• Latest
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Redaksi by Redaksi
Januari 2, 2026
in Essay, Sumatera Barat
Reading Time: 5 mins read
0
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Elza Peldi Taher

Tahun baru, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, merayakan tahun baru di kampung halaman, Muara Labuh, Solok Selatan.

Aku pulang karena kakak tertuaku, Asnizar Taher, sakit keras. Sejak aku tiba di Muara Labuh, ia masih terbaring tak sadarkan diri hingga hari ini. Tidak ada percakapan. Tidak ada sapaan. Hanya tubuh yang diam, seolah sedang bernegosiasi pelan dengan waktu. Tahun baru datang bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai penanda betapa rapuhnya hidup, betapa dekat jarak antara kemarin dan kehilangan.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026
Ketika Sumatera Menangis, Sastra Menjadi Saksi

Ketika Sumatera Menangis, Sastra Menjadi Saksi

Maret 8, 2026
Membaca Bencana Dari Kanvas Digital

Membaca Bencana Dari Kanvas Digital

Maret 1, 2026

Sudah lama sekali tidak menyambut pergantian tahun di kampung. Puluhan tahun rasanya. Tahun-tahun berlalu di kota, di perantauan, dalam ritme yang serba cepat dan sering kali riuh. Maka tahun baru kali ini terasa berbeda. Ia datang tanpa kembang api, tanpa hitung mundur, tanpa terompet. Ia hadir dalam sunyi, dalam kecemasan, dalam doa-doa yang ditahan agar tidak terlalu keras berharap.

Hal pertama setibanya di kampung adalah mengunjungi makam ibunda, Saribulan, di Pasir Talang. Pagi hari datang bersama keluarga. Udara masih basah oleh embun. Aku bersimpuh di hadapan pusara yang telah lama mengajarkan arti kehilangan dan ketabahan. Di sana aku menyampaikan sesuatu yang selama ini kusimpan sebagai janji: bahwa amanahnya telah kutunaikan, bahwa aku telah menjalankan ibadah haji.

Di hadapan makam emak, tahun baru kehilangan maknanya sebagai angka. Ia berubah menjadi peristiwa batin. Menjadi dialog sunyi antara anak dan ibu, antara yang masih diberi waktu dan yang telah lebih dulu pulang. Aku tidak meminta apa-apa selain ketenangan dan kekuatan untuk menerima apa pun yang akan datang, termasuk kemungkinan terburuk dalam hidup.

Berbeda dengan kota, di kampung tidak ada perayaan ulang tahun. Tidak pula ada pesta tahun baru. Waktu berjalan seperti biasa. Hari berganti hari tanpa perlu dirayakan. Barangkali karena hidup di kampung terlalu dekat dengan kenyataan: bahwa usia bertambah bukan selalu kabar gembira, dan masa depan tidak selalu menjanjikan kegirangan.

Apalagi belakangan ini, di ranah Minang bencana datang silih berganti. Longsor terjadi di banyak tempat. Jalan terputus. Hujan turun membawa kayu-kayu besar dari hulu. Orang-orang kampung menghadapinya dengan sabar, seolah telah berdamai dengan keterbatasan hidup yang makin terasa berat.
Yang masih dari kampung adalah alamnya. Bukit, sawah, dan pegunungan masih membentang luas. Pemandangan itu membuat siapapun terpana, meski aku sadar: ia tak lagi sehijau dulu. Sungai yang dahulu jernih kini keruh. Airnya membawa lumpur, membawa jejak-jejak kerusakan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Barangkali cara manusia memperlakukan hutan tak jauh berbeda dengan cara kita sering menunda merawat orang-orang terdekat, baru panik ketika semuanya hampir terlambat.

Jalanan pun berubah. Dulu, kuda dengan bendi dan sepeda memenuhi jalan. Orang berjalan kaki sambil saling menyapa. Kini, deru motor dan mobil mendominasi udara. Kampung memang bergerak maju, tetapi ada sesuatu yang tertinggal. Keakraban. Kelambatan yang menenangkan. Kesederhanaan yang tidak tergesa. Ada yang hilang, meski sulit menunjuknya dengan pasti.

Apakah aku masih mengenali kampung ini? Tentu saja. Muara Labuh masih hidup dalam ingatanku. Ia masih terasa sebagai milik. Namun di saat yang sama, kadang merasa hanya tamu. Kawan-kawan masa kecil hampir semuanya merantau. Rumah-rumah banyak yang sunyi. Kampung terasa sepi, meski cinta pada kampung halaman tak pernah benar-benar mati. Jika kampung berubah sedemikian rupa dan keluarga satu per satu pergi, di mana sebenarnya tempat pulang itu?
Hal yang mengagetkan aku saksikan adalah antrian pom bensin yang menular Dimana mana. Mobil perlu antri untuk isi bensin sampai 2-5 jam. Itupun belum tentu dapat. Itu konon telah terjadi sejak setahun terakhir di seluruh Sumatra Barat.

