• Latest
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Desember 21, 2025

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Azharsyah Ibrahim by Azharsyah Ibrahim
Desember 21, 2025
in #Menteri Prabowo, #Natural Disaster, #Prabowo, #Sumatera Utara, #Sumbangan Aceh, Aceh, Artikel, Banjir, Banjir bandang, Bencana, jakarta, Kabinet Prabowo, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Opini, pemerintah Aceh,, POTRET Utama, Sumatera Barat
Reading Time: 6 mins read
0
605
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Azharsyah Ibrahim*

Dalam terminologi universal, sehelai kain putih yang diacungkan di medan tempur lazim diartikan sebagai simbol kapitulasi, sebuah isyarat menyerah kalah dan menanggalkan senjata. Namun, bagi masyarakat Aceh, kawasan yang sejarahnya terukir dengan tinta perlawanan abadi, semantik “bendera putih” memiliki resonansi yang jauh melampaui definisi konvensional tersebut. 

Putih, di Serambi Mekkah, bukanlah representasi kekalahan, melainkan sebuah pernyataan kultural, historis, dan teologis yang mendalam tentang martabat, kedaulatan moral, dan, pada puncaknya, penyerahan diri total kepada Sang Pencipta.

Fenomena berkibarnya bendera putih di sejumlah lokasi di Aceh belakangan ini, yang dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap respons negara, khususnya dalam penanganan bencana, tidak boleh dibaca hanya sebagai ekspresi keputusasaan biasa. 

Pemerintah wajib mendekati gejala sosial ini dengan kacamata historis dan psikologis yang jernih, bukan sekadar respons administratif atau retorika defensif. Tanpa pemahaman komprehensif mengenai akar identitas Aceh yang khas—yang ditempa oleh perang panjang dan nilai-nilai keislaman yang mengakar—negara hanya akan terjebak pada solusi permukaan, gagal menyentuh substansi luka dan ketidakpercayaan yang sedang menganga di tengah publik.

Perlawanan Abadi dan Memori Kolektif

Sejarah mencatat, Aceh sebagai wilayah yang memiliki otonomi moral dan militer yang unik. Wilayah ini tidak pernah benar-benar dapat ditundukkan secara penuh oleh kolonialisme. Atjeh Oorlog (Perang Aceh) yang pecah sejak 1873 bukan hanya menjadi konflik terlama yang dihadapi kolonial Belanda di Nusantara, tetapi juga menjadi perang atrisi yang menguras habis kas dan mentalitas serdadu mereka. Bahkan, sejumlah sejarawan menyebutnya sebagai kuburan bagi ambisi kolonial Belanda.

Ketika para sultan dan panglima besar seperti Teuku Umar telah gugur atau ditangkap, api perlawanan rakyat tidak pernah padam, melainkan bertransformasi menjadi serangan sporadis yang bersifat personal dan sangat ideologis. Fenomena ini diabadikan oleh orientalis Christiaan Snouck Hurgronje—penasihat Belanda untuk urusan pribumi—dalam karyanya De Atjehers (Orang Aceh), yang kemudian memunculkan istilah Aceh Pungo (Aceh Gila) atau Atjeh-moord. 

Istilah ini merujuk pada kegilaan perlawanan yang membuat setiap individu rakyat Aceh berpotensi menjadi ancaman mematikan bagi serdadu kolonial. 

Perlawanan ini tidak lagi didominasi oleh strategi militer, melainkan oleh keyakinan teologis-ideologis untuk mencapai martabat syahid.

Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-oorlog (Perang Aceh) menegaskan bahwa konflik di Aceh merupakan beban finansial dan psikologis terbesar sepanjang sejarah Kerajaan Belanda di Hindia Timur. Trauma kolektif inilah yang menjadi penentu sikap Belanda pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Hal ini terkonfirmasi ketika saya berkunjung ke Perpustakaan Universitas Leiden beberapa tahun lalu, seorang kurator menjelaskan bahwa biaya dan korban jiwa Perang Aceh jauh melampaui konflik kolonial lain dan meninggalkan trauma psikologis bagi Kerajaan Belanda. 

Dampak trauma sejarah ini sangat signifikan, ketika NICA (Belanda) kembali ke Indonesia pada tahun 1945, mereka sama sekali tidak berkeinginan kembali ke wilayah Aceh. Secara de facto dan de jure, Aceh saat itu bisa dikatakan sebagai wilayah yang telah berdiri sendiri dan aman dari jangkauan Belanda.

Ironi historisnya, di tengah kondisi seperti itu, para pemimpin dan rakyat Aceh saat itu justru menunjukkan semangat kebersamaan dan keislaman yang tulus terhadap perjuangan Republik Indonesia yang baru seumur jagung. Mereka tidak memilih untuk eksklusif, melainkan menjadi “Daerah Modal” bagi eksistensi negara baru tersebut. 

Rakyat Aceh secara tulus meripee (bersama-sama mengumpulkan donasi) dari seluruh lapisan masyarakat untuk membeli pesawat pertama RI, yakni pesawat Dakota RI-001 “Seulawah”, yang menjadi tulang punggung diplomasi dan perjuangan udara Indonesia.

Tidak hanya itu, Aceh juga mengirimkan sejumlah laskar dan pasukan ke Front Medan Area untuk membantu melawan tentara Belanda. Kontribusi krusial ini menjadikan narasi kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran sentral Aceh. 

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa keikhlasan Aceh sebagai “Daerah Modal,” sejarah awal Republik mungkin akan sangat berbeda dan berakhir lebih dini.

