POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Masalah Utama Palestina, Amerika Serikat

RedaksiOleh Redaksi
September 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Seandainya saat ini, Donald Trump bilang, Palestina Merdeka, selesai semua. No war, peace yes. Masalahnya, si Paman rambut jagung ini masih memveto. De facto Palestina merdeka. De jure, Palestina belum merdeka. Sambil menunggu pembukaan Lokakarya Pemilihan 200 Desa Sasaran Proyek Mitigasi dan Adaptasi di Hotel Harris Pontianak, simak narasi soal status Palestina. Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!

Palestina sejatinya sudah merdeka. Secara de facto, dunia telah mengakuinya. Dari 193 negara anggota PBB, sekitar 157 negara sudah memberi pengakuan resmi, bahkan negara-negara yang dulunya pura-pura netral macam Inggris, Kanada, Australia, Portugal kini angkat tangan dan berkata, “Ya, Palestina itu negara.” Prancis pun baru-baru ini ikut menegaskan pengakuan itu di mimbar PBB. Kalau bicara fakta di lapangan diplomatik, Palestina sudah sah berdiri tegak sebagai negara yang berdaulat, punya bendera, punya pemerintah, punya tanah, punya rakyat, dan punya derita panjang yang lebih dari cukup untuk disebut bangsa merdeka. Masalahnya, ada satu negara yang merasa dirinya polisi dunia, penentu takdