POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tanpa Bali, GWK (hanya) Beton

RedaksiOleh Redaksi
October 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Bayangkan pagi di hari raya Galungan. Jalan-jalan kecil, gang sempit, hingga kota besar di Bali nyaris penuh penjor.

Bambu melengkung setinggi lima hingga tujuh meter, dihias janur, buah, dan sesaji. Semua itu, bukan sekadar hiasan, penjor adalah doa yang ditegakkan, persembahan kepada Sang Hyang Widhi, lambang kemakmuran.

Mari hitung sederhana. Jika ada satu juta rumah tangga di Bali, berarti ada satu juta penjor, karena umat Hindu di Bali mayoritas.

Satu penjor bernilai rata-rata Rp 300 ribu. Itu berarti Rp 300 miliar sekali Galungan. Dua kali Galungan dalam setahun, berarti Rp 600 miliar.

Semua itu keluar dari kantong rakyat Bali—petani, pedagang, buruh, pegawai, seniman—bukan dari investor besar, bukan dari korporasi.

Itulah investasi nyata masyarakat Bali untuk agama dan budayanya, budaya yang mendatangkan wisatawan datang ke Bali, juga ke GWK.

Lalu lihat saat Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi. Seluruh Bali bergetar oleh bunyi baleganjur, tarian ogoh-ogoh, wajah-wajah raksasa yang diarak keliling desa.

Ada 1.500 desa adat di Bali. Jika masing-masing desa adat membuat minimal dua ogoh-ogoh. Berarti 3.000 karya seni ritual lahir dalam satu malam. Satu ogoh-ogoh rata-rata bernilai Rp 10 juta, total Rp 30 miliar.

Itu pun masih hitungan kasar, karena banyak desa yang rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu ogoh-ogoh.

Maka, dari penjor dan ogoh-ogoh saja, rakyat Bali menanam investasi Rp 630 miliar setiap tahun. Diulangi lagi, setiap tahun.

📚 Artikel Terkait

Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Ratapan Anak Pinggir Sungai

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan?

Itu baru dua tradisi besar. Belum dihitung odalan di pura-pura setiap tahun, ngaben yang biayanya bisa ratusan juta, melasti dengan prosesi ribuan orang ke pantai, upacara manusa yadnya, dewa yadnya, bhuta yadnya. Semua itu adalah investasi spiritual dan kultural yang tidak pernah putus yang dilakukan masyarakat Bali.

Inilah sumber amerta itu—mata air kehidupan yang mendatangkan turis ke Bali. Amerta yang menghidupi dan menjadi roh pariwisata Bali, amerta dipercikkan dari setiap yadnya yang dilakukan umat Hindu di Bali.

Wisatawan datang bukan karena GWK. Jauh sebelum GWK dibangun, wisatawan sudah berjubel ke Bali. GWK nebeng dari nama besar Bali.

Wisatawan asing maupun domestik, datang mencari Bali, mencari amerta itu. Mereka ingin menyaksikan dan merasakan disambut penjor yang berjajar seperti hutan bambu suci, mereka ingin merasakan getaran Nyepi yang hening, ingin melihat ogoh-ogoh yang megah sekaligus magis, ingin menyelami kesakralan pura di tepi laut dan di puncak gunung.

Setelah tiba di Bali, barulah mereka ke Kuta, ke Ubud, ke Badung, ke GWK atau jauh ke Amed di Karangasem.

Coba pindahkan GWK keluar Bali, ke Jakarta misalnya, ke Kalimantan, atau bahkan ke Singapura. Adakah orang-orang dari seluruh dunia itu akan datang berduyun-duyun ke sana, sebagaimana mereka datang ke Bali? Tidak. Yakin tidak.

Karena daya tarik itu bukan hanya GWK. Daya tarik itu adalah Bali—sumber amerta yang sakti itu Bali.

Namun kini, GWK tampaknya lupa diri. Sebuah tembok didirikan, menutup jalan warga satu banjar. Warga terisolasi, seolah tanah kelahirannya bukan lagi rumah, melainkan penjara.

Apa yang dilalukan GWK barangkali bukan sekadar pelanggaran perda, bukan sekadar sengketa tanah. Ini pelecehan terhadap sumber amerta itu sendiri. Ini ketidakpahaman akan filosopy dasar pariwisata Bali bahwa pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata.

GWK ibarat cabang yang ingin menebang batang. Ibarat buih yang ingin membendung lautan. Ibarat percikan yang ingin menguasai api. Padahal, tanpa batang, cabang akan kering. Tanpa lautan, buih lenyap.Tanpa api, percikan padam.

Bali gumi tenget. Sakral, sakti, dijaga para leluhur dan dewata. Kesaktiannya lahir dari yadnya umat, dari doa tanpa henti, dari ngayah tanpa pamrih.

Maka, janganlah GWK bangga ketika para presiden dunia datang ke tempat itu. Mereka datang bukan untuk GWK, mereka datang untuk Bali. Tanpa Bali, GWK hanyalah batu dan beton yang kehilangan roh.

Paradoks itu mencolok: Rakyat Bali menanam investasi ratusan miliar setiap tahun melalui tradisi yang sakral, tetapi ketika sebuah korporasi menutup jalan hidup satu banjar, suara rakyat justru dipinggirkan.

Pemerintah yang biasa garang kepada PKL, garang kepada pedagang kecil, tiba-tiba lembek di hadapan pengusaha raksasa. Ada apa dengan Pemkab Badung?

Ingatlah: Bali adalah sumber amerta. Amerta yang memberi kehidupan. Jika sumber itu dicemari, ia bisa berubah menjadi racun.
Jika alirannya dibendung, ia akan meluap dan merobohkan bendungan itu sendiri.

Bali adalah sumber kehidupan. Dan sumber itu sakti. Barang siapa melawan sumber kehidupan, maka ia sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.

Informasi dari Jayasabha semalam Gubernur Bali Wayan Koster semalam memanggil Bupati Badung serta pihak GWK. Mereka berjanji hari ini, di hari kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2025 tembok itu dibongkar.

Denpasar, 1 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Lelaki Saf Belakang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00