POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membaca Ulang Machiavelli Di Era Kuasa Digital

RedaksiOleh Redaksi
October 1, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

oleh ReO Fiksiwan

“Lebih aman bagi seorang penguasa untuk ditakuti daripada dicintai.”(È molto più sicuro essere temuto che amato). — Niccolò Machiavelli(1469-1527), Il Principe(Terjemahan 2003).

Niccolò Machiavelli, politisi parlemen dan Sekab era Florence Medici, dalam Il Principe, menulis tentang seni memerintah dengan mata tajam seorang realis politik. 

Ia tidak bicara tentang utopia, melainkan tentang bagaimana kekuasaan diraih, dipertahankan, dan—jika perlu—dipertontonkan dengan kelicikan. 

Dalam dunia Machiavelli, penguasa yang efektif bukanlah yang paling baik, melainkan yang paling lihai membaca situasi dan mengendalikan persepsi. 

Namun, di era digital, sang penguasa bukan lagi raja, presiden, atau parlemen. Ia bisa berupa akun anonim, meme viral, atau algoritma yang tak punya wajah. 

Dengan kata lain, membaca ulang Machiavelli hari ini bukan sekadar nostalgia, tapi kebutuhan mendesak untuk memahami laku kuasa yang telah berubah wujud.

Dalam demokrasi deliberatif, kekuasaan idealnya lahir dari diskusi publik yang rasional dan terbuka. 

Tapi, laku kuasa hari ini lebih mirip hasrat libidinal seperti yang digambarkan Jacques Lacan dalam The Other Side of Psychoanalysis(1991): bukan soal argumen, tapi soal dorongan. Kekuasaan bukan lagi soal legitimasi, tapi soal visibilitas. 

Siapa yang paling sering muncul di layar, siapa yang paling banyak di-retweet, siapa yang paling viral—dialah yang memegang kendali. Hasrat kuasa menjadi tontonan, bukan perdebatan. 

Ia mengalir seperti libido: tak terkontrol, tak terstruktur, tapi sangat menentukan.

Edward W. Said dalam Culture and Imperialism(1993) menunjukkan bagaimana kekuasaan kolonial bekerja melalui narasi budaya. 

📚 Artikel Terkait

Dunia Tidak Butuh Kesalehanmu

Agar Tubuh Tetap Sehat, Warga Diimbau Manfaatkan RTH Terdekat

Workshop Pengembangan Bahasa Kluet Lahirkan Rekomendasi

“Janji Nikah” di Ujung Nafsu

Hari ini, narasi itu tidak lagi dikendalikan oleh imperium, tapi oleh netizen. Warganet adalah kekuatan besar yang anonim, tapi nyata. 

Mereka bisa menggusur presiden, membatalkan parlemen, bahkan mengubah arah sejarah. Lihat saja Nepal, di mana revolusi digital mengguncang struktur kekuasaan lama. 

Di sana, bukan senjata yang bicara, tapi unggahan. Bukan pidato politik, tapi komentar di TikTok. Kuasa telah bergeser.

Alvin Toffler pernah menulis Powershift: Knowledge, Wealth, and Violence at the Edge of the 21st Century(1990), ihwal pergeseran kekuasaan dari otot ke uang, lalu ke pengetahuan. 

Tapi hari ini, pengetahuan pun tunduk pada algoritma. Kekuasaan digital bukan hanya soal tahu, tapi soal bisa menyebar. 

Dalam dunia Machiavelli, penguasa harus mengendalikan informasi. Dalam dunia digital, informasi mengendalikan penguasa. 

Dan Il Principe versi hari ini bukan lagi tentang bagaimana menjadi raja, tapi bagaimana menjadi trending.

Laku kuasa di era digital adalah habit yang tak lagi membutuhkan istana. Ia cukup punya jaringan, pengikut, dan kemampuan memicu emosi. 

Demokrasi deliberatif yang mengandalkan rasionalitas publik kini harus bersaing dengan demokrasi impulsif yang digerakkan oleh notifikasi. 

Maka, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang berkuasa?”, tapi “siapa yang bisa membuat kita bereaksi?”

Membaca ulang Machiavelli hari ini berarti menyadari bahwa kuasa telah berubah bentuk, tapi tidak berubah watak. Ia tetap licik, tetap manipulatif, tetap haus pengaruh. 

Bedanya, kini ia tidak datang dari satu sosok, tapi dari ribuan akun. Ia tidak berbicara lewat pidato, tapi lewat emoji. Dan ia tidak memerintah dari tahta, tapi dari layar.

Jika demokrasi ingin bertahan, ia harus belajar dari Machiavelli, Lacan, Said, dan Toffler sekaligus. Ia harus memahami bahwa kuasa bukan hanya soal struktur, tapi soal hasrat. Bukan hanya soal hukum, tapi soal narasi. 

Dan bukan hanya soal siapa yang memimpin, tapi soal siapa yang bisa membuat kita percaya.

Era kuasa digital adalah era di mana Il Principe bisa menjadi siapa saja. Bahkan kamu, jika algoritma mengizinkan.

#coversongs: Versi instrumental “The Godfather Theme” oleh Panagiotis Margaris bersama Notis Mavroudis dirilis dalam album berjudul Café de l’art – Cinema Vol. 4 pada tahun 2003.

Lagu ini merupakan interpretasi dari komposisi asli karya Nino Rota, yang pertama kali diperkenalkan dalam film The Godfather tahun 1972. 

Versi Margaris dikenal dengan aransemen gitar klasik yang melankolis dan penuh nuansa mediterania, memperkuat kesan dramatis dari tema cinta dan kekuasaan dalam film tersebut.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Arsip G30S: Ingatan yang Tak Boleh Hilang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00