Bendera Putih dalam Narasi Teologi

Berdasarkan latar belakang sejarah yang heroik dan penuh pengorbanan tersebut, sangat tidak logis, jika kini masyarakat Aceh mengibarkan bendera putih hanya sebagai tanda “menyerah” pada kesulitan hidup. 

Bendera putih yang muncul di tengah krisis bencana adalah simbol yang jauh lebih politis dan teologis, yaitu mosi tidak percaya yang paling diam dan paling kuat terhadap efektivitas pemerintahan.

ADVERTISEMENT

Kekecewaan ini dipicu oleh kelambanan dan arogansi struktural negara dalam merespons penderitaan rakyat.Ketika jalur transportasi vital di pegunungan tertutup longsor dan lumpur, memaksa warga berjalan kaki berkilo-kilometer demi mendapatkan bahan makanan pokok, sementara para pejabat tetap nyaman dengan retorika di ruang ber-AC, di situlah nurani publik terkoyak. 

Kemarahan publik mencapai puncaknya ketika hambatan birokrasi, atau bahkan larangan, diberlakukan terhadap pihak asing dan relawan dalam negeri yang berniat memberikan bantuan.

Masyarakat merasakan dibiarkan dalam keterisolasian, dalam proses “mati pelan-pelan.” Dalam konteks ini, bendera putih adalah alarm bahaya. Ia adalah sinyal bahwa rakyat telah mencapai titik nadir dalam mengharapkan aksi konkret dari pemerintah. 

Ketika struktur formal negara dianggap gagal total dalam menjalankan fungsi fundamentalnya, yaitu melindungi segenap bangsa, masyarakat Aceh kembali ke akar fundamentalnya, bertawakkal kepada Allah.

Filosofi ini menjelaskan mengapa ketika tangan-tangan kekuasaan dianggap tidak lagi mampu merengkuh kesulitan rakyat, maka rakyat memilih untuk “melambaikan tangan” kepada langit. Kain putih dikibarkan sebagai tanda pengakuan spiritual: Lā hawla wa lā quwwata illā billāh—tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah semata.

Baca Juga

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Dimensi spiritual inilah yang menjadi kunci ketangguhan mental kolektif Aceh. Pasca-tragedi Tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Aceh dan merenggut ratusan ribu jiwa, kita tidak pernah mendengar kasus bunuh diri massal akibat depresi kehilangan harta dan keluarga. 

Dalam logika materialisme, kehilangan segalanya dalam sekejap adalah alasan yang kuat untuk mengakhiri hidup. Namun, bagi masyarakat Aceh, “putih” adalah warna kain kafan sekaligus warna kesucian niat. Penderitaan di dunia hanyalah ujian sementara yang harus dihadapi dengan kesabaran. 

Bendera putih, dalam konteks ini adalah manifestasi dari kepasrahan total, ketika harapan kepada manusia telah pupus, maka hubungan vertikal langsung kepada Sang Pencipta menjadi satu-satunya sandaran.

Panggilan untuk Kembali ke Khittah Keadilan

Pemerintah seharusnya merasa malu, bukan malah merasa terancam atau bersikap defensif dengan kibaran bendera putih tersebut. Setiap helai kain putih yang berkibar di pelosok Aceh adalah tamparan keras bagi efektivitas dan empati pelayanan publik. 

Jangan sampai narasi historis “Daerah Modal” yang dulu disumbangkan Aceh dengan penuh keikhlasan, kini berbalas dengan pengabaian yang sistematis dan terstruktur di masa sulit.

Negara harus hadir melampaui sebatas retorika dan janji-janji politik. Solusi yang mendesak adalah aksi nyata seperti perbaikan akses transportasi di daerah bencana, percepatan distribusi logistik, dan penghapusan segala hambatan birokrasi bagi relawan kemanusiaan, baik lokal maupun internasional. 

Jangan biarkan rakyat Aceh merasa terasing dan ditinggalkan di tanah yang mereka perjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan historis.

Melihat bendera putih di Aceh dengan kacamata sempit “menyerah” adalah sebuah kegagalan literasi sejarah dan budaya. Pemerintah dan pemangku kebijakan harus mampu membaca bahwa bendera putih adalah pesan berlapis yang sangat kuat, diantaranya:

Pertama, ia adalah pengingat akan loyalitas historis Aceh yang tidak perlu diragukan, yang harusnya dibalas dengan keadilan. 

Kedua, ia adalah kritik pedas terhadap ketimpangan sosial dan kegagalan birokrasi dalam merespons krisis kemanusiaan. Ketiga, dan yang paling krusial, ia adalah pengingat bahwa rakyat memiliki batas kesabaran. Ketika batas itu terlampaui, mereka akan kembali ke titik nol, yaitu hanya bersandar pada Tuhan, bukan pada janji-janji kekuasaan.

Sudah saatnya retorika diubah menjadi aksi nyata dan empati struktural. Jangan biarkan rakyat yang dulu menjadi donatur kemerdekaan bangsa ini, kini harus mengibarkan bendera putih karena merasa asing dan terlupakan di tanahnya sendiri. 

Bendera putih di Aceh adalah panggilan darurat untuk kembali ke khittah keadilan. Sebab, di balik kain putih yang berkibar itu, tersimpan martabat bangsa yang tak boleh dibiarkan layu oleh pengabaian.

—

*Penulis adalah Guru Besar UIN Ar-Raniry dan pengamat sosial kemasyarakatan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 290x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 257x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 220x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 166x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare242Tweet151
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Baca Juga

Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Bendera Putih Ini

Bendera Putih Ini

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com