POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya

RedaksiOleh Redaksi
December 24, 2025
Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhamad Irwan

Bencana tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa rangkaian persoalan yang panjang, berlapis, dan kerap tak terlihat di permukaan. Di Aceh, pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, derita itu menjelma dalam bentuk yang beragam: rumah yang rusak, lahan yang hancur, arsip-arsip kehidupan yang luluh lantak, serta tekanan psikologis yang membayangi hari-hari para penyintas.

Di sepanjang lintasan Bireuen, Aceh Utara, Kota Langsa hingga Aceh Tamiang, jejak bencana tampak jelas. Lumpur mengering di dinding rumah, perabotan menumpuk di halaman, dan wajah-wajah lelah menyimpan kisah kehilangan yang belum sempat dituturkan. Bagi sebagian orang, banjir mungkin telah surut. Namun bagi mereka yang tinggal, bencana masih terus berlangsung dalam bentuk keterbatasan, ketidakpastian, dan rasa cemas akan hari esok.

Dalam situasi itulah, empati menemukan jalannya.

Efek Domino Bencana

Hari-hari setelah bencana bukan hanya soal membersihkan lumpur. Aceh menghadapi efek domino yang nyata: listrik padam di banyak tempat, sinyal komunikasi tak menentu, bahan bakar minyak langka, gas elpiji sulit diperoleh, harga kebutuhan pokok merangkak naik, dan tekanan psikologis yang perlahan menggerogoti ketahanan warga. Bencana alam berubah menjadi bencana sosial bila tidak ditangani dengan kepekaan dan kebersamaan.

Di tengah kondisi tersebut, komunikasi dengan dunia luar menjadi terbatas. Namun kabar tentang Aceh tetap sampai kepada sahabat, kerabat, dan kawan lama yang terpisah jarak dan waktu. Dari situlah benih kepedulian tumbuh, berangkat dari percakapan sederhana yang sarat empati.

Beberapa sahabat lama dari Alumni SMANSA Bima, NTB, menghubungi untuk menanyakan kabar: bagaimana keadaan keluarga, bagaimana kondisi Banda Aceh, dan sejauh mana dampak banjir serta longsor yang melanda berbagai daerah. Jawaban yang disampaikan pun apa adanya Aceh sedang berjuang menghadapi efek panjang bencana.

Tak ada keluhan berlebihan. Yang ada hanyalah kejujuran tentang situasi yang dihadapi.

Dari Doa, Lalu Menjadi Ikhtiar

Empati tak selalu lahir dalam bentuk besar. Ia sering bermula dari pertanyaan tulus: “Apa yang bisa kami lakukan?” Jawaban awalnya sederhana: doa. Doa agar Aceh diberi kesabaran, ketabahan, dan kekuatan untuk bangkit.

Namun doa, bagi sebagian orang, adalah pintu menuju ikhtiar. Percakapan itu pun berkembang. Jika memungkinkan, mengapa tidak membantu saudara-saudara yang terdampak secara langsung? Bukan untuk menggantikan peran negara atau lembaga kemanusiaan, melainkan sebagai wujud kepedulian sesama anak bangsa.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Belajar Hidup dari Harimau

MENGGALI IDE BISNIS DI ZAMAN DIGITAL

Selepas Hujan

Dari situlah penggalangan donasi dimulai. Dengan kesadaran penuh bahwa para alumni telah dan akan terus berbagi melalui banyak jalur lembaga amal, relawan, dan jaringan kemanusiaan lain yang juga membantu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan ini bukan tentang siapa paling banyak memberi, melainkan tentang memastikan tak ada yang merasa sendiri.

Perjalanan di Wilayah Terdampak

Pada saat yang sama, kegiatan pendampingan dan perbaikan arsip-arsip yang rusak akibat banjir tetap berjalan. Arsip dokumen kependudukan, catatan tanah, berkas lembaga, hingga dokumen keluarga adalah memori kolektif yang sering luput dari perhatian saat bencana terjadi. Padahal, tanpa arsip, pemulihan pascabencana akan pincang.

Dalam perjalanan memotoring dari satu wilayah ke wilayah lain, menyusuri daerah terdampak, amanah dari sahabat-sahabat alumni SMANSA Bima itu turut dibagikan. Bantuan disalurkan kepada para pengungsi dan warga terdampak, khususnya di sekitar Aceh Tamiang wilayah yang mengalami kerusakan cukup luas.

Bantuan itu mungkin tak mampu menghapus seluruh luka. Namun ia cukup untuk menguatkan: bahwa ada saudara jauh di Bima, NTB, yang ikut merasakan duka Aceh dan memilih hadir, meski dari kejauhan.

Ketika Bantuan Menjadi Penguat Jiwa

Yang dibagikan bukan semata kebutuhan jasmani. Ada pula sentuhan rohani pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada ruang untuk bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Di tenda-tenda pengungsian, di rumah-rumah yang setengah rusak, doa-doa dipanjatkan. Nama-nama para donatur tak selalu disebut, tetapi kebaikan mereka dirasakan.

Ucapan yang paling sering terdengar sederhana namun dalam maknanya:
“Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat.”

Di situlah letak kekuatan solidaritas. Ia tidak berisik, tidak memerlukan panggung besar. Ia hadir dalam bentuk yang paling manusiawi: saling menguatkan.

Aceh, Bencana, dan Keteguhan

Aceh bukan daerah asing dengan bencana. Sejarahnya dipenuhi ujian alam dan sosial yang menempa keteguhan warganya. Dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana setelahnya, Aceh belajar bahwa bangkit bukan hanya soal membangun kembali rumah, tetapi juga memulihkan martabat, ingatan, dan harapan.

Dalam konteks itulah, bantuan sekecil apa pun menjadi berarti. Ia bukan sekadar logistik, melainkan simbol persaudaraan lintas daerah. Dari Bima ke Aceh, dari satu hati ke hati yang lain.

Merawat Empati, Menjaga Harapan

Kisah ini bukan tentang angka, bukan pula tentang siapa memberi kepada siapa. Ini adalah kisah tentang empati yang dirawat, tentang sahabat lama yang tak melupakan, dan tentang keyakinan bahwa Indonesia dibangun oleh solidaritas warganya.

Bencana boleh datang silih berganti. Namun selama empati masih menemukan jalannya, harapan akan selalu punya tempat untuk tumbuh.

Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk saudara kami di Aceh semoga ikhtiar kecil ini menjadi penguat di tengah ujian besar. Dan semoga kita semua, di mana pun berada, selalu diberi kepekaan untuk hadir bagi sesama, bahkan sebelum diminta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00