POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Azharsyah IbrahimOleh Azharsyah Ibrahim
December 21, 2025
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Azharsyah Ibrahim*

Dalam terminologi universal, sehelai kain putih yang diacungkan di medan tempur lazim diartikan sebagai simbol kapitulasi, sebuah isyarat menyerah kalah dan menanggalkan senjata. Namun, bagi masyarakat Aceh, kawasan yang sejarahnya terukir dengan tinta perlawanan abadi, semantik “bendera putih” memiliki resonansi yang jauh melampaui definisi konvensional tersebut. 

Putih, di Serambi Mekkah, bukanlah representasi kekalahan, melainkan sebuah pernyataan kultural, historis, dan teologis yang mendalam tentang martabat, kedaulatan moral, dan, pada puncaknya, penyerahan diri total kepada Sang Pencipta.

Fenomena berkibarnya bendera putih di sejumlah lokasi di Aceh belakangan ini, yang dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap respons negara, khususnya dalam penanganan bencana, tidak boleh dibaca hanya sebagai ekspresi keputusasaan biasa. 

Pemerintah wajib mendekati gejala sosial ini dengan kacamata historis dan psikologis yang jernih, bukan sekadar respons administratif atau retorika defensif. Tanpa pemahaman komprehensif mengenai akar identitas Aceh yang khas—yang ditempa oleh perang panjang dan nilai-nilai keislaman yang mengakar—negara hanya akan terjebak pada solusi permukaan, gagal menyentuh substansi luka dan ketidakpercayaan yang sedang menganga di tengah publik.

Perlawanan Abadi dan Memori Kolektif

Sejarah mencatat, Aceh sebagai wilayah yang memiliki otonomi moral dan militer yang unik. Wilayah ini tidak pernah benar-benar dapat ditundukkan secara penuh oleh kolonialisme. Atjeh Oorlog (Perang Aceh) yang pecah sejak 1873 bukan hanya menjadi konflik terlama yang dihadapi kolonial Belanda di Nusantara, tetapi juga menjadi perang atrisi yang menguras habis kas dan mentalitas serdadu mereka. Bahkan, sejumlah sejarawan menyebutnya sebagai kuburan bagi ambisi kolonial Belanda.

Ketika para sultan dan panglima besar seperti Teuku Umar telah gugur atau ditangkap, api perlawanan rakyat tidak pernah padam, melainkan bertransformasi menjadi serangan sporadis yang bersifat personal dan sangat ideologis. Fenomena ini diabadikan oleh orientalis Christiaan Snouck Hurgronje—penasihat Belanda untuk urusan pribumi—dalam karyanya De Atjehers (Orang Aceh), yang kemudian memunculkan istilah Aceh Pungo (Aceh Gila) atau Atjeh-moord. 

Istilah ini merujuk pada kegilaan perlawanan yang membuat setiap individu rakyat Aceh berpotensi menjadi ancaman mematikan bagi serdadu kolonial. 

Perlawanan ini tidak lagi didominasi oleh strategi militer, melainkan oleh keyakinan teologis-ideologis untuk mencapai martabat syahid.

Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-oorlog (Perang Aceh) menegaskan bahwa konflik di Aceh merupakan beban finansial dan psikologis terbesar sepanjang sejarah Kerajaan Belanda di Hindia Timur. Trauma kolektif inilah yang menjadi penentu sikap Belanda pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Hal ini terkonfirmasi ketika saya berkunjung ke Perpustakaan Universitas Leiden beberapa tahun lalu, seorang kurator menjelaskan bahwa biaya dan korban jiwa Perang Aceh jauh melampaui konflik kolonial lain dan meninggalkan trauma psikologis bagi Kerajaan Belanda. 

Dampak trauma sejarah ini sangat signifikan, ketika NICA (Belanda) kembali ke Indonesia pada tahun 1945, mereka sama sekali tidak berkeinginan kembali ke wilayah Aceh. Secara de facto dan de jure, Aceh saat itu bisa dikatakan sebagai wilayah yang telah berdiri sendiri dan aman dari jangkauan Belanda.

Ironi historisnya, di tengah kondisi seperti itu, para pemimpin dan rakyat Aceh saat itu justru menunjukkan semangat kebersamaan dan keislaman yang tulus terhadap perjuangan Republik Indonesia yang baru seumur jagung. Mereka tidak memilih untuk eksklusif, melainkan menjadi “Daerah Modal” bagi eksistensi negara baru tersebut. 

Rakyat Aceh secara tulus meripee (bersama-sama mengumpulkan donasi) dari seluruh lapisan masyarakat untuk membeli pesawat pertama RI, yakni pesawat Dakota RI-001 “Seulawah”, yang menjadi tulang punggung diplomasi dan perjuangan udara Indonesia.

Tidak hanya itu, Aceh juga mengirimkan sejumlah laskar dan pasukan ke Front Medan Area untuk membantu melawan tentara Belanda. Kontribusi krusial ini menjadikan narasi kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran sentral Aceh. 

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa keikhlasan Aceh sebagai “Daerah Modal,” sejarah awal Republik mungkin akan sangat berbeda dan berakhir lebih dini.

📚 Artikel Terkait

Firman dan Sabina Dinobatkan Menjadi Duta Wisata Lhokseumawe 2023

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Sebelum Filsafat and the Importance of Thinking

Poleang Kampung

Bendera Putih dalam Narasi Teologi

Berdasarkan latar belakang sejarah yang heroik dan penuh pengorbanan tersebut, sangat tidak logis, jika kini masyarakat Aceh mengibarkan bendera putih hanya sebagai tanda “menyerah” pada kesulitan hidup. 

