• Latest
Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

Desember 24, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

Redaksi by Redaksi
Desember 24, 2025
in Artikel, Opini
Reading Time: 6 mins read
0
Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Paulus Laratmase

–

Puisi: Tuan Katakan Dusta

Oleh: Dr. Wiratmadinata, SH.,M.H.,

–

Tak apa tuan berdusta

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Pohon pohon itu tumbang karena sudah lapuk dan tua

Meskipun semua bersaksi…

Kayu itu putus rapi karena gergaji

bahkan ada nomornya pula

Tak Apa Karena Tuan Adalah Penguasa

Yang membuat putih jadi hitam

dan yang membuat hitam menjadi putih jua

Tak apa tuan berdusta

Bencana bandang kayu gelondonganitu hanya seram di dalamTV dan medsos saja

Meskipun dunia bersaksidasyatnya petaka

Kampung hilang… Jembatan hancur…

Kota kota terkurung

nyawa hilang dan bayi lapar berminggu minggu lamanya

Tak ada yang menyapa…

Tak apa karena tuan adalah penguasa…

Tak apa tuan katakana…

Ini hanya bencana biasa saja… Jadi bukanlah bencana negara

jadi tak butuh bantuan mancanegara.

Meski dunia tahu… di 18 Kabupaten dan Kota sudah 21 haribantuan pangan tak ada

Ketika rakyat mau bicara

Malah kau tuding… Mereka adalah ancaman kepentinganasing

ADVERTISEMENT

Tuan bilang

Tenang… Semua tersedia

Tapi itu hanya kata kata

Sudah berminggu minggu lamanya BBM langka, gas langka, komunikasi macet, spekulan menaikkan harga dan rakyat tidak lagi berbuat apa apa

Masih juga kau katakan … Semua baik baik saja

Sementara di Menar Meriah, rakyat berjalan ratusan kilo menjual cabe merah ditukar beras untuk selamatkan nyawaanak anaknya

Tak apa kalian bisa bicara suka-suka karena kalian penguasa

dan kami hanya rakyat jelata

Tapi kalian lupa, ini adalah zaman di mana dusta direkamdalam ingatan semesta

dan ketika ia diputar ulang sebagai fakta

maka kalian tak akan bisa lagi berdusta

Tak apa…

Tak apa tuan terus menerus berdusta di tengah keluhkesah, tangis dan doa kaum teraniaya

doa mereka akan menggetarkan pintu aras di mana Tuhanbertahta

Tak apa tuan berdusta

karena tuan adalah penguasa

yang putih bisa kalian hitamkan

dan yang hitam bisa kalian putihkan

Kami rakyat biasa hanya memiliki doa

dan doa ini adalah doa ribuan jiwa, doa jutaan jiwa perlahanmenjadi miliaran doa yang akan menggerakkan tangan Tuhanmengunci mulutmu sampai tak lagi berdusta.

Aceh, Desember 2025

-ooo-

Ada satu kesalahan fatal yang terus berulang dalam cara negara memahami bencana: negara terlalu sering melihatnya sebagai peristiwa administratif, bukan tragedi kemanusiaan. Maka ketika Presiden Prabowo menyatakan bahwa Banjir Sumatera bukan bencana nasional dan karenanya tidak membutuhkan bantuan internasional, sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukanlah kedaulatan, melainkan ego kekuasaan yang menutup mata terhadap penderitaan manusia.

Bicara bencana, sejatinya bukan bicara soal status hukum, apalagi gengsi negara. Bicara bencana adalah bicara tentang manusia yang kehilangan rumah, pangan, akses komunikasi, dan harapan hidup. Relasi yang terbangun dalam bencana bukan relasi antar-negara, melainkan relasi antar-manusia. Manusia ada lebih dahulu dari negara. Negara lahir untuk melindungi manusia bukan sebaliknya.

