• Latest

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 : Kota yang Berjalan Bersama Budayanya

Desember 15, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 : Kota yang Berjalan Bersama Budayanya

Redaksiby Redaksi
Desember 15, 2025
Reading Time: 4 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Emi Suy

Pagi Jakarta pada Minggu, 14 Desember 2025, tidak hanya dibuka oleh langkah kaki warga yang memadati kawasan Monumen Nasional. Pagi itu dibuka oleh ingatan. Ingatan tentang kota yang lahir dari perjumpaan, dari iring-iringan manusia yang berjalan bersama—itulah makna Sarendo-Rendo dalam tradisi Betawi: beramai-ramai, seiring sejalan, tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 menjadi penanda penting bagaimana ruang publik Jakarta kembali dipulangkan pada fungsinya yang paling hakiki: ruang perjumpaan budaya. Dengan rute Monas–Sarinah–Monas, sejak pukul 06.30 hingga 09.00 WIB, jalanan kota berubah menjadi panggung terbuka tempat seni berjalan berdampingan dengan masyarakat.

Ondel-ondel hadir bukan sebagai tontonan eksotis, melainkan sebagai wajah kebudayaan yang hidup. Diiringi musik tradisi, busana Betawi, dan langkah para pelaku seni dari berbagai komunitas, karnaval ini menghadirkan suasana yang akrab, cair, dan meriah. Anak-anak, orang tua, pegiat seni, hingga warga yang tengah menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor, larut dalam irama yang sama: irama kebersamaan.

Partisipasi Asosiasi Ondel-Ondel Indonesia dalam karnaval ini menegaskan bahwa kesenian Betawi bukan sekadar simbol masa lalu, tetapi praktik budaya yang terus bergerak dan dirawat. Kehadiran para seniman, sanggar, dan komunitas budaya menunjukkan bahwa tradisi tidak berdiri sendiri—ia hidup karena dijaga secara kolektif, diwariskan melalui kehadiran, bukan hanya melalui cerita.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dalam memperkuat identitas budaya kota serta memperluas akses masyarakat terhadap seni tradisi dan kontemporer. Dengan menyandingkan karnaval budaya dalam agenda HBKB, seni tidak dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, melainkan dilekatkan kembali pada denyut warga kota.

Sarendo-Rendo mengajarkan bahwa kota besar tidak harus kehilangan akarnya. Di tengah wajah Jakarta sebagai kota global, kebudayaan lokal justru menemukan relevansinya ketika diberi ruang untuk tampil secara terbuka, egaliter, dan merakyat. Budaya Betawi, dalam konteks ini, tidak berdiri sebagai artefak, melainkan sebagai napas kota yang terus menyala.

Pada akhirnya, Karnaval Sarendo-Rendo bukan hanya perayaan visual, melainkan pernyataan sikap: bahwa Jakarta adalah kota yang dibangun dari kebersamaan. Selama warga masih mau berjalan bersama budayanya, selama seni masih diberi ruang untuk hidup di jalanan kota, Jakarta akan tetap memiliki jiwa.

Dan di pagi itu, di bawah langit Monas, Jakarta kembali mengingat dirinya sendiri.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah membersamai perjalanan ini: Abi Anto, RistarGie Artpreneur, Babeh Suyud, Yud Sagita, Kak Inung Nurjanah, Herry Tany, Agus L. Waspada, serta seluruh tim yang bekerja dengan dedikasi dan ketulusan. Kebersamaan inilah yang membuat Lenong Denes tetap hidup dan bertumbuh sebagai rumah kreatif yang saling menguatkan.

Ke depan, harapannya kebersamaan ini semakin solid, kesuksesan terus menyertai, manajemen waktu semakin matang, dan karya-karya yang lahir kian dahsyat. Dengan segala kerendahan hati, permohonan maaf disampaikan apabila selama proses terdapat tutur kata, sikap, atau hal-hal yang kurang berkenan.

Semoga seluruh keluarga besar Lenong Denes Pusaka Budaya senantiasa diberi kesehatan, semangat yang terjaga, dan kelimpahan rezeki—banjir order—semoga seni tradisi terus hidup dan berdaya.

Bismillah, kita sukses bersama di rumah besar kita: Lenong Denes Pusaka Budaya.
Aamiin.

Salam takzim,
Emi Suy 🙏

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
ADVERTISEMENT

KarnavalSarendoRendo

SarendoRendo2025

SarendoRendo

BudayaBetawi

BudayaJakarta

LenongDenes

PusakaBudaya

SanggarPusakaBudaya

MajelisPersilatanBetawi

OndelOndelIndonesia

@sorotan

DisbudDKI

PemprovDKI

JakartaKotaBerbudaya

JakartaKotaGlobaldanBerbudaya

Jakarta500

BeramaiRamai

Kebersamaan

KompakBerkarya

BudayaMenyala

SeniUntukRakyat

HBKB

Monas

SeniTradisi

SeniBetawi

FestivalBudaya

jakarta

bangdoel

disbuddki

DisbudDKI

HBKB

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia

Bencana dalam Perspektif Islam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com