POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 2, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Istri saya berbisik, “Pa, Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi itu keren dikulik.” Saya pun jadi penasaran. Sepuluh pemuda ala Soekarno saja bisa heboh, ini sampai sejuta pemuda. Agar tak penasaran, nikmati narasinya sambil seruput Sekoteng, kebetulan dah lama tak minumnya.

Sukabumi itu biasanya identik dengan mochi. Kenyal, manis, dan diam-diam bikin nagih. Tapi belakangan, kota ini punya satu “mochi” lain yang jauh lebih lengket di kepala, Masjid Sejuta Pemuda. Nama resminya Masjid At-Tin, berdiri tenang di Jalan Lamping, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Tenang dari luar, tapi di dalamnya seperti Curug Sawer saat musim hujan. Deras, hidup, dan bikin orang spontan ingin turun ikut basah.

Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf sekitar 3.000 meter persegi, bangunannya kurang lebih 200 meter persegi, dengan kapasitas sekitar 200 jamaah. Datanya rapi tercatat di Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama. Didirikan tahun 2024, tapi embrionya sudah berdenyut sejak 2021, digerakkan oleh Anggy Firmansyah Sulaiman dan barisan pemuda yang tampaknya lelah menunggu perubahan sambil rebahan. Mereka memilih membangun. Pelan, konsisten, dan tanpa banyak ceramah.

Di kota yang punya Geopark Ciletuh, tempat lempeng bumi pamer lipatan sejarah jutaan tahun, Masjid Sejuta Pemuda seperti lempeng sosial yang bergeser halus tapi berdampak. Ia buka 24 jam. Ya, dua puluh empat jam. Ketika sebagian masjid mengunci pintu rapat-rapat seperti brankas bank, masjid ini justru menyalakan lampu dan berkata, “Masuk saja dulu, urusan taubat belakangan.” Di sini, marbot bukan cuma penjaga sajadah, tapi juga barista. Kopi diseduh gratis. Kalau kafe bisa bikin orang betah berjam-jam tanpa salat, kenapa masjid tak boleh bikin orang betah sambil mendekat kepada Tuhan?

Masjid ini punya ruang belajar, aula indoor dan outdoor, taman, area kreatif, studio live streaming, dapur umum, hingga ruang istirahat untuk musafir. Ribuan porsi makanan dibagikan setiap bulan. Programnya bukan kaleng-kaleng, Masjid Academy yang mendatangkan pemuda dari berbagai daerah, kampus imam, stadium general, diskusi, kajian, hingga Ramadan yang rasanya seperti all you can eat pahala, iftar bersama, iktikaf nyaman, dan suasana yang bikin orang lupa pulang. Masjid ini tidak sekadar mengundang jamaah, tapi merawat mereka.

Lucunya, di saat banyak pihak sibuk bertanya, “Kenapa pemuda jauh dari masjid?”, Masjid Sejuta Pemuda justru bertanya balik, “Apa masjid sudah cukup dekat dengan pemuda?” Pertanyaan ini lebih tajam dari ombak Pelabuhan Ratu saat cuaca sedang jujur-jujurnya. Di sini, religius tidak berarti tegang, dan santai tidak berarti sembrono. Salat jalan, adab dijaga, tapi tawa tetap boleh hidup. Karena iman yang sehat bukan iman yang selalu cemberut.

📚 Artikel Terkait

Mengapa Bangsa Gagal?Analisis Kritis atas Pudarnya Nalar Panjang dan Dangkalan Kesadaran dalam Masyarakat Post-Kolonial

Forum Siti Manggopoh dan Taty Westhoff, Diaspora Belanda: Waspada, Menjawab Kegelisahan Perempuan terhadap AI

Siswa SDIT Muhammadiyah Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya Menebar Kebaikan

Adakah Perempuan Sejati?

Nama “Sejuta Pemuda” memang agak gimana ya, tapi Sukabumi juga terbiasa dengan hal-hal besar. Ciletuh saja disebut geopark kelas dunia. Kenapa masjid tak boleh bermimpi sejuta pemuda? Sejuta di sini bukan angka statistik, tapi doa kolektif. Seperti kebun teh Sukabumi yang hijau tak habis dipandang, masjid ini ingin menumbuhkan generasi yang terus berlapis, satu datang, mengajak yang lain.

Masjid Sejuta Pemuda akhirnya jadi semacam cermin. Ia memantulkan satu pesan yang sederhana tapi menohok, masjid tidak pernah kekurangan pemuda, yang sering kurang hanyalah keberanian pengelolanya untuk berubah. Sukabumi, dengan mochi, curug, laut selatan, dan lempeng purbanya, kini menambah satu ikon baru, masjid yang hidup, lucu, serius, religius, dan bikin kagum. Bukan karena megahnya bangunan, tapi karena beraninya gagasan. Di zaman penuh wacana ini, keberanian semacam itu rasanya lebih langka daripada mochi asli Sukabumi di hari libur.

Langit pagi menyimpan cerita
Sedada waktu makna terasa
Masjid muda cahaya kota
Pemuda tumbuh makna percaya

Jalan sunyi lampu bergetar
Langkah kecil arah tertata
Kopi pekat malam sabar
Iman tegak dalam dada

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (1)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00