POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
December 6, 2025
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif

Kamis dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, saat sebagian warga Aceh masih terlelap dalam tidur, air bah tiba-tiba datang menghantam. Keruh, berlumpur, dan melaju kencang bagai tsunami kecil, banjir bandang menerjang sejumlah kecamatan di wilayah aliran Sungai Jambo Aye. Kepanikan tak terelakkan. Ribuan orang berlari menyelamatkan diri, namun sebagian lain tak sempat luput dari maut.

Sumber bencana berasal dari bendungan irigasi Langkahan yang meluap di luar kendali. Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga membuka tabir rapuhnya kesiapsiagaan kita dalam menghadapi risiko alam. Terlebih, wilayah terdampak—khususnya Kecamatan Jambo Aye—nyaris tidak pernah mengalami banjir bandang selama lebih dari tujuh dekade. Rasa aman yang terlalu lama dipelihara tanpa kewaspadaan akhirnya runtuh dalam satu malam.

Bencana yang Tidak Sepenuhnya Alamiah

Banjir bandang sering disebut sebagai musibah alam. Namun, jujur harus diakui, banyak bencana hari ini lahir dari campur tangan manusia sendiri. Kerusakan hutan di hulu sungai, alih fungsi lahan, penyempitan sempadan sungai, serta lemahnya pengawasan infrastruktur air telah mempercepat datangnya malapetaka.

Kawasan resapan yang sejatinya menjadi benteng alami justru tergerus oleh kepentingan jangka pendek. Air hujan yang semestinya meresap ke tanah kini berubah menjadi limpasan besar yang meluncur tanpa kendali ke permukiman warga. Bendungan yang dibangun untuk kesejahteraan, ketika tidak dikelola dengan kehati-hatian, justru menjelma sumber ancaman.

Inilah potret krisis ekologis yang tidak bisa lagi disangkal: ketika alam dirusak, maka alam akan menagih kembali dengan cara yang paling menyakitkan.

Literasi Kebencanaan yang Terlupakan

Fakta bahwa masyarakat di wilayah terdampak tidak siap menghadapi banjir bandang menunjukkan rendahnya literasi kebencanaan. Karena bencana serupa tak pernah terjadi selama puluhan tahun, ancaman dianggap mustahil. Tidak ada simulasi evakuasi, tidak ada jalur penyelamatan yang dipahami bersama, bahkan tidak ada kesadaran bahwa wilayah tersebut sejatinya berada di jalur risiko.

Padahal, dalam perspektif Islam, ikhtiar menjaga diri dari bahaya adalah bagian dari tawakal itu sendiri. Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya tidak bersikap pasrah tanpa usaha. Namun yang terjadi hari ini, kita sering baru tersadar setelah bencana datang.

📚 Artikel Terkait

Jerit Tangis Belantara Leuser

Banda Aceh Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Tingkat Provinsi ke-34 Tahun 2019

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

Tadarus – An-Nahl ayat 10

Dampak Sosial yang Berlapis

Banjir bandang tidak hanya merusak rumah dan harta benda. Ia melumpuhkan sendi-sendi kehidupan: ekonomi terhenti, pendidikan terganggu, kesehatan terancam, dan trauma psikologis membekas dalam-dalam, terutama pada anak-anak.

Lebih jauh, bencana juga menguji solidaritas sosial. Di satu sisi, kita melihat gelombang empati dan tolong-menolong yang menguatkan. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada fakta bahwa tanpa sistem mitigasi yang kuat, masyarakat kecil selalu menjadi pihak yang paling menderita.

Sosialisakan Mitigasi Kebencanaan kepada Masyrakat

Sudah saatnya arah mitigasi bencana tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik seperti tanggul, normalisasi sungai, atau perkuatan bendungan. Upaya tersebut penting, tetapi tidak akan cukup tanpa pendekatan non-struktural yang menyentuh akar persoalan.

Penataan ruang berbasis risiko harus menjadi kebijakan utama, bukan sekadar dokumen perencanaan. Kawasan hutan, rawa, dan sempadan sungai wajib dilindungi sebagai bagian dari “infrastruktur alam” yang menjaga keseimbangan air. Data geospasial dan pemodelan banjir juga harus diperbarui secara akurat agar pembangunan tidak lagi berjalan di atas wilayah rawan.

Di sisi lain, sistem peringatan dini harus dibangun bukan hanya untuk memenuhi standar teknologi, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan warga secara praktis. Informasi bencana harus sederhana, jelas, dan mudah dipahami: kapan bahaya datang, di mana titik rawan, dan apa yang harus dilakukan dalam hitungan menit.

Literasi kebencanaan mesti masuk ke sekolah, meunasah, dan ruang-ruang publik. Edukasi tidak boleh bersifat insidental, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Mengembalikan Etika dalam Mengelola Alam

Banjir bandang Langkahan hendaknya kita maknai sebagai teguran keras agar manusia kembali menempatkan alam secara arif. Dalam ajaran agama, manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga, bukan merusak. Ketika amanah ini diabaikan, maka kerusakan akan datang sebagai konsekuensinya.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi menjadi ikhtiar penting untuk membangun sistem mitigasi yang berbasis sains sekaligus berakar pada nilai kemanusiaan. Namun pada akhirnya, semua itu harus ditopang oleh kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.

Banjir bandang ini bukan semata musibah, tetapi juga peringatan. Pertanyaannya, apakah kita akan kembali lalai setelah air surut, atau benar-benar belajar sebelum bencana berikutnya datang?

(Saya selaku warga yang terkena dampak banjir bandang)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Menggores Asa Pemimpin Politik Baru Aceh

Tontonan Konyol Menolak Bantuan Internasional

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00