POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Laut dan Buku Sama Asingnya

Frida PignyOleh Frida Pigny
October 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: @Frida.Pigny

Bapakku, seumur hidup tidak pernah mandi laut.
Pertama kalinya ia mencelupkan diri ke laut adalah pada bulan ulang tahunnya: September 2025.
Itu pun dengan canggung, khawatir kantong celananya kemasukan pasir.

Aku sempat tertawa, tapi juga heran.
Kok bisa, hidup di pesisir Aceh tapi tak pernah mandi laut?

Bibiku menjawab pelan. Masa kecil mereka adalah masa kecil yang dipingit.
Tak boleh ke sungai, tak boleh memanjat pohon, apalagi ikut anak lain bermain di luar.
Kalau ketahuan, akan pulang dengan tubuh penuh cubitan biru.

Ternyata bukan cuma laut dan sungai yang canggung mereka dekati.
Hubungan dengan buku pun sama.

Ibunya bapakku masih buta huruf. Maklum, nenekku anak petani di kampung yang dikawinkan dengan pemilik lahan sawah yang digarap oleh orang tuanya.
Kakekku orang kaya raya pada masanya.
Bapakku masuk sekolah elit dan tentu bisa membaca. Tapi tak sekalipun aku melihat dia memegang buku. Apalagi koran.

Suatu malam, kami ajak beliau makan di luar.
Seperti biasa, anakku membawa dua benda wajib: buku bacaan dan buku sketsa, lengkap dengan pensil mekanik dan penghapus favoritnya.
Malam itu, aku minta bapakku melihat hasil sketsa anakku: gambar seekor kuda dengan liukkan rambut yang ditiup angin. Bagus sekali.
Anak kami sudah punya ambisi serius: “I’ll be a best-selling author and illustrator,” katanya.

Ayahku hanya melihat sketsa itu beberapa detik.
Memegang buku sketsa pun terasa janggal baginya.
Aku lihat wajahnya kaku. Ia tidak terbiasa disodorkan buku, apa pun jenisnya.
Mungkin di saat itu, ia baru sadar betapa asingnya menyentuh buku bagi dirinya.
Ia tak pernah punya kesempatan untuk mengenal buku, apalagi mencintainya.

Aku dibesarkan dalam keluarga menengah, cukup makan, tapi buku adalah barang mewah.
Satu-satunya buku yang kumiliki hanyalah buku pelajaran sekolah.
Untuk bacaan hiburan, aku harus “meminjam”. Dari sepupu, teman, atau siapa pun yang berbaik hati meminjamkan.

Zaman kecilku, buku bacaan terasa mahal.
Bahkan seperti benda asing yang hanya bisa dinikmati orang kota. Padahal aku lahir dan dibesarkan di ibukota provinsi.

Sampai akhirnya aku lulus UMPTN dan melanjutkan kuliah ke kota Kembang.
Di sanalah aku bertemu Palasari. Pasar buku loak yang mengubah hidupku.
Setiap kali ke sana, aku pulang dengan tas berat dan dompet kosong.
Aku belajar mencintai dunia lewat halaman-halaman yang kubeli dengan uang bulanan terbatas.

Robert Kiyosaki, Malcolm Gladwell, Tony Buzan… nama-nama itu jadi teman sekaligus guru.
Setiap buku kusampul plastik.
Takut rusak.
Buku-buku itu kusayang seperti harta. Aku bahkan enggan meminjamkannya, bahkan pada teman baik sekalipun.

Ketika melanjutkan studi ke Australia dengan beasiswa, langganan bacaan pun naik kelas.
Aku berlangganan majalah TIME, membacanya di sela-sela tugas, menandai kalimat yang kusukai tanpa berani mencoret lembarannya, lalu menyimpannya kembali rapi.
Tapi ketika pulang ke Indonesia, semua majalah itu kutinggal.
Berat.

