• Latest

Nasionalisme dan Ekologi

November 4, 2025
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Nasionalisme dan Ekologi

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
November 4, 2025
in Analisis, Artikel, Bumi
Reading Time: 7 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Novita Sari Yahya

Bogor, 2 November 2025

Abstrak Editorial

Tulisan ini menelusuri hubungan antara nasionalisme dan ekologi di Indonesia dengan menyoroti pemikiran dr. Sagaf Yahya, tokoh Partai Parindra di Jambi tahun 1940. Dengan pendekatan reflektif, esai ini mengkritisi bergesernya makna cinta tanah air dari kesetiaan agraris menjadi ekonomi ekstraktif. Nasionalisme sejati, dalam pandangan ekologis, bukan hanya soal mempertahankan batas wilayah, tetapi juga menjaga bumi sebagai ruang kehidupan bersama.

Puisi Pembuka

Kesetiaan Lelakiku pada Tanah dan Bumi

Puisi untuk Petani — mengenang dr. Sagaf Yahya

Di antara lumpur dan terik matahari,

lelakiku berdiri tegak,

mengusap keringat dengan tangan berlumpur,

memandang sawah yang menghampar,

seperti kesetiaan pada kekasih yang di cintai.

Dalam diam, ia menanam keyakinan: bahwa tanah adalah cinta yang tumbuh dari kerja,

dan kesetiaan adalah pupuk bagi kehidupan.

Menanam Kesetiaan pada Tanah Air

Bangsa besar tumbuh dari kesetiaan pada tanahnya. Dalam kesadaran agraris Nusantara, tanah bukan benda mati, melainkan bagian dari tubuh sosial bangsa. Dari lumpur sawah dan ladang yang sunyi, lahir etika kesetiaan pada bumi, pada sesama, pada kehidupan.

Di Jambi, cabang Partai Parindra berdiri pada 1940 dengan Dr. Sagaf Yahya sebagai ketua. Arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (1980) mencatat bahwa cabang Parindra di Jambi dibentuk untuk membangkitkan kesadaran rakyat agar mencintai tanah sebagai bagian dari kemerdekaan.

dr. Sagaf Yahya percaya, bangsa tidak akan kuat tanpa petani yang berdaulat atas lahan. Kini, ketika urbanisasi dan alih fungsi lahan makin meluas, pandangan itu menjadi cermin: kedaulatan bangsa berawal dari kedaulatan atas tanah.

Nasionalisme : Dari Parindra ke Krisis Lahan

Parindra, yang didirikan dr. Soetomo pada 1935, menanamkan gagasan kemajuan dan kesetiaan pada rakyat. Namun di daerah agraris seperti Jambi, gagasan itu tumbuh lewat kerja tani dan kehidupan sehari-hari.

Bagi dr. Sagaf Yahya, petani bukan konstituen, melainkan penjaga nilai hidup. Tanah adalah sumber kedaulatan dan kesetiaan. Kini makna itu kian pudar. Tanah dijadikan instrumen keuntungan, bukan ruang kehidupan. Sawah berganti pabrik, hutan menjadi tambang. Arti tanah air bergeser menjadi tanah untuk dijual, air untuk diperdagangkan.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026

Nasionalisme kehilangan akar ekologinya. Kita masih menyanyikan lagu cinta tanah air, tetapi membiarkan tanah itu terbelah dan airnya tercemar.

Ekonomi Ekstraktif dan Krisis Ekologis.

Data Rimba Indonesia (2020) mencatat lebih dari 40 persen hutan alam di Papua dan Kalimantan rusak akibat penebangan dan kebakaran. Kajian Universitas Gadjah Mada (2025) menunjukkan tambang nikel di Raja    Ampat mengancam terumbu karang dan kehidupan laut.

Sementara laporan World Wildlife Fund (2024) memperingatkan bahwa percepatan kerusakan lingkungan menurunkan daya dukung alam terhadap manusia.

Krisis ini bukan hanya ekologis, melainkan moral. Saat tanah diperlakukan sebagai komoditas, manusia kehilangan rasa hormat terhadap bumi. Dari sawah yang subur kita berpindah ke tambang yang gersang; dari gotong royong menuju kompetisi tanpa arah.

ADVERTISEMENT

Bencana sebagai Cermin Bangsa

Kerusakan lingkungan tumbuh dari kebijakan yang memisahkan pembangunan dari etika. Akibatnya, bencana menjadi keseharian nasional:

Banjir dan longsor akibat hilangnya tutupan hutan.

Perubahan iklim lokal memicu kekeringan dan gagal panen.

Konversi lahan pertanian mengancam kedaulatan pangan. 

Spesies endemik Kalimantan dan Papua terancam punah.

Masyarakat adat kehilangan ruang hidup dan identitas.

Bencana ekologis sejatinya bencana moral, tanda manusia abai terhadap bumi yang memberikan ruang untuk kehidupan.

Filantropi Agrikultur

Di tengah krisis, muncul gerakan filantropi agrikultur yang mempertemukan petani, akademisi, dan masyarakat sipil.

Platform seperti Mertani (2025) memperkuat petani melalui data cuaca dan irigasi presisi. Inovasi ini bukan sekadar teknologi, tetapi bentuk empati terhadap bumi.

Gotong royong ekologis menjadi wajah baru nasionalisme memberi kepada bumi agar bumi kembali memberi kepada manusia.

Dari Nasionalisme ke Ekologisme

Jika nasionalisme abad ke-20 berjuang melawan penjajahan, maka abad ke-21 berjuang melawan eksploitasi bumi.

Cinta tanah air kini berarti cinta kepada bumi bukan hanya dalam lagu, tetapi juga dalam tindakan.

Kedaulatan tidak diukur dari kepemilikan sumber daya, tetapi dari kemampuan menjaganya.

Nasionalisme Parindra menemukan bentuk barunya: kesetiaan ekologis. Dari cangkul petani hingga inovasi digital, semuanya mengandung tanggung jawab yang sama menjaga kehidupan.

Menanam Ulang Arti Kesetiaan

Menanam adalah tindakan politik yang sunyi, tetapi revolusioner.

dr. Sagaf Yahya pernah menanam kesetiaan pada tanah di masa kolonial; kini generasi kita harus menanam ulang kesetiaan itu di masa krisis ekologis.

Bangsa yang setia pada tanah tidak menolak kemajuan, tetapi menolak keserakahan.

Puisi tentang petani yang menatap sawah bukan nostalgia, melainkan pengingat: nasionalisme sejati tumbuh dari bumi yang dirawat, bukan dari tanah yang dijual.

Penutup: Bumi sebagai Cermin Diri

Bumi Indonesia bukan sekadar ruang hidup, melainkan ruang jiwa.

Kritik ekologi nasional bukan untuk menyalahkan, melainkan mengingatkan bahwa pembangunan tanpa etika akan menumbuhkan kehancuran lebih cepat daripada kemajuan.

Masih ada suara lembut dari tanah, suara kesetiaan yang memanggil kita untuk menanam dan menjaga, agar bumi tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat pulang.

Daftar Pustaka

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (1980). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi.

2. Rimba Indonesia. (2020). Kerusakan Hutan Indonesia.

3. Universitas Gadjah Mada. (2025). Ekowisata Raja Ampat Terancam Tambang: Penegakan Hukum Lingkungan.

4. World Wildlife Fund. (2024). Sustainable Agriculture Report.

5. Mertani. (2025). Krisis Agraria dan Ekologis di Indonesia: Tantangan dan Solusi.

Tentang Penulis

Novita Sari Yahya adalah penulis dan peneliti isu agraria serta lingkungan.

Tulisan-tulisannya menyoroti hubungan antara kebudayaan, nasionalisme, dan etika ekologi Indonesia.

Novita sari yahya

Penulis dan peneliti

Lagu Suara Yang Meredup.

Merupakan kolaborasi dengan Gede Jerson pencipta lagu.

Lagu berdasarkan puisi yang di tulis Novita sari yahya 

Meredup Cahaya Zamrud Khatulistiwa: Pantulan Cermin Retak

Zamrud, batu permata hijau yang indah bercahaya dan mengkilap,

Keindahan warna hijau pantulan keindahan hutan tropis hijau.

Zamrud khatulistiwa, negara yang terletak di posisi garis khatulistiwa,

Keberagaman flora dan fauna, kekayaan alam yang perlu dijaga.

Kerusakan alam, hutan tropis cerminan dari retaknya nilai pelestarian,

Penjarahan alam dan perusakan lingkungan karena ketamakan.

Perusakan lingkungan, pantulan cermin rusaknya keadaban,

Rusaknya peradaban, pantulan cahaya zamrud yang meredup.

Zamrud khatulistiwa indah karena cahaya hijaunya.

Ketika hutan tropis ditebang, cahaya zamrud menjadi buram.

Kerusakan flora dan fauna, pantulan cahaya zamrud menjadi redup.

Zamrud khatulistiwa, cahaya hijaunya buram dan meredup akibat tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kesadaran etis dan logis manusia hidup berdampingan dengan alam,

Mengeksploitasi alam secara berlebihan, merusak keseimbangan ekosistem.

Penyakit, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim akibat perusakan manusia pada alam.

Bisakah kita bijak dalam mengelola alam?

Bogor, 8 Juli 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post

Menjembatani Dunia: Refleksi Mahasiswa Program International Outbound Mobility

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com