• Latest

Nalar Kuasa

November 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Nalar Kuasa

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
November 18, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Don Zakiyamani

Seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Keinginannya memiliki jajanan belum terpenuhi. Ia akan terus melakukan itu hingga keinginannya dipenuhi. Apabila berhasil, ia akan mengulangi taktik itu untuk keinginan berikutnya. Bila gagal, ia akan mengubah strategi. Demikianlah bentuk awal dari will to power yang sudah muncul sejak kecil: dorongan untuk menegaskan diri, mencari cara mendapatkan apa yang diinginkan, dan menguji batas diri di hadapan dunia.

Banyak manusia membawa dorongan itu hingga dewasa. Kita ingin memengaruhi keadaan, mengatur situasi, bahkan kadang mengatur orang lain—meski sering kali kemampuan mengatur diri sendiri justru masih rapuh. Seorang suami yang memukul istrinya, atau seorang atasan yang memarahi bawahan hingga memotong gajinya, adalah contoh bagaimana dorongan untuk berkuasa dapat muncul tanpa diiringi kedewasaan dalam kendali diri.

Nama-nama besar pun tidak lepas dari jebakan ini. Hitler, Mao Zedong, Mussolini, Soeharto—mereka memegang kekuasaan atas jutaan manusia, namun pada akhirnya tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Mereka menjadi tawanan dari rasa takut, ketamakan, dan kecanduan akan dominasi. Kekuasaan yang mereka genggam justru memperlihatkan betapa lemahnya kendali mereka terhadap dorongan-dorongan batiniah.

Mereka sering disalahpahami sebagai contoh will to power, padahal yang mereka tampilkan justru penerapan yang keliru—hasil dari tafsir dangkal dan manipulatif yang dipopulerkan oleh Elizabeth Förster-Nietzsche, adik Nietzsche, demi agenda politik nasionalisme dan otoritarianisme.

Jika merujuk pada Nietzsche sendiri, will to power bukanlah dominasi atas orang lain; bukan kekejaman, bukan pemaksaan, bukan teriakan amarah, bukan tangan besi yang menindas. Will to power adalah kemampuan melampaui diri sendiri, mengubah batas menjadi kemungkinan baru, menjadikan kekurangan sebagai energi kreatif, dan mencipta nilai baru ketika nilai lama sudah membusuk. Dalam aspek tertentu, ini memiliki kemiripan dengan konsep penguasaan diri dalam spiritualitas Islam—bukan tentang menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri. Al-Qur’an memberi isyarat kuat mengenai penguasaan diri ini:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).


Perubahan sejati dimulai dari dalam, bukan dari dominasi terhadap luar. Itulah bentuk kepemimpinan yang lebih sejati. Kepemimpinan bukan semata soal memerintah orang lain, tetapi menjadi pribadi yang sedemikian kuat dalam pengendalian diri sehingga orang lain mengikuti dengan sendirinya.

Nabi Muhammad adalah contoh paling terang: bukan karena paksaan, tetapi karena keteguhan dan integritas diri. Gandhi dan Mandela pun memimpin dengan cara ini: tanpa kekerasan, tanpa dominasi, tetapi dengan kekuatan batin yang menciptakan nilai moral baru—sejalan dengan semangat Nietzsche tentang penciptaan nilai, meskipun berdiri di landasan etika yang berbeda.

Sebaliknya, para diktator tadi memulai dengan ilusi kekuatan namun berakhir sebagai bukti bagaimana seseorang dapat dikalahkan oleh dirinya sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada pemimpin negara. Dalam berbagai ruang sosial—termasuk kalangan ulama, ilmuwan, akademisi, dan guru besar—dorongan berkuasa kadang muncul dalam bentuk halus: memaksakan pendapat, mempertahankan status, atau menghalalkan cara demi pengaruh.

Bagaimana dengan kita? Banyak dari kita mengenali dorongan itu dalam diri masing-masing. Keinginan untuk diakui, didengar, menang dalam perdebatan, atau menguasai situasi bisa tumbuh tanpa terasa. Dalam proses itu, tidak jarang keinginan tersebut justru mengekang diri kita sendiri. Kita mengira sedang kuat, padahal sedang lemah. Kita mengira sedang menguasai, padahal sedang dikuasai keinginan sendiri.

Dan di situlah letak tragedi manusia: kita sibuk mengatur dunia sekitar, sementara diri sendiri jarang benar-benar kita pimpin.

Itu sebabnya Nietzsche mengingatkan: will to power bukan tentang menguasai dunia, tetapi tentang layak tidaknya kita menjadi penguasa bagi diri sendiri. Penguasaan ini membutuhkan latihan tanpa henti. Islam memerintahkan puasa—menahan diri dalam urusan biologis, sosial, dan psikologis; serta mengajarkan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan hibah agar manusia tidak dijajah oleh harta. Untuk lisan, Nabi bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan latihan pengendalian diri tingkat tinggi.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
ADVERTISEMENT

Bila kita yang menguasai informasi, maka selalu ada verifikasi. Berpikir ala saintis: menguji setiap informasi meski informasi itu tampak ilmiah. Proses ini tidak merugikan, justru melindungi. Bahkan air yang kita minum harus melewati beberapa proses sebelum aman dikonsumsi. Kopi sebelum sampai ke meja harus diproses tahap demi tahap.

Kini informasi hadir lebih cepat dari hembusan napas kita. Maka kemampuan berpikir dan memverifikasi harus lebih kuat dari sebelumnya. Dengan demikian, kita mampu menguasai informasi, bukan dikuasai informasi sampai menyebarkan kekeliruan. Berlatihlah menguasai diri sehingga menguasai segala yang di luar diri. Ciptakan nilai baru sehingga hidup lebih bernilai. Karena yang bernilai selalu dicari, di mana pun itu.

Selamat ngopi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: ArtikelFiilsafat
SummarizeShare236Tweet147
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia
Opini

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Perang Iran -Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global
#Perang Dagang

Perang Iran -Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global

Maret 25, 2026
Cerita Perjalanan

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026
Artikel

Ketika Anak Luput dari Kebijakan

Maret 23, 2026
Next Post

Melayarkan Kembali Kapal Kebanggaan

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com