Yang paling menyedihkan sejak aku datang di bandara Minangkabau, mengelilingi kota Padang, sampai akhirnya tiba di Muara Labuh, adalah menyaksikan kerusakan lingkungan yang kian parah. Dimana mana banyak longsor dan potensi longsor.

Di lokasi-lokasi longsor, kayu-kayu besar masih tergeletak memenuhi lereng dan alur sungai. Ia menjadi pemandangan sehari-hari yang menyayat perasaan. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa bencana; ia adalah jejak penebangan yang rakus. Padahal hutan-hutan itu dahulu menjaga kelestarian alam, menahan air, menyejukkan udara, dan memastikan kehidupan tetap seimbang. Menyedihkan melihat bagaimana pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru berubah menjadi ancaman setelah ditebang tanpa kendali. Kayu-kayu besar terbawa arus hujan, menghancurkan rumah, merenggut korban jiwa. Dan ironisnya, banyak kayu itu berasal dari kawasan hutan lindung. Yang seharusnya melindungi, justru melukai. Yang disebut dijaga, justru menjadi sumber petaka.

Dalam khazanah Minangkabau, alam tidak pernah diposisikan sebagai objek yang boleh diperlakukan semaunya. Pepatah lama mengingatkan, Alam takambang jadi guru. Alam yang terbentang adalah pengajar, ia memberi pelajaran tentang batas, keseimbangan, dan akibat. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan sungai dibiarkan rusak, sesungguhnya kita sedang menolak pelajaran itu. Kita memilih lupa, dan lupa sering kali berujung petaka.

Pepatah lain berkata, Sawah ladang bapaga undang, rimbo bapaga adat. Hutan dijaga oleh adat, oleh kesepakatan moral bersama, bukan semata oleh hukum tertulis. Namun hari ini, pagar itu runtuh. Penebangan berlangsung seolah tanpa pengawas. Jika bukan pembiaran, maka itu kegagalan. Jika bukan kegagalan, maka itu kompromi.

Di titik inilah kebijakan kehutanan di Sumatra Barat patut dipertanyakan dengan lebih jujur dan berani. Di atas kertas, regulasi ada. Peta kawasan jelas. Status hutan lindung ditetapkan. Tetapi di lapangan, penebangan berlangsung seolah tanpa mata negara. Negara hadir di meja rapat, tetapi absen di hulu sungai dan lereng bukit.

Yang lebih menyakitkan, ketika bencana datang, yang pertama disalahkan adalah hujan dan alam. Padahal hujan hanyalah pemicu. Akar masalahnya adalah kebijakan yang longgar, pengawasan yang lemah, dan keberanian politik yang tumpul. Para perusak hutan menghilang, sementara warga kampung menanggung lumpur, kehilangan rumah, bahkan kehilangan nyawa.

Karena itu, pulang ke kampung tidak seharusnya berhenti sebagai peristiwa personal. Ia mesti menjadi kesadaran kolektif. Kampung adalah tempat paling indah untuk tinggal jika alamnya dijaga, jika hutannya dihormati, jika sungainya dipelihara. Mencintai kampung tidak cukup dengan rindu dan nostalgia; ia menuntut keberpihakan, keberanian bersuara, dan kesediaan menjaga—meski hasilnya mungkin tak kita nikmati sendiri.

ADVERTISEMENT

Tahun baru ini aku tidak menulis resolusi. Aku menulis kesadaran. Aku pulang bukan hanya untuk menemani yang sakit dan mendoakan yang telah pergi, tetapi juga untuk mengingatkan diriku sendiri: bahwa pulang sejati adalah ikut memelihara.

Tahun baru ini aku tidak meniup terompet. Aku hanya berdoa. Untuk kakak tertuaku yang masih terbaring dalam sunyi. Untuk ibuku yang telah lebih dulu pulang. Untuk kampung yang kucintai agar tidak semakin kehilangan dirinya. Dan untuk diriku sendiri—semoga setiap pulang kelak bukan sekadar singgah, melainkan ikhtiar untuk menjaga.

Muara Labuh 1 Januari 2026

Elza Peldi Taher

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 301x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 231x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 218x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 178x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com