paradigma ekonomi Orde Baru menempatkan pertumbuhan sebagai tujuan utama. Pertumbuhan dianggap sebagai prasyarat bagi kesejahteraan, sementara distribusi dan keadilan sosial diletakkan sebagai efek turunan yang akan terjadi secara otomatis. Dalam praktiknya, logika ini membuka jalan bagi eksploitasi besar-besaran sumber daya alam dan eksplorasi wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di luar jangkauan pasar.

Mafia Berkeley dan Desain Ekonomi Eksploitatif

Mafia Berkeley bukanlah organisasi formal, melainkan jejaring teknokrat yang memiliki pengaruh besar dalam pengambilan kebijakan ekonomi negara. Mereka percaya pada mekanisme pasar, efisiensi, dan rasionalitas ekonomi ala Barat. Negara diposisikan sebagai fasilitator bagi pertumbuhan, bukan sebagai pelindung utama kepentingan rakyat kecil.

Dalam kerangka ini, eksploitasi sumber daya alam dianggap sebagai strategi rasional untuk mengejar pertumbuhan cepat. Hutan ditebang, tambang dibuka, dan tanah-tanah adat dialihfungsikan demi kepentingan investasi. Negara memberikan konsesi besar kepada korporasi, baik nasional maupun multinasional, dengan dalih pembangunan dan penciptaan lapangan kerja.

Namun, eksploitasi ini tidak pernah benar-benar berorientasi pada keberlanjutan. Kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan pemiskinan struktural masyarakat lokal dianggap sebagai biaya yang harus dibayar. Logika ekonomi yang digunakan adalah logika ekstraktif, bukan logika pemulihan atau restorasi.

Eksplorasi Sumber Daya Alam dan Krisis Ekologis

Salah satu dampak paling nyata dari paradigma ekonomi eksploitatif adalah krisis ekologis. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut justru menjadi sasaran eksploitasi tanpa kendali. Hutan tropis ditebang untuk perkebunan monokultur, tambang dikeruk tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, dan wilayah pesisir dieksplorasi untuk kepentingan industri ekstraktif.

Laporan dan kajian dari organisasi lingkungan menunjukkan bahwa eksploitasi sumber daya alam di Indonesia telah melampaui batas keberlanjutan. Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga memperparah krisis iklim, banjir, dan longsor. Dalam konteks ini, ekonomi eksploitatif tidak hanya merugikan generasi sekarang, tetapi juga mengorbankan masa depan.

Paradigma eksploratif yang diwariskan Orde Baru masih terasa hingga kini. Meskipun istilah pembangunan berkelanjutan sering digunakan, praktik di lapangan menunjukkan bahwa logika ekstraksi tetap dominan. Restorasi lingkungan sering kali menjadi slogan, bukan kebijakan nyata yang dijalankan secara konsisten.

Eksploitasi Tenaga Kerja dan Ketimpangan Sosial

Selain sumber daya alam, ekonomi Indonesia juga bersifat eksploitatif terhadap tenaga kerja. Upah murah dijadikan daya tarik utama bagi investor. Buruh diposisikan sebagai faktor produksi yang harus ditekan biayanya demi menjaga daya saing. Dalam jangka pendek, strategi ini memang menarik investasi, tetapi dalam jangka panjang menciptakan ketimpangan sosial yang tajam.

Kebijakan ketenagakerjaan sering kali lebih berpihak pada kepentingan modal daripada perlindungan buruh. Fleksibilitas pasar tenaga kerja diterjemahkan sebagai kemudahan pemutusan hubungan kerja dan minimnya jaminan sosial. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa ekonomi nasional dibangun di atas pengorbanan kelompok rentan.

Ketimpangan yang dihasilkan bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari desain ekonomi yang eksploitatif. Ketika pertumbuhan menjadi tujuan , maka manusia dan alam direduksi menjadi instrumen.

