POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menulis Sastra: Jalan Sunyi untuk Menjaga Kewarasan

RedaksiOleh Redaksi
October 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Dalam ruang kelas, seorang guru kerap dipandang sebagai pengajar yang sibuk mengurai teori, menegakkan disiplin, dan menuntun murid pada jalur yang dianggap benar. Namun, di balik meja yang penuh dengan tumpukan administrasi, rapat-rapat yang menyita waktu, dan benturan kepentingan dalam struktur birokrasi sekolah, ada kegelisahan yang tak terucapkan. 

Guru juga manusia yang bisa terluka, merasa tidak didengar, bahkan tersisih oleh arus deras sistem pendidikan. Pada titik inilah menulis sastra menjadi jalan sunyi yang menyelamatkan. Sastra bukan sekadar permainan imajinasi, melainkan medium menjaga kewarasan batin.

Sartre pernah menulis bahwa “menulis adalah suatu bentuk kebebasan.” Kebebasan inilah yang menjadi oase bagi guru, ketika di dunia kerja mereka tidak selalu memiliki ruang untuk bersuara. 

Menulis cerpen, puisi, atau novel bukan sekadar pelarian, melainkan strategi menjaga kejernihan jiwa. Dalam dunia kerja, benturan dengan hati nurani hampir tak terhindarkan: perbedaan persepsi dengan rekan sejawat, tekanan dari atasan, atau bahkan kekecewaan melihat kondisi bangsa yang kian jauh dari cita-cita keadilan sosial. 

Namun, alih-alih meluapkannya secara gegabah di media sosial—yang seringkali menjebak dalam pusaran ujaran kebencian dan rentan pelanggaran hukum—sastra menghadirkan ruang yang lebih bijak.

Kebijaksanaan sastra terletak pada kemampuannya menyalurkan keresahan tanpa harus melukai pihak lain. Nama tokoh dan tempat yang fiktif memberi jarak yang aman bagi penulis sekaligus pembaca. Fiksi bukan sekadar “tidak nyata” atau fiktif belaka, melainkan realitas yang ditransformasikan. Ia bukan liputan berita yang mengurai fakta-fakta mentah, melainkan jalan sunyi perenungan. 

Sastra justru memungkinkan kita berbicara tentang kenyataan dengan cara yang lebih dalam. Fokus sastra bukan siapa atau di mana, melainkan bagaimana manusia seharusnya hidup lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi.

Guru yang menulis sastra sejatinya sedang melakukan perlawanan halus terhadap keterkungkungan hidup sehari-hari. Dalam tulisannya, ia bukan sekadar anak buah kepala sekolah, bukan sekadar pegawai negeri yang terikat aturan birokrasi, melainkan pengatur jalan cerita. Ia melampaui dirinya sendiri, melepaskan beban sosial dan fisik, menjelma sebagai kreator yang terbebaskan. 

Melalui tokoh-tokoh fiksi, ia dapat menyampaikan gagasan besar yang mungkin tak bisa ia ucapkan di rapat sekolah atau forum formal. Inilah bentuk kemerdekaan yang tak ternilai.

📚 Artikel Terkait

Mengendus Eksploitasi Pengemis di Serambi Makkah

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Awakening the Soul in Ramadhan

Menteri ATR/BPN Akhirnya Mencabut Juga SHGB Pagar Laut

Dalam perspektif psikologi, menulis sering dianggap sebagai bentuk terapi. 

Mengeluarkan beban pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan mencegah penumpukan yang berbahaya bagi kesehatan jiwa. Guru yang menulis sastra sedang menyehatkan dirinya: membebaskan yang tersumbat, mengalirkan yang tertekan, dan merawat luka yang tak terlihat. 

Albert Camus suatu ketika berkata, “Menciptakan berarti dua kali hidup.” Kalimat ini menegaskan bahwa menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan aktivitas eksistensial. Dengan menulis, seorang guru menjalani kehidupan kedua: kehidupan yang lebih bebas, reflektif, dan penuh makna.

Di titik ini, menulis sastra tidak hanya menyelamatkan guru sebagai individu, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Ketika seorang pendidik berani menulis, ia sedang menanamkan teladan bahwa pengetahuan tidak hanya bisa dituturkan, tetapi juga diabadikan dalam karya. Murid-murid yang melihat gurunya menulis akan belajar bahwa literasi bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan jalan hidup. 

Bayangkan jika setiap guru di negeri ini menulis puisi atau cerpen tentang kegelisahan sosial, mungkin bangsa ini akan memiliki arsip batin kolektif yang lebih jujur, lebih berani, dan lebih manusiawi daripada sekadar laporan resmi yang kaku.

Namun, menulis sastra sebagai guru juga sebuah keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, keberanian untuk keluar dari kebiasaan instan media sosial, dan keberanian untuk menawarkan perspektif baru yang mungkin bertentangan dengan arus besar opini publik. 

Sastra memungkinkan kritik terhadap keadaan, tetapi dengan bahasa yang sublim, dengan estetika yang membuat kritik terasa indah sekaligus tajam. Di sinilah sastra membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, melainkan salah satu wujud etika.

Pertanyaan pentingnya kemudian: beranikah para guru menulis sastra di tengah kesibukan, tekanan, dan rutinitas? Beranikah mereka memilih jalan sunyi ini sebagai sarana menjaga kewarasan, ketika dunia seolah mendikte mereka untuk hanya fokus pada administrasi dan beban kerja? 

Jika jawabannya ya, maka sastra bisa menjadi benteng terakhir bagi jiwa-jiwa yang tak ingin menyerah pada banalitas zaman. Jika jawabannya tidak, maka kita perlu bertanya kembali: bagaimana mungkin seorang guru bisa menyalakan cahaya bagi muridnya, jika ia sendiri dibiarkan meredup tanpa ruang untuk merenung dan menyuarakan nurani?

Menulis sastra bagi guru bukanlah sekadar tambahan aktivitas, melainkan kebutuhan batin. Sebuah kebutuhan untuk tetap waras di tengah dunia yang serba tergesa-gesa, dunia yang kerap melupakan makna terdalam dari pendidikan itu sendiri. Pada akhirnya, tulisan ini ingin mengajak kita merenung: mungkinkah jalan sastra yang sunyi dan personal ini justru menjadi jalan yang paling otentik untuk menjaga kemanusiaan kita? 

Dan bila benar, tidakkah sudah saatnya setiap guru mengambil pena, bukan hanya sebagai alat mengoreksi jawaban murid, tetapi juga sebagai senjata untuk menyembuhkan dirinya sendiri. (*) 

Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis dan pendidik di SMAN 2 Madiun. Lahir di Madiun pada tahun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media nasional. Buku terbarunya di 2025; Gubuk Kecil dan Rintik Hujan, Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, dan Interludium Kapibara. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Wanti dan Di: Identitas yang Dikubur Sejarah, Martabat Wangsa yang Dirampas dari Sejarah Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00