Puisi esai Anies septivirawan
Segetir apapun
Sepahit apapun
Sekelam apapun hidupmu
Puisi mesti tetap ditulis
Di lembar waktu
yang membekas nafas
Sepedih apapun
Luka yang kau rasa
Sajak-sajak mesti bersuara
Sebab ia seperti udara di langit Gaza, begitulah ketika kubaca tulisanmu
Di lembar hati yang rusuh
Namun masih ada banyak cahaya
Dari berbagai belahan dunia
Ada jutaan tangan yang selalu mencoba
Menyambung retaknya hati mereka
Menyulam robeknya harapan di tanah Palestina
Aku yang bukan siapa – siapa
Berdiri di antara ujung masyrik dan magrib
Menyaksikan ribuan kata di atas kapal – kapal kebenaran bergerak
Mendobrak sebuah pintu negeri kesabaran yang dihuni segerombolan hewan berkaki dua
Aku bersaksi bahwa
Gaza adalah negeri doa
Doa dari rahim luka
Luka cukup lama menempa
Yang kini perkasa
Aku dan dunia bersaksi bahwa
Palestina berdaulat dan merdeka
Hingga akhir masa
Situbondo, medio Oktober 25
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini














Discussion about this post