• Latest
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Desember 31, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Redaksi by Redaksi
Desember 31, 2025
in #Korban Bencana, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Puisi Bencana, Puisi Essay
Reading Time: 6 mins read
0
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

LEBIH BERAT DIBANDING TSUNAMI ACEH

Oleh Denny JA

(Dalam bencana Sumatra yang menelan lebih dari seribu nyawa, seorang psikolog di pengungsian menyimpulkan: luka batin para korban lebih berat dibanding korban Tsunami Aceh dua puluh satu tahun sebelumnya.)

–000–

Dewi menangis,
air matanya deras sekali,
seperti tanah yang lama kering,
lupa bagaimana caranya bersuara;
ketika hujan pertama datang,
ia menyerah
tanpa perlawanan.

Tangis itu tidak meledak.
Ia tinggal
sebagai garis tipis
di wajah seorang psikolog
yang terlalu lama
mendengar cerita orang lain
tanpa bisa mengubah naskah.

“Aku pernah ke sini,” katanya pelan, seperti orang
yang menyadari kesalahan lama tak pernah benar-benar pergi.

“Aku menangani tsunami Aceh.”

Ia menyeka matanya.
Namun air mata tetap turun—
seolah tubuhnya
lebih jujur
daripada laporan-laporan resmi.

“Yang ini,” katanya lagi,
suara itu hampir pecah
di antara hujan dan kain tenda,
“lebih berat.”

Bukan karena airnya lebih tinggi,
melainkan karena
ia datang
lagi dan lagi,
menjadi sesuatu
yang lama-lama dianggap biasa.

–000–

Hujan kini
tak lagi terasa datang dari langit.
Ia seperti muncul
dari bawah kaki.

Dari peta-peta
yang berubah pelan-pelan,
dari warna hijau hutan,
yang menghilang
tanpa upacara perpisahan.

Setiap tetes membawa cerita kecil:
nama anak yang tak sempat diselamatkan,
buku sekolah yang mengembang basah,
rumah yang hanyut
tanpa tahu
siapa yang lebih dulu
menggunduli hulunya.

Di tenda pengungsian
yang berbau lumpur, plastik,
dan janji yang tak kunjung datang,
Dewi duduk.
Diam.

Ia menjadi lemari tua
penuh berkas,
rapi, berat,
namun jarang dibuka
saat paling dibutuhkan.

Dua puluh satu tahun lalu,
2004,
air tsunami datang
seperti singa.

Ia menyerang sekali,
lalu pergi.

Luka besar,
namun jelas asalnya:
datang dari laut,
kembali ke laut.

Dunia tahu
apa yang harus dilakukan.

–000–

Sekarang berbeda.

Sekarang air datang
seperti tikus kecil:
tak menakutkan,
tak masuk berita besar,
namun tak pernah berhenti
menggerogoti hidup.

Ia datang dari bukit
yang dipotong pelan-pelan,
dari hutan
yang dirayakan saat tumbang,
dari sungai
yang dipersempit
agar kota tampak rapi
di brosur pembangunan.

Setiap hujan
menjadi pertanyaan.
Setiap awan
menjadi peringatan.

“Bu,”
kata seorang gadis kepada Dewi,
“airnya tidak besar.
Tapi kenapa
aku selalu merasa
hidup kami
sebentar lagi
jatuh?”

Dewi tahu jawabannya.
Namun jawaban itu
terlalu besar
untuk ruang terapi.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Maret 22, 2026

Ini bukan trauma
yang jatuh dari langit.
Ini trauma
yang disiapkan pelan-pelan
di ruang rapat berpendingin udara.

Trauma yang tidak berteriak,
hanya duduk di dada,
menunggu hujan berikutnya
untuk bangun kembali.

–000–

Di tenda sebelah,
seorang ayah membentak anaknya karena sendok plastik jatuh.

Bukan sendok yang membuatnya marah,
melainkan hidup
yang tak pernah bertanya
apakah ia masih sanggup.

Air bersih datang
tak menentu.
Toilet hanya ada
setengah jadi,
seperti janji
yang takut diwujudkan.

Bahkan
untuk menyendiri pun,
mereka
tak diberi ruang.

Trauma, pikir Dewi,
bukan hanya luka di kepala.
Trauma adalah
dipaksa tinggal
di tempat
yang kita tahu
akan rusak lagi.

–000–

Di sela konseling,
Dewi menatap sungai
yang meluap perlahan,
seperti orang tua
yang terlalu sering
dikhianati.

Ia teringat peta-peta
di meja kebijakan:
hutan dipotong
bagai kalimat yang dianggap tak penting.

ADVERTISEMENT

Bukit dikupas
menjadi kulit mati,
padahal di situlah
air dulu bisa ditahan.

Air, kini ia mengerti,
tak pernah berniat jahat.
Ia hanya berjalan
mengikuti ruang
yang kita rusak sendiri.

Bencana ini
bukan amarah alam.
Ia hasil dari
keserakahan
yang lupa belajar
berhenti.

–000–

Malam itu,
di buku catatan
yang lembap oleh hujan,
Dewi menulis:

“Ini mungkin tugasku yang terakhir.”

Bukan karena ia tak peduli,
melainkan karena ia lelah
menjahit luka
sementara
luka baru
terus disiapkan.

Ia ingin pulang.
Menjadi manusia biasa,
yang boleh gemetar
tanpa perlu
dihitung
dan diukur.

–000–

Saat Dewi pergi,
hujan turun lagi.
Tidak deras,
hanya cukup
untuk membuat rindu.

Namun hujan kecil
adalah yang paling lama tinggal.
Ia datang berkali-kali,
hingga manusia
belajar hidup
dalam cemas
sebagai kebiasaan.

Dan bumi,
tanpa marah,
tanpa ancaman,
berkata pelan:

Aku tidak sedang menghukummu.
Aku hanya mengikuti
pilihanmu.

Itulah sebabnya,
bagi Dewi,
bagi para pengungsi,
bagi anak-anak
yang tidur dengan sepatu di kaki,

bencana ini
lebih berat
dibanding tsunami.

Karena tsunami
datang sebagai tamu
dan pergi.

Yang ini
adalah rumah
yang runtuh
karena kita menyebut
perusakan
sebagai pembangunan,
dan tak pernah tuntas menyebut
siapa yang harus
bertanggung jawab.***

Jakarta, 31 Desember 2025

1) Psikolog menyebut bencana yang menimpa Aceh tahun 2025 lebih parah dibanding Tsunami tahun 2004.

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm28p1m87zyo.amp

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/17SKrwdEtQ/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com