Warisan Orde Baru dalam Ekonomi Kontemporer

Reformasi 1998 memang mengakhiri kekuasaan politik Orde Baru, tetapi tidak sepenuhnya mengubah desain ekonomi yang telah mengakar. Banyak kebijakan ekonomi pascareformasi masih beroperasi dalam kerangka yang sama. Privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi tetap menjadi arah kebijakan.

Krisis ekonomi 1998 justru memperlihatkan rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun secara eksploitatif. Ketergantungan pada modal asing dan utang luar negeri membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak global. Namun, alih-alih melakukan koreksi mendasar, banyak kebijakan pascakrisis justru memperdalam integrasi Indonesia ke dalam sistem ekonomi global yang sama.

Dalam konteks inilah pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitasi dan eksplorasi menjadi relevan. Ia bukan sekadar kritik moral, melainkan diagnosis struktural terhadap arah pembangunan nasional.

Menuju Paradigma Ekonomi Restoratif

Jika ekonomi eksploitatif telah membawa Indonesia pada krisis ekologis dan ketimpangan sosial, maka pertanyaannya adalah ke mana arah perubahan harus dilakukan. Beberapa kalangan mulai mendorong paradigma ekonomi restoratif, yaitu pendekatan yang menempatkan pemulihan lingkungan dan keadilan sosial sebagai tujuan utama.

Ekonomi restoratif menuntut perubahan cara pandang. Alam tidak lagi diperlakukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra hidup yang harus dijaga keberlanjutannya. Pertumbuhan ekonomi tidak diukur semata-mata dari angka PDB, tetapi dari kualitas hidup manusia dan kesehatan ekosistem.

Perubahan ini tentu tidak mudah, karena menyentuh kepentingan besar yang telah lama diuntungkan oleh sistem lama. Namun, tanpa keberanian untuk mengoreksi paradigma, Indonesia berisiko terus terjebak dalam siklus eksploitasi yang merusak.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Penutup

Pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitasi dan eksplorasi bukanlah tudingan kosong. memiliki dasar historis, struktural, dan empiris yang kuat. Desain ekonomi yang dibangun sejak Orde Baru oleh Mafia Berkeley telah membentuk watak pembangunan nasional yang berorientasi pada pertumbuhan cepat dengan mengorbankan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Memahami sejarah ini bukan untuk menolak seluruh capaian masa lalu, melainkan untuk belajar dari kesalahan yang telah terjadi. Indonesia membutuhkan paradigma ekonomi baru yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada manusia serta alam. Tanpa perubahan mendasar, eksploitasi akan terus menjadi harga yang harus dibayar atas nama pembangunan.

Daftar Pustaka.

1. Forest Watch Indonesia. Dari Eksploitasi Menuju Restorasi.

https://fwi.or.id/dari-eksploitasi-menuju-restorasi

2. TB Buruh Membaca. Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia.

https://www.tb-buruhmembaca.com/mafia-berkeley-dan-krisis-ekonomi-indonesia.html

3. Antara News. Mafia Berkeley Gagal Bangun Ekonomi Indonesia.

https://m.antaranews.com/berita/35173/mafia-berkeley-gagal-bangun-ekonomi-indonesia?page=1

4. Indonesiana. Mafia Berkeley, Kelompok Elit yang Pernah Membentuk Wajah Ekonomi Indonesia.

https://www.indonesiana.id/read/182438/mafia-berkeley-kelompok-elit-yang-pernah-membentuk-wajah-ekonomi-indonesia

Profil Novita Sari Yahya

Penulis dan Peneliti

ADVERTISEMENT

Buku yang Diterbitkan:

1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen

2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

3. Novita & Kebangsaan

4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa

5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa

6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri

7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi

8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu

Pemesanan Buku: 089520018812

Lagu Mencintaimu dalam diamku

Pençipta lagu : Gede Jerson

Berdasarkan puisi mencintaimu dalam diamku karya Novita sari yahya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
Next Post

Puisi Puisi Novita Sari Yahya

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com