POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kebangkitan Gayo: Mungkinkah?

RedaksiOleh Redaksi
September 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Amdy Hamdani*

Dalam rentang perjalanan hidupnya, Urang Gayo, demikian masyarakat Gayo menurut antropolog M. Yunus Melalatoa menyebut dirinya secara kultural, memasuki era baru setelah keluar dari era kolonialisme. Di masa awal era baru ini muncul pertanyaan mengapa Gayo mundur, sedangkan masyarakat lainnya maju? 

Pertanyaan semacam ini sebetulnya banyak dikutip di berbagai forum akademis, maupun dibicarakan dalam forum yang lebih patriotis dalam membincangkan nasib umat Islam secara umum pasca kolonial. Selanjutnya pertanyaan tadi juga menjadi semacam “wake up call” bagi generasi muda Gayo akan ketertinggalan.

Urang Gayo mendiami kawasan tengah Aceh. Saat ini wilayah asal Gayo terbagi ke dalam 4 kabupaten; Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luwes dan sebagian Aceh Tamiang. Dengan jumlah populasi sekitar 500 ribu jiwa, jumlah populasi ini jauh lebih kecil dibanding pendatang misalnya transmigran Jawa di Aceh yang populasinya diperkirakan lebih dari 650 ribu jiwa.

Pertanyaan diatas itu tadi membangkitkan sebuah kesadaran bahwa inilah saatnya kebangkitan Gayo. Sedikitnya, ada dua momen yang mendukungnya; Pertama, dilingkungan eksternal terjadi perubahan politik dunia seperti hancurnya komunisme sebagai sebuah blok kekuatan politik, ekonomi dan sosial. Lalu diikuti oleh kegagalan kapitalisme, yang dipersepsikan telah memberi giliran kepada Islam untuk memainkan peranannya yang lebih besar. 

Hal ini dipandang cocok apalagi Gayo memiliki keunggulan adat, yaitu kebudayaan Gayo tidak pernah memiliki pertentangan dengan norma Islam. Kedua, di internal Aceh terjadi momentum perubahan politik berupa berakhirnya konflik panjang Indonesia ‘ Aceh pada 2005, dan dimulainya otonomi khusus.

Dalam realitasnya, setelah beberapa lama berjalan pertanyaan ini tak ubahnya deringan jam “weker” yang berbunyi keras, namun pemiliknya tetap terlelap dengan kenyataan-kenyataan yang menyedihkan. 

Banyak agenda yang dipaparkan, begitupun dengan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah,  maupun masyarakat. Namun, mimpi-mimpi kebangkitan tetaplah mimpi. Gayo masih terbelenggu oleh pintu-pintu besi tinggi, terantai dan berpalang. 

Pintu yang dimaksud itu bernama kebodohan, kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, dan korupsi. Hal ini sekaligus menandakan bahwa pembangunan Gayo selama ini masih jauh dari harapan, karena ketiadaan tindak lanjut, konsepsi dan aksi kolektif yang menganalisis kemunduran apalagi memformulasikan kebangkitan Gayo yang hendak dicapai.

Sejumlah upaya sporadis dari sebagian masyarakat Gayo untuk mengejar ketertinggalan, sebagiannya dilakukan dengan berkaca pada kebangkitan masyarakat lain, sebagai contoh sederhana dengan mempelajari bagaimana masyarakat lain melalui pengembangan pariwisata berhasil mempertahankan kebudayaannya. Disini mempertahankan kebudayaan diartikan dengan dapat meraih kemajuan.

Sebagian lainnya dengan menyalahkan atau menuding masyarakat lain sebagai penyebab kehancuran Gayo. Pasca konflik vertikal, bentuk sikap yang menyalahkan masyarakat lain itu bahkan berubah menjadi kemarahan dan kekerasan. 

Masing-masing pilihan upaya sporadis ini memiliki argumennya sendiri, yang kemudian dipercaya sebagai kebenaran. Namun, bila ditarik benang merah dari masing-masing cara tersebut, kita akan sampai kepada suatu kesadaran akan ketertinggalan Urang Gayo sekaligus keinginan Urang Gayo untuk bangkit.

Bilamana Urang Gayo merasa perlu memodifikasi pertanyaan yang diangkat pada awal tulisan ini, menjadi, “Mengapa Urang Gayo tak kunjung bangkit?”. Bisa jadi setiap sub-kelompok Gayo seperti; Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Luwes, Gayo Kalul dan Gayo Serbejadi, akan mempunyai jawaban sendiri-sendiri atas pertanyaan ini.

📚 Artikel Terkait

Perbaiki Orientasi Gerakan, Temukan “Titik Temu” dan “Titik Pusat”

Bangku Besi Perampas Kehidupan

SMAN 1 Ranto Peureulak, Idi Gelar Kreatifitas Siswa

Dekranasda Kota Bina Pengrajin Untuk Tingkatkan Kualitas Kerajinan

Berkaca pada penyebab mengapa umat Islam tidak segera bangkit (Sri Yunanto dalam pintu kebangkitan Islam) perlu kiranya di sini dikemukakan penyebab yang sama mengapa Urang Gayo tak kunjung bangkit, yaitu: Pertama; Urang Gayo belum sepenuhnya merasa Gayo, sebagaimana di dalam peribahasa Gayo disebut “Beloh Sara Loloten, Dong Sara Tamunen”, karena masing-masing kelompok, aliran (belah) merasa pendapat dan caranyalah yang paling benar. 

