POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

RedaksiOleh Redaksi
January 9, 2026
Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Kita hidup di dunia yang semakin bising. Bukan oleh mesin atau kendaraan, melainkan oleh manusia yang berlomba-lomba bicara. Semua ingin didengar, namun sedikit yang benar-benar bersedia mendengarkan.

Di usia 20-an, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan broadcasting. Saat itu, menjadi seorang penyiar radio, adalah profesi yang terasa sangat keren.

Sebelum datangnya era tiktok, dulu radio menjadi pilihan setia kawula muda, dari pagi, siang, hingga larut malam, suara penyiar mampu menemani orang jatuh cinta, patah hati, bahkan menemani sopir angkot melawan kantuk. Tak heran, banyak anak muda bermimpi duduk di balik mikrofon, berbicara lantang, percaya diri, dan bisa dikagumi banyak orang dengan kemampuan publik speaking yang jago.

Saya pun ikut terpesona. Ada kekaguman pada keberanian orang-orang yang mampu berkomunikasi, berceloteh panjang lebar, dan menguasai ruang publik hanya dengan suara. Bicara, saat itu, terasa seperti kekuatan. Seolah siapa yang paling lantang, dialah yang paling berarti.

Namun pengalaman hidup pelan-pelan mulai mengajarkan hal lain. Saya mulai memahami bahwa kemampuan berbicara yang tidak diimbangi dengan kemampuan mendengar adalah sebuah cacat komunikasi. Ia bukan keahlian, melainkan ketimpangan. Sebab komunikasi sejatinya bukan monolog yang memuja ego, melainkan dialog yang menuntut kesadaran akan keberadaan orang lain.

Ada kalanya kita harus berbicara. Ada saatnya kita berhenti. Memberi jeda. Memberi ruang. Memberi waktu pada suara-suara lain yang juga ingin didengar.

📚 Artikel Terkait

Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita

Sepucuk Surat Yang Kuterima bersama Bingkisan dan THR Untuk Lebaran Tahun Ini

Raja Di Batas Senja dan Gadis Malang

Mitos Kemenangan Diplomasi Prabowo

Mari kita berkaca pada fenomena yang terjadi di sebuah negara, yang tentu saja bukan negara kita. Negara yang katanya didirikan atas nama suara rakyat. Demokrasi dijunjung tinggi, kebebasan berpendapat diagungkan. Namun dalam praktiknya, suara yang paling sering terdengar justru suara para petingginya.

Rakyat memang diberi hak untuk bersuara, tetapi ketika suara itu keluar, mereka harus berhadapan dengan aparat, intimidasi, bahkan kekerasan. Demokrasi perlahan bergeser menjadi paradoks: kebebasan yang diawasi, suara yang dibungkam dengan dalih ketertiban.
Kita bebas bersuara, tapi tidak benar-benar didengar.

Keputusan pun akhirnya bukan lagi hasil musyawarah atau kehendak bersama, melainkan bentuk hegemoni wacana, di mana yang lebih kuat, lebih dominan, dan lebih vokal memaksakan tafsirnya sebagai kebenaran tunggal.

Demokrasi kehilangan ruhnya dan berubah menjadi kepatuhan yang dipoles dengan narasi partisipasi.
Tentu saja, ini terjadi di negeri orang. Negeri yang jauh di sana. Bukan negeri kita—negeri yang katanya menjamin kebebasan bersuara. (Setidaknya, begitu bunyi kalimat resminya.)

Namun jika kita berkaca lebih dekat, pola serupa sering kita jumpai di lingkungan paling sederhana: di rumah, di ruang kerja, di komunitas, bahkan di lingkar pertemanan. Kemampuan mendengar adalah keterampilan mahal yang semakin langka, terutama di tengah budaya konfrontatif dan hasrat eksistensi yang terus menuntut pengakuan. Semua ingin paling vokal dan dianggap paling benar, namun semakin sedikit yang ingin paham.

Bersuara memang penting. Tetapi ketika terlalu sibuk berbicara, kita kerap lupa bahwa di sekitar kita ada suara-suara lain yang tertahan, tercekik, atau sengaja dipendam karena tak pernah diberi ruang. Ada cerita yang tak selesai karena selalu dipotong. Ada luka yang tak pernah sembuh karena tak pernah didengar.

Mungkin, sesekali, kita perlu mengubah pola itu. Diam. Duduk sejenak. Menunda keinginan untuk cepat-cepat menanggapi dan mulai membiasakan diri mendengarkan, bukan untuk membalas, bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk lebih memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Sebab dari mendengarkan, empati akan tumbuh. Dari empati, kemanusiaan bisa dijaga. Dan dari sanalah komunikasi kembali menemukan maknanya: ketika kata-kata tidak lagi dipakai untuk mendominasi, melainkan untuk lebih memahami.

POTRET Gallery

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Jangan Salahkan Hujan

Ketika Jeritan Korban Bencana Dianggap Berisik: Peran Akademisi sebagai Jembatan dari Desa ke Donor

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00