• Latest

Rumah Bu Guru Penuh Lumpur

Desember 13, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Rumah Bu Guru Penuh Lumpur

Redaksiby Redaksi
Desember 13, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Karya Hamdani Mulya

Bu Cut Aminah berdiri di depan rumahnya, matanya merah membengkak menahan air mata. Sungai Krueng Pase yang biasanya tenang, telah berubah menjadi hewan ganas yang meluap dan menyeret semua yang ada di depannya. Rumahnya, yang terletak di tepi sungai, tidak luput dari terjangan banjir. Dinding-dinding rumah retak, perabotan rumah hancur, dan lumpur hitam menutupi setiap sudut rumah.

Bu Cut Aminah merasa hancur. Ia telah mengajar di sebuah SMA Lhokseumawe selama lebih dari 20 tahun, dan rumah ini adalah impian yang telah ia wujudkan dengan susah payah. Suaminya, Cut Bang Ampon, selalu mendukungnya, dan bersama-sama mereka membangun rumah ini dengan cinta.

Setiap hari, Bu Cut Aminah harus pulang pergi dari kampungnya Geudong Pase menuju ke Lhokseumawe untuk mengajar. Ia tidak pernah mengeluh, karena ia tahu bahwa ia memiliki tujuan yang mulia, yaitu mendidik anak-anak Aceh.

Bu Cut Aminah memiliki prinsip bahwa “Guru adalah cahaya di tengah kegelapan.”

Tapi kini, semua itu telah berubah. Bu Cut Aminah merasa seperti kehilangan segalanya. Ia tidak tahu bagaimana akan memulai lagi, bagaimana akan membersihkan rumahnya, dan bagaimana akan menghadapi anak-anak didiknya di sekolah.

Saat banjir, akses jalan keluar dari rumahnya terisolasi. Jaringan listrik dan internet mati total. Bu Cut Aminah merasa seperti terperangkap. Ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa, tidak bisa meminta bantuan. Ia juga harus menahan lapar karena kehabisan makanan pokok di rumahnya.

Cut Bang Ampon muncul dari surau tempat ia mengungsi, wajahnya lelah tapi masih tersenyum. “Aminah, kita akan mulai lagi dari awal,” katanya, memeluk istrinya.

Bu Cut Aminah menangis di pelukan suaminya, merasa bersyukur masih memiliki orang yang dicintainya. Sementara beberapa warga ada sanak kerabat yang meninggal dunia, karena terseret arus banjir. Bu Cut Aminah dan suaminya akan memulai lagi, membersihkan rumah, dan melanjutkan hidup dengan harapan baru.

Keesokan harinya, para teman guru seperti Pak Hasan, Pak Ismail, dan Pak Ahmad, beserta siswanya seperti Mahdi, Saiful, dan Fitri datang ke rumahnya, membawa peralatan membersihkan rumah Bu Cut Aminah. Mereka bekerja keras membersihkan rumah, mengangkat lumpur, dan memperbaiki kerusakan.

“Bu, kami ada di sini untuk Ibu,” kata Mahdi, sambil membersihkan lumpur di ruang tamu.

Bu Cut Aminah tersenyum, merasa bersyukur memiliki orang-orang yang peduli dengan dirinya. Ia merasa seperti memiliki keluarga besar yang selalu mendukungnya.

Selain itu, Bu Cut Aminah juga mendapat bantuan sembako dari warga sekitar dan organisasi kemanusiaan. Mereka membawa beras, minyak, dan bahan makanan lainnya, serta pakaian dan selimut.

Dengan bantuan semua orang, rumah Bu Cut Aminah mulai terlihat seperti semula. Dinding-dinding yang retak telah diperbaiki, perabotan rumah telah diganti, dan lumpur hitam telah diangkat.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Bu Cut Aminah berdiri di depan rumahnya, kali ini dengan senyum lebar. “Terima kasih, Allah,” katanya, sujud syukur. “Terima kasih, teman-teman, dan siswa-siswi yang telah membantu saya.”

Cut Bang Ampon memeluknya, “Kita akan selalu bersama, Aminah. Dan kita akan selalu kuat.”

Bu Cut Aminah merasa bahagia, merasa memiliki keluarga besar yang selalu mendukungnya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ia akan selalu memiliki orang-orang yang peduli dengan dirinya.

Dan dengan itu, Bu Cut Aminah kembali ke sekolah, dengan hati yang lebih kuat, dan semangat yang lebih besar, untuk mengajar anak-anak didiknya, dan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Lhokseumawe, 13 Desember 2005

Riwayat Penulis
Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala (USK). Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Meutuah Diklat, dan Jurnal Al-Huda.

ADVERTISEMENT

Puisinya juga terkumpul bersama penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (2016), Yogja dalam Nafasku (2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM 2017), dan Gempa Pidie Jaya (2017). Selain menulis puisi dan cerpen Hamdani juga menulis artikel pendidikan, sejarah, dan esai bertema lingkungan.

Hamdani Mulya telah berhasil menulis beberapa buku diantaranya berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh dan Wajah Aceh dalam Puisi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2020.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Echoes of a Lost Justice

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com