Sakarang ini, sebagian orang malah meyakini masyarakat Gayo telah lepas dari akarnya, yaitu tidak lagi menjadikan agama Islam yang akidah dan kaidahnya merupakan sumber utama pengaturan perilaku.

Kedua; Urang Gayo cenderung melihat perbedaan di antara mereka, kelemahan kelompok di antara Urang Gayo dan masyarakat lain. Dengan konsentrasi yang seperti ini, sedikit sekali ada upaya mencari persamaan dan agenda bersama yang menjadi benang merah antara kelompok-kelompok dalam masyarakat Gayo.

Ketiga; secara metodologi, semangat belajar Urang Gayo lebih tereksploitasi kepada pendekatan-pendekatan tekstual, romantisme sejarah dan mengesampingkan aspek-aspek analitis yang berpijak kepada realitas yang paling dekat dan dialami oleh masyarakat muslim sekitarnya seperti Aceh, Padang, Melayu, Batak dll. Boleh jadi masyarakat Gayo memiliki masa lalu, tapi dengan demikian pula Gayo kehilangan masa kini dan masa depan.

Keempat; Lemahnya kepemimpinan Urang Gayo. Kepemimpinan yang lemah di sini artinya kepemimpinan yang gagal mendayagunakan seluruh potensi sumber daya (alam dan manusia) untuk mencapai tujuan Gayo. 

Pemimpin Urang Gayo yang ada sekarang hanyalah pemimpin simbolis, primordialistik yang malah mempertajam keretakan Urang Gayo karena pemimpin primordialistik cenderung memperkuat kelompok, golongan dan aliran.

Karenanya mungkin masih relevan untuk mengemukakan suatu pendapat bahwa letak persoalan Gayo ada di dalam Urang Gayo itu sendiri. Dengan lain kata, kalau Urang Gayo belum juga bangkit, maka yang perlu diperiksa lebih dahulu adalah rumah tangganya sendiri. 

Sangatlah penting dan berguna untuk mengetahui apakah dasar atau tujuan masyarakat Gayo telah terfomulasikan? Kalau ini sudah dilakukan, baru Gayo melihat pekarangan tetangga.

Semangat kebangkitan Urang Gayo harus diiringi dengan perubahan metodologi dalam menentukan dan mencari penyebab perubahan. Dimana kebiasaan yang mendasarkan kepada argumen tekstual harus disertai dengan analisis ril terhadap persoalan yang sedang terjadi. Termasuk dengan memodifikasi sistem pendidikan masyarakat yang bangga dengan metode yang tidak memberikan pemahaman terhadap persoalan ril.

Dalam semangat ke-jamaah-an, Urang Gayo juga perlu membuka pikirannya, jujur mengevaluasi pemimpin dan kelompoknya. Dan dalam konteks komunitas ini pula, perlu memasukkan faktor pemerintah ke dalam faktor analisis. Apa yang terlah dilakukan oleh pemerintah/negara untuk memecahkan persoalan Urang Gayo, meskipun peran dan fungsi negara sendiri menjadi perdebatan dalam kelompok masyarakat Gayo. 

Fokus bahasan peran negara dalam memecahkan persoalan Urang Gayo adalah pencermatan terhadap langkah-langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah, dari tingkatan pemerintah yang paling rendah (kampung/desa), sampai level tertinggi (pemerintah pusat) untuk memperbaiki nasib Urang Gayo, sebagai pekerjaan awal dari pemerintah.

Urang Gayo perlu jujur, strategis dan realistis dalam membuka gerbang besi kebodohan, kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan dan korupsi yang memblokir jalan menuju kebangkitan. Dengan demikian tugas Urang Gayo adalah menuntaskan persoalan internal ini. Pandangan yang bermusuhan kepada tetangga, kelompok lain, atau masyarakat lain perlu digeser kepada pandangan yang lebih kooperatif untuk merobohkan belenggu.

Kebangkitan Gayo tidak bisa dimaknai dengan permusuhan atau karakter dominatif. Meskipun untuk membenahi segala kerusakan di Gayo mensyaratkan kepemimpinan yang berakar Gayo. 

Semangat kebangkitan Gayo harus difokuskan kepada upaya Urang Gayo untuk membongkar hambatan yang memblokir gerbang menuju kebangkitan. Yaitu dengan “Tingkis Ulak Ku Bide, Sesat Ulak Ku Dene”, sebagai strategi masyarakat Gayo untuk dapat tumbuh dan berkembang sebagai masyarakat maju, yang damai dan sejahtera sepanjang masa. 

Lebih jauh M. Kasim AS, mantan anggota DPR RI, mempersepsikan ke-Gayo-an adalah bentuk pengakuan kecintaan pada Gayo, ditandai dengan pemakaian bahasa Gayo atau “Basa Gayo” yang digunakan secara konsisten dalam penyampaian atau mengungkapkan pikiran atau ide, maka dari Basa Gayo ini akan mengalir segala-galanya tentang Gayo. Bahasa adalah sumber timbulnya adat, seni, hukum dan identitas suatu masyarakat.

Tulisan ini hanyalah salah satu upaya kecil  ke arah pemahaman terhadap persoalan internal Urang Gayo, yang perlu dianalisis dan dipetakan untuk dipikirkan solusi agenda aksinya oleh berbagai pihak, masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan mimpi kebangkitan Gayo, mungkinkah? Wallahualam bissawab. (MNA)

*) Pemerhati budaya, sejarah berdomisili di Acsh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Mengabdi Sepenuh Hati di Dunia Literasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00