Bendera putih yang muncul di tengah krisis bencana adalah simbol yang jauh lebih politis dan teologis, yaitu mosi tidak percaya yang paling diam dan paling kuat terhadap efektivitas pemerintahan.

Kekecewaan ini dipicu oleh kelambanan dan arogansi struktural negara dalam merespons penderitaan rakyat.Ketika jalur transportasi vital di pegunungan tertutup longsor dan lumpur, memaksa warga berjalan kaki berkilo-kilometer demi mendapatkan bahan makanan pokok, sementara para pejabat tetap nyaman dengan retorika di ruang ber-AC, di situlah nurani publik terkoyak. 

Kemarahan publik mencapai puncaknya ketika hambatan birokrasi, atau bahkan larangan, diberlakukan terhadap pihak asing dan relawan dalam negeri yang berniat memberikan bantuan.

Masyarakat merasakan dibiarkan dalam keterisolasian, dalam proses “mati pelan-pelan.” Dalam konteks ini, bendera putih adalah alarm bahaya. Ia adalah sinyal bahwa rakyat telah mencapai titik nadir dalam mengharapkan aksi konkret dari pemerintah. 

Ketika struktur formal negara dianggap gagal total dalam menjalankan fungsi fundamentalnya, yaitu melindungi segenap bangsa, masyarakat Aceh kembali ke akar fundamentalnya, bertawakkal kepada Allah.

Filosofi ini menjelaskan mengapa ketika tangan-tangan kekuasaan dianggap tidak lagi mampu merengkuh kesulitan rakyat, maka rakyat memilih untuk “melambaikan tangan” kepada langit. Kain putih dikibarkan sebagai tanda pengakuan spiritual: Lā hawla wa lā quwwata illā billāh—tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah semata.

Dimensi spiritual inilah yang menjadi kunci ketangguhan mental kolektif Aceh. Pasca-tragedi Tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Aceh dan merenggut ratusan ribu jiwa, kita tidak pernah mendengar kasus bunuh diri massal akibat depresi kehilangan harta dan keluarga. 

Dalam logika materialisme, kehilangan segalanya dalam sekejap adalah alasan yang kuat untuk mengakhiri hidup. Namun, bagi masyarakat Aceh, “putih” adalah warna kain kafan sekaligus warna kesucian niat. Penderitaan di dunia hanyalah ujian sementara yang harus dihadapi dengan kesabaran. 

Bendera putih, dalam konteks ini adalah manifestasi dari kepasrahan total, ketika harapan kepada manusia telah pupus, maka hubungan vertikal langsung kepada Sang Pencipta menjadi satu-satunya sandaran.

Panggilan untuk Kembali ke Khittah Keadilan

Pemerintah seharusnya merasa malu, bukan malah merasa terancam atau bersikap defensif dengan kibaran bendera putih tersebut. Setiap helai kain putih yang berkibar di pelosok Aceh adalah tamparan keras bagi efektivitas dan empati pelayanan publik. 

Jangan sampai narasi historis “Daerah Modal” yang dulu disumbangkan Aceh dengan penuh keikhlasan, kini berbalas dengan pengabaian yang sistematis dan terstruktur di masa sulit.

Negara harus hadir melampaui sebatas retorika dan janji-janji politik. Solusi yang mendesak adalah aksi nyata seperti perbaikan akses transportasi di daerah bencana, percepatan distribusi logistik, dan penghapusan segala hambatan birokrasi bagi relawan kemanusiaan, baik lokal maupun internasional. 

Jangan biarkan rakyat Aceh merasa terasing dan ditinggalkan di tanah yang mereka perjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan historis.

Melihat bendera putih di Aceh dengan kacamata sempit “menyerah” adalah sebuah kegagalan literasi sejarah dan budaya. Pemerintah dan pemangku kebijakan harus mampu membaca bahwa bendera putih adalah pesan berlapis yang sangat kuat, diantaranya:

Pertama, ia adalah pengingat akan loyalitas historis Aceh yang tidak perlu diragukan, yang harusnya dibalas dengan keadilan. 

Kedua, ia adalah kritik pedas terhadap ketimpangan sosial dan kegagalan birokrasi dalam merespons krisis kemanusiaan. Ketiga, dan yang paling krusial, ia adalah pengingat bahwa rakyat memiliki batas kesabaran. Ketika batas itu terlampaui, mereka akan kembali ke titik nol, yaitu hanya bersandar pada Tuhan, bukan pada janji-janji kekuasaan.

Sudah saatnya retorika diubah menjadi aksi nyata dan empati struktural. Jangan biarkan rakyat yang dulu menjadi donatur kemerdekaan bangsa ini, kini harus mengibarkan bendera putih karena merasa asing dan terlupakan di tanahnya sendiri. 

Bendera putih di Aceh adalah panggilan darurat untuk kembali ke khittah keadilan. Sebab, di balik kain putih yang berkibar itu, tersimpan martabat bangsa yang tak boleh dibiarkan layu oleh pengabaian.

—

*Penulis adalah Guru Besar UIN Ar-Raniry dan pengamat sosial kemasyarakatan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bendera Putih Ini

Bendera Putih Ini

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00