POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Mengapa Kita Malas Membaca

Andi KurniawanOleh Andi Kurniawan
October 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Andi Kurniawan

Pernyataan sekaligus pertanyaan “mengapa saya malas membaca” dapat dirasakan oleh siapa saja yang peduli terhadap dirinya sendiri. Setiap orang mungkin memiliki jawabannya masing-masing. Bagi yang rajin membaca, pertanyaan itu tidak menimbulkan masalah. Tapi bagi sebagian lainnya—termasuk saya—pertanyaan itu menimbulkan kegelisahan: apa jadinya jika saya terus malas membaca?

Barangkali kita perlu melihat situasi seseorang yang mengalami kemalasan membaca. Rasa malas sering berakar dari kebiasaan. Menurut KBBI, membaca berarti melihat serta memahami atau mengucapkan secara lisan isi dari apa yang tertulis. Karena manusia dianugerahi mata oleh Sang Pencipta, kita cenderung melihat hal-hal yang disukai. Seseorang yang gemar memandangi pegunungan, misalnya, tentu memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang keindahan itu. Dari sanalah muncul rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang bisa lahir dalam bentuk puisi, tulisan, atau renungan. Membaca sesuatu yang kita sukai dapat melahirkan kebiasaan membaca yang lebih luas, sekaligus membangun kesadaran diri.

Namun tidak semua hal yang bermanfaat selalu menyenangkan. Membaca Al-Qur’an, misalnya, dapat menenangkan perasaan dan mendatangkan pahala. Begitu pula membaca buku-buku pengetahuan dan keterampilan—meski terasa berat di awal, manfaatnya baru terasa setelah kita mulai membacanya. Artinya, pengetahuan tidak datang dari niat semata, melainkan dari tindakan sederhana: membuka halaman pertama.

Bagi sebagian orang, membaca tidak harus selalu lewat teks. Mendengar juga bentuk membaca—mendengar kajian, ceramah, atau diskusi di YouTube dan radio. Indera pendengaran dan penglihatan adalah anugerah besar. Bayangkan jika kita terlahir tanpa keduanya, betapa terbatasnya cara kita memahami dunia. Karena itu, sudah sepatutnya kita menggunakan sepasang mata dan telinga dengan sebaik-baiknya.

📚 Artikel Terkait

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Menggali Sejarah Banda Aceh di Gampong Pande

Proyek Berkelanjutan dan Mentalitas Pembangunan Kita

Malam Seribu Bulan

Dalam dunia pendidikan, persoalan ini menjadi lebih serius. Apakah ada guru yang malas membaca? Tentu saja ada—saya salah satunya. Buku-buku di rak sering hanya menjadi pajangan. Setiap kali muncul niat untuk membaca, selalu disertai pertanyaan: buku apa yang harus saya baca? Bila buku yang dicari tidak tersedia, niat itu pun tertunda.

Padahal, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, berilmu, dan bertanggung jawab, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Tujuan itu tidak mungkin tercapai tanpa budaya membaca, baik bagi murid maupun guru. Guru yang malas membaca akan kehilangan kebaruan dalam berpikir; murid yang tidak gemar membaca akan kehilangan masa depan.

Saya membayangkan sebuah sekolah dengan lingkungan yang mendorong warganya untuk membaca. Bukan karena diwajibkan, tapi karena tersedia ruang dan bahan bacaan yang menarik. Mungkin selama ini, kita bukan malas membaca, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, atau tidak punya akses yang cukup.

Pertanyaannya, apakah proses pembelajaran kita sudah menumbuhkan budaya membaca sebagaimana cita-cita pendidikan nasional? Sebab tanpa membaca, manusia kehilangan kemampuan mendengar nurani dan melihat realitas di sekitarnya.

Membaca adalah cara sederhana untuk memperbarui akal. Guru yang baik selalu punya hal baru untuk disampaikan di kelas. Murid yang baik selalu menambah pengetahuan setiap harinya. Jika siklus ini terus berlanjut, lahirlah masyarakat yang tercerahkan. Jika tidak, waktu yang seharusnya menjadi ladang belajar hanya akan berlalu tanpa makna.

Saya sendiri sedang berusaha menumbuhkan kembali kebiasaan membaca—setidaknya untuk memperbaiki diri, siapa tahu juga memberi manfaat bagi orang lain. Dan tak lupa, saya sampaikan terima kasih kepada Potret yang istiqamah memperjuangkan harkat manusia melalui literasi menulis. Dari membaca dan menulis, semoga lahir peradaban yang lebih baik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Andi Kurniawan

Andi Kurniawan

Guru SMK Negeri 1 Tanah Jambo Aye, Pelatihan yang pernah diikuti : Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11 Kabupaten Aceh Utara

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Indonesia Emas, Tapi Dimulai dari Luar Negeri: Kisah Anak Bangsa yang Tak Lupa Pulang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00