POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pemuda Bapakisme: Dari Rengasdengklok ke Ruang Rapat Ormas

RedaksiOleh Redaksi
November 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

“Gw dulu jadi ketua ormas pemuda,” kata seorang bapak dengan dada membusung, sambil menyeruput kopi sachet tiga sendok gula.
Aku hanya mengangguk sopan. Dalam hati, ingin rasanya bertanya, “Pak, masih nyebut diri pemuda di umur segitu, nggak ingat pasal UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan?” Tapi, ya sudahlah — tradisi menghormati yang lebih tua sudah jadi bagian dari kurikulum wajib sejak Orde Baru.

Padahal, kalau kita tarik ke masa lampau, pemuda itu dulu betul-betul pemuda. Mereka bukan sibuk rebutan jabatan di ormas atau ngejar “jatah proyek”, tapi menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Bayangkan, nyulik dua tokoh paling penting negeri ini demi satu hal yaitu kemerdekaan.
Sekarang? Paling banter nyulik mic di rapat musyawarah supaya bisa pidato lebih lama.

Kalau dulu semangat pemuda adalah bara yang membakar kolonialisme, kini semangat itu berubah jadi “api unggun”—hangat di lingkaran sendiri, tapi tak cukup kuat menerangi jalan perubahan. Di banyak daerah, organisasi kepemudaan lebih sering jadi tempat latihan menjadi “bapak kecil”: sibuk memimpin, lupa mendengar.

Dari Revolusi ke Rapat Koordinasi

Masuklah kita ke era Orde Baru, masa ketika semua organisasi dari karang taruna sampai posyandu harus tunduk pada satu komando: kekuasaan.
Pemuda tidak lagi dibina untuk berpikir, melainkan untuk baris-berbaris dalam keseragaman. Dalam bahasa sopan-santun, mereka “dibimbing”. Dalam praktiknya, mereka dilatih untuk diam.

Di masa itu, organisasi pemuda disterilkan dari ide bebas diganti dengan struktur yang berlapis-lapis dan penuh laporan kegiatan, tanda tangan, stempel, dan tentu saja, ketua yang wajib dihormati.
Kalau di zaman perjuangan pemuda menculik, di zaman Orba pemuda dicukupkan: cukup loyal, cukup manut, cukup hormat.

“Bapakisme” menjadi warisan struktural yang masih hidup hingga kini. Pemimpin dianggap tak bisa salah, sementara anggota dianggap anak yang belum waktunya bicara. Maka jadilah organisasi yang lebih mirip keluarga besar ketimbang forum ide. Semua tunduk pada “bapak ketua”, walau kadang “bapak” itu baru saja naik jabatan lewat lobi-lobi warung kopi.

JJ Rizal menyebut fenomena ini sebagai “pemuda bapakisme”: generasi muda yang lebih sibuk mencari restu senior daripada merumuskan gagasan. Pemuda yang kehilangan fungsi kritis, dan lebih suka mengulang pidato daripada menulis sejarahnya sendiri.

Syahrir, Hatta, dan Bayangan Fasisme.

Jauh sebelum istilah “bapakisme” populer, Sutan Syahrir sudah resah. Dalam esai-esainya, ia menyinggung bahaya “mental fasisme” — pola pikir tunduk, seragam, dan takut berbeda.
Masyarakat yang terbiasa diperintah akan kehilangan kemampuan untuk berpikir merdeka

Syahrir paham betul: kebebasan tidak cukup diperjuangkan dengan senjata, tapi harus dijaga dengan nalar. Dan nalar itu, katanya, hanya tumbuh dalam suasana dialog.
Sayangnya, di negeri ini, “dialog” lebih sering berarti menunggu giliran bicara bukan mendengarkan.

Bung Hatta pun mengingatkan hal serupa. Dalam tulisannya tentang pentingnya kaderisasi partai, ia menegaskan: pemuda bukanlah pelengkap, melainkan penerus ideologi bangsa. Tanpa pendidikan politik yang sehat, pemuda akan tumbuh menjadi penonton demokrasi, bukan pelakunya.

Namun, dalam banyak organisasi hari ini, kaderisasi justru diganti dengan lomba loyalitas.
Yang paling keras tepuk tangannya di rapat sering dianggap paling pantas jadi penerus.
Dan seperti itu, mental “barisan” terus diwariskan dari satu generasi pengurus ke generasi berikutnya. Seperti warisan tanah yang tak pernah diukur ulang.

Budi Utomo dan Cermin Perubahan.

Kalau kita mundur sedikit ke sejarah kebangkitan nasional, Budi Utomo (1908) sering disebut tonggak kebangkitan pemuda. Organisasi itu sebenarnya lebih elit ketimbang revolusioner.
Anggotanya kebanyakan priyayi Jawa, dan orientasinya lebih pada pendidikan ketimbang politik. Tapi, dari sinilah lahir kesadaran baru bahwa pemuda bisa menjadi aktor perubahan, asalkan berani berpikir merdeka.

Ironisnya, semangat itu kini justru terperangkap dalam formalitas. Setiap tahun kita memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan pidato panjang, spanduk warna-warni, dan lomba pidato bertema “Inovasi dan Kolaborasi Pemuda untuk Indonesia Emas”.
Tapi sesudah itu, semua kembali ke rutinitas lama: rapat, seremonial, dokumentasi, dan tentu saja acara foto bersama dengan pose salam tiga jari.
Revolusi direduksi jadi momen unggahan di Instagram.

📚 Artikel Terkait

Menumbuhkan Minat Baca Anak Lewat E-Book Digital Berbasis AI

Menyiapkan Pemimpin Politeknik Aceh yang Visioner

Sumbar Talenta Terpilih Menari di Depan Walikota Den Haag

OPTIMALISASI GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN JARAK JAUH GURU ABAD XXI

JJ Rizal menulis tdalam media tentang “Generasi 1998 yang durhaka terhadap Sumpah Pemuda”. Judulnya memang keras, tapi menggambarkan kekecewaan kolektif: bahwa semangat perlawanan kini berubah jadi semangat administrasi. Kita lebih sibuk menyusun proposal kegiatan ketimbang menyusun gagasan perubahan.

Pemuda Bapakisme di Era Digital

Zaman memang berubah. Dulu, pemuda harus punya manifesto. Sekarang, cukup punya konten viral.
Tapi di balik wajah modern itu, struktur lama masih hidup.
Bapakisme hanya berganti ruang dari ruang rapat ke grup WhatsApp, dari stempel basah ke tanda centang biru.
Masih ada “bapak” yang memutuskan mana narasi yang boleh diunggah, dan mana yang “terlalu berisiko”.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada budaya hierarkis yang menolak pembaruan kecuali lewat restu senior.
Seolah perubahan harus lewat izin, bahkan untuk bermimpi pun, harus menunggu giliran.

Namun, sejarah selalu punya cara untuk berputar. Dari Budi Utomo hingga Sumpah Pemuda, dari Orde Baru hingga era digital, setiap generasi akan melahirkan segelintir anak muda yang berani berkata “tidak”. Mereka mungkin minoritas, tapi selalu menjadi titik balik sejarah.

Menculik Ulang Semangat Kemerdekaan.

Kini, ketika banyak “pemuda abadi” masih nyaman memimpin organisasi hingga rambut memutih, mungkin kita perlu aksi penculikan baru , bukan terhadap orang, tapi terhadap semangat.
Menculik kembali semangat keberanian berpikir, keberanian menolak tunduk, dan keberanian menertawakan kekuasaan.

Kalau dulu Soekarno dan Hatta diculik demi kemerdekaan, mungkin sekarang kita perlu menculik ulang gagasan itu dari tangan para “bapak” yang tak pernah pensiun dari panggung pemuda.
Sebab yang tua bukan hanya umur, tapi juga cara berpikir.

Dan barangkali, generasi muda masa kini bukan perlu pidato baru, melainkan keberanian untuk berhenti meniru.

Penutup Reflektif

Pada akhirnya, menjadi muda bukan soal angka, tapi keberanian menolak menjadi tua sebelum waktunya.
Bapakisme bisa menua dalam tubuh organisasi, tapi tak akan pernah membusukkan ide jika masih ada yang berani berpikir merdeka 100 persen
Mungkin sudah waktunya pemuda berhenti memanggil sebutan “bapak”, dan mulai menyapa dirinya sendiri: “penggerak.”

Referensi

Bung Hatta dan Pentingnya Kaderisasi Partai. (2020, 29 April). Berdikari Online. Diakses dari https://www.berdikarionline.com/bung-hatta-dan-pentingnya-kaderisasi-partai/

Giring Ganesha Kembali Lontarkan Pernyataan Bernada Menyerang, JJ Rizal: Pemuda Dari Bapakisme. (2022, 14 Januari). Frekuensi News. Diakses dari https://www.frekuensinews.com/nasional/pr-2892251691/

Hatta dan Bahaya Mental Fasisme. (t.t.). Merdika.id. Diakses dari https://merdika.id/sjahrir-dan-bahaya-mental-fasisme/

Kaum Muda Seharusnya adalah Sutan Sjahrir. (2020, 24 Agustus). KBA News. Diakses dari https://kbanews.com/pilihan-redaksi/kaum-muda-seharusnya-adalah-sutan-sjahrir/

Mengapa Para Pemuda Menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok? (2022, 29 April). Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/29/110000679/

Penerbit Buku Marjinkiri. (t.t.). Politik Jatah Preman. Diakses dari https://marjinkiri.id/product/politik-jatah-preman/

Ruang Guru. (t.t.). Sejarah Kelas 11: Mengenal Organisasi Kebangsaan Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij. Diakses dari https://www.ruangguru.com/blog/sejarah-kelas-11-mengenal-organisasi-kebangsaan-budi-utomo-sarekat-islam-indische-partij

SEJARAH KEBANGKITAN NASIONAL DAERAH JAMBI. (t.t.). Repositori Kemendikdasmen. Diakses dari https://repositori.kemendikdasmen.go.id/7432/1/SEJARAH%20KEBANGKITAN%20NASIONAL%20DAERAH%20JAMBI.pdf

Generasi Muda 1998 Durhaka Terhadap Sumpah Pemuda. (2012, 27 Oktober). Tribunnews. Diakses dari https://m.tribunnews.com/nasional/2012/10/27/

Novita sari yahya
Penulis dan peneliti

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Sukses Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Mati Masuk Surga Dalam Perspektif Spiritual

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00