POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
December 21, 2025
Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Nabi Muhammad SAW menggambarkan masa penuh tipu daya, sanawat khaddaa’at, di mana pendusta dianggap jujur, orang jujur dianggap berdusta, pengkhianat dipercaya, dan orang amanah justru dicap pengkhianat. Di tengah kekacauan nilai itu, muncul sosok yang disebut ruwaibidah: orang hina, kecil, atau bodoh yang tiba-tiba mengurusi urusan publik. Hadis ini bukan sekadar nubuat, melainkan peringatan tentang bagaimana masyarakat bisa terjerumus ketika standar kepemimpinan runtuh.  

Nabi Muhammad SAW pernah menyebut akan datang masa penuh tipu daya, sanawat khaddaa’at, di mana pendusta dianggap jujur, orang jujur dianggap dusta, pengkhianat dipercaya, dan orang amanah dicap pengkhianat. Di masa itu, urusan publik justru diatur oleh ruwaibidah—orang hina dan bodoh yang tiba-tiba tampil sebagai penguasa. Tragedi banjir dan longsor Sumatra 2025 seolah menjadi panggung nyata dari nubuat itu.  

Fenomena yang digambarkan hadis tersebut terasa akrab dalam politik kontemporer. Kita menyaksikan pemimpin yang tidak kompeten, namun tetap berkuasa berkat propaganda dan manipulasi. Korupsi dilembagakan, pengkhianatan terhadap rakyat dianggap strategi, dan kejujuran dipinggirkan sebagai kelemahan. Bahkan bencana lingkungan—banjir, kebakaran hutan, ekosida yang merenggut nyawa—sering kali lahir dari keputusan rezim yang lebih peduli pada rente ekonomi ketimbang amanah publik. Ruwaibidah hari ini tidak lagi tampil sebagai sosok hina yang jelas terlihat, melainkan sebagai figur yang berpenampilan rapi, berbicara dengan jargon modern, namun tetap mengelola negara dengan kebodohan dan tipu daya.  

Dekolonial dan Islamic Studies: Membongkar Tipu Daya  

Kerangka dekolonial menawarkan cara membaca ulang fenomena ini. Ia mengingatkan bahwa banyak sistem politik dan epistemologi yang kita warisi adalah produk kolonialisme, yang menyingkirkan nilai amanah dan keadilan demi kepentingan kekuasaan. Islamic studies, di sisi lain, menyediakan etika normatif yang menekankan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai fondasi kepemimpinan. Ketika keduanya dipadukan, kita memperoleh alat analisis yang tajam: melihat bagaimana rezim kontemporer beroperasi sebagai ruwaibidah modern, sekaligus merumuskan alternatif berbasis nilai keadilan dan amanah.  

Ironi terbesar dari rezim Ruwaibidah adalah bahwa masyarakat sering kali ikut menormalisasi kebohongan. Pendusta dielu-elukan sebagai komunikator ulung, pengkhianat dipuja sebagai pragmatis, dan orang jujur dicap naif. Inilah tragedi politik yang terus berulang: rakyat yang seharusnya menjadi subjek sejarah justru dijadikan objek tipu daya. Hadis Ruwaibidah, jika dibaca dengan serius, bukan sekadar peringatan spiritual, melainkan kritik sosial yang relevan lintas zaman.  

📚 Artikel Terkait

Perkembangan Balita Usia 1-5 Tahun

Isoman Produktif

Sanggar Seni dan Upaya Pelestarian nilai-nilai Budaya

Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang Resmi Luncurkan Antologi Puisi “Negeri Bencana”

Judul artikel ini “Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara” bukan sekadar ejekan, melainkan refleksi atas kenyataan pahit. Kita hidup di era di mana kebodohan bisa dilembagakan, dan tipu daya bisa dijadikan strategi politik. Namun, dengan membaca ulang hadis Ruwaibidah melalui lensa dekolonial dan etika Islam, kita diajak untuk tidak sekadar mengeluh, melainkan merumuskan jalan keluar: membongkar epistemologi kolonial, mengembalikan amanah sebagai nilai dasar, dan menolak normalisasi kebohongan. Karena jika tidak, kita hanya akan terus menjadi penonton dalam panggung sarkasme politik yang tak pernah usai.  

Bencana yang Mencekam di Medsos  

Ketua BNPB menyebut bencana alam di Aceh “hanya mencekam di media sosial.” Pernyataan ini ironis: seakan-akan ribuan korban hanyalah trending topic, bukan kenyataan pahit. Dalam logika ruwaibidah, penderitaan rakyat bisa direduksi menjadi sekadar citra digital, bukan fakta yang menuntut tanggung jawab.  

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan bangga menyatakan bahwa listrik di Aceh sudah hidup 90 persen. Angka itu terdengar meyakinkan, tetapi menutupi kenyataan bahwa banjir bandang dan longsor terjadi akibat kerusakan lingkungan yang dibiarkan selama bertahun-tahun. Inilah gaya khas rezim Ruwaibidah: menyalakan lampu sambil memadamkan hutan.  

Bantuan Malaysia “Tidak Seberapa”  

Mendagri menilai bantuan Malaysia hanya Rp1 miliar dan menyebutnya “tidak seberapa.” Pernyataan ini bukan sekadar angka, melainkan cermin arogansi. Solidaritas internasional diremehkan, sementara negara sendiri gagal menyediakan perlindungan yang layak. Ruwaibidah memang pandai menghitung, tapi hanya untuk merendahkan, bukan untuk membangun.  

Karung Beras dan Jejak Izin Hutan  

Zulkifli Hasan tampil heroik membawa karung beras untuk korban banjir bandang. Namun publik tak lupa bahwa kebijakan kehutanan masa lalunya memberi izin pembukaan hutan yang memperparah kerusakan lingkungan. Gestur karung beras itu menjadi simbol ironis: menolong korban dari bencana yang lahir dari kebijakan tangan sendiri. Ruwaibidah bukan hanya bodoh, tapi juga piawai berakting.  

Tragedi Sumatra 2025 memperlihatkan bagaimana rezim Ruwaibidah bekerja: penderitaan rakyat dijadikan panggung citra, angka dipakai untuk menutupi kerusakan, solidaritas diremehkan, dan karung beras dijadikan alat pencitraan. Hadis Ruwaibidah bukan sekadar nubuat, melainkan kritik sosial yang hidup. Ironinya, kita menyaksikan bagaimana tipu daya dilembagakan, sementara rakyat dibiarkan hanyut bersama lumpur dan banjir.  

POTRET Gallery

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00