Ketika negara berdalih bahwa penetapan “bencana nasional” akan membuka pintu intervensi asing, yang sedang dilakukan negara adalah menempatkan kedaulatan di atas kemanusiaan. Ini adalah logika terbalik. Dalam etika kemanusiaan universal, kedaulatan tidak pernah lebih tinggi dari nyawa manusia. Bahkan hukum internasional humaniter dibangun justru untuk memastikan bahwa, pada titik paling gelap peradaban, perang, wabah, bencana, manusia tetap diselamatkan, melampaui batas politik.

Di sinilah puisi “Tuan Katakan Dusta” karya Dr. Wiratmadinata berdiri bukan sebagai sastra semata, melainkan sebagai akta moral terhadap kekuasaan.

“Tak apa tuan berdusta
karena tuan adalah penguasa
yang putih bisa kalian hitamkan
dan yang hitam bisa kalian putihkan”

Puisi ini membongkar watak klasik kekuasaan: menjinakkan realitas dengan kata-kata. Ketika kampung hilang, jembatan runtuh, bayi lapar berminggu-minggu, negara justru berkata: “Ini hanya bencana biasa.” 

Dusta itu adalah kebohongan verbal, bahkan kekerasan simbolik, menyangkal pengalaman korban agar statistik tetap rapi dan wibawa tetap terjaga.

Padahal dunia menyaksikan. Solidaritas internasional bukanlah tudingan ketidakmampuan Indonesia, melainkan refleksi empati global. Ketika manusia Indonesia menangis, seharusnya tangis itu menjadi bahasa universal yang memanggil sesama manusia di dunia untuk menolong. 

Spontanitas bantuan dari luar negeri tidak pernah identik dengan penjajahan. Yang kolonial justru adalah logika kekuasaan yang membiarkan rakyat menderita demi citra negara.

Puisi itu menampar logika negara yang gemar berkata “semua tersedia”, sementara:

“Sudah berminggu-minggu lamanya BBM langka, gas langka, komunikasi macet, spekulan menaikkan harga dan rakyat tidak lagi berbuat apa-apa.”

Di sinilah dusta menjadi struktural. Negara sedang memproduksi narasi tandingan terhadap kenyataan. Ketika rakyat ingin bicara, mereka dituduh sebagai “ancaman kepentingan asing”. Kritik dipersekusi, penderitaan dipolitisasi.

Lebih tragis lagi, ketika rakyat di Bener Meriah harus berjalan ratusan kilometer menjual cabai demi menukar beras untuk menyelamatkan nyawa anak-anak mereka, negara masih berani berkata: “Tenang, semua baik-baik saja.” Di titik ini, negara hadir sebagai penyangkal penderitaan.

Puisi “Tuan Katakan Dusta” mengingatkan bahwa zaman telah berubah. Dusta kekuasaan kini direkam oleh ingatan kolektif dan teknologi, disimpan oleh sejarah, dan kelak diputar ulang sebagai fakta. Negara boleh mengendalikan konferensi pers, tetapi tidak bisa mengendalikan memori rakyat.

Dan ketika semua instrumen politik gagal, rakyat hanya punya satu senjata terakhir: Doa.

“Doa mereka akan menggetarkan pintu aras di mana Tuhan bertahta.”

Doa menjadi peringatan etis: kekuasaan yang menutup telinga terhadap jeritan kemanusiaan sedang menggali delegitimasi moralnya sendiri. Negara yang takut pada bantuan kemanusiaan internasional sesungguhnya sedang takut pada satu hal: pengakuan bahwa ia gagal hadir sepenuhnya bagi rakyatnya.

Maka persoalannya bukan apakah banjir Sumatera layak disebut bencana nasional. Persoalannya adalah: apakah negara masih mau menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan, atau hanya sebagai statistik yang bisa diputihkan dan dihitamkan sesuka penguasa?

Jika kedaulatan dipakai untuk menolak solidaritas kemanusiaan, maka kedaulatan itu telah kehilangan maknanya. Sebab negara yang berdaulat sejati bukan yang paling keras menutup pintu, melainkan yang paling berani membuka diri demi menyelamatkan nyawa manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com