📚 Artikel Terkait

The Unheard Cry

Selayaknya Orang Tua dan Guru Tahu Tentang Multiple Inteligence

Membaca Pemikiran Hasan Tiro di Stan Aceh Story Expo

TANTANGAN MEMBUKA USAHA DI ERA MEA

Dan aku tak tahu, yang mana yang lebih berat: kehilangan kebiasaan jari tangan memeluk buku ataukah gelitikan bulu hidung untuk membaui aroma kertasnya. Karena rasanya, kombo ini seperti santapan lezat di restoran mewah.

Kini, aku mendapati anakku hobi menghirup lembaran kertas setiap kali mendapat buku baru.
“Baunya enak,” katanya.
Generasi keempat ini hidup di dunia yang sama sekali berbeda.
Sejak umur empat tahun ia sudah bisa membaca.
Umur lima-enam, membaca lebih dari lima ratusan buku dalam setahun.
Hadiah setiap tantangan yang berhasil ia selesaikan bukan mainan, tapi buku.
Kami biasa pergi ke Gramedia, dan ia memilih komik ‘My Little Pony’ dengan mata berbinar.

Di usia tujuh, ia mulai menulis cerita sendiri dan mempublikasikannya online.
Usia delapan, ia menuntaskan seluruh serial Roald Dahl, Harry Potter, Percy Jackson, The Land of Stories.
Usia sembilan, ia masuk ke dunia Warrior Cats, tiga puluh enam novel tebal yang dilahap habis dalam tempo enam bulan.

Kini kosakata bahasa Inggrisnya melampaui aku dan suami we-en-na, yang sama-sama doyan buku.
Kadang aku tersenyum sendiri,
“Mungkin aku membaca untuk melampiaskan masa lalu,
sedangkan ia membaca untuk kebebasan masa depan.”

Dan di situlah aku sadar:
Kemalasan membaca bukan cuma soal enggan membuka halaman.
Ia adalah luka yang diwariskan, dari ketakutan, dari kemiskinan akses, dari masa lalu yang mengekang rasa ingin tahu.

Bapakku tak malas membaca.
Ia hanya tak pernah diberi izin untuk mencintai ilmu.
Mungkin oleh lingkungannya, mungkin oleh zamannya.

Aku pun pernah malas membaca, karena buku dulu hanya simbol kewajiban, bukan keajaiban.
Sampai akhirnya, di tahun 2023, aku membaca lebih dari tiga ratus buku dalam setahun.
Dan itu mengubah hidupku.
Sekarang aku membaca lebih sedikit, karena waktuku kuporsikan juga untuk menulis.
Karena semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang mampu jadi penulis.

Anakku, ia membaca karena menemukan dirinya di antara halaman-halaman itu.
Ia bebas. Dan karena itu, ia belajar dengan rasa cinta.
Kini, setiap kali aku melihat anakku membaca di pojok rumah, aku teringat bapakku
yang baru berani mandi laut di usia enam puluh enam tahun.

Mungkin memang begitu cara kehidupan menebus luka:
dari generasi yang tak pernah diajak mengenal laut,
lahirlah generasi yang berenang di samudera kata-kata.

Ternyata kemalasan membaca sering berakar dari luka dan keterbatasan masa lalu, bukan kurangnya niat. Akses dan pengalaman pertama menentukan hubungan seseorang dengan ilmu.

Membaca adalah jembatan yang memulihkan garis keturunan sunyi, dari ayahku yang tak kenal buku, hingga anakku yang menjadikannya rumah.

Cinta membaca lahir bukan dari paksaan, tapi dari rasa terhubung, melalui kekuatan cerita, kebebasan berekspresi saat menyendiri, dan keseruan menjumput makna di setiap akhir babnya.

Setiap generasi berhak menyembuhkan luka generasi sebelumnya, bahkan dengan cara sesederhana membuka lembaran sebuah buku.

Aku menulis ini bukan untuk mengaku malas membaca,
tapi untuk berterimakasih pada diri yang sudah berani jujur. Karena akhirnya, satu generasi di keluargaku
tidak lagi takut membuka halaman pertama.

“Orang yang suka membaca, hidup ribuan kehidupan sebelum ia beneran mati. Orang yang tak pernah membaca, cuma sempat hidup satu kali.” ~ George R.R. Martin

Kredit Foto: @Axelle.Pigny

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Learning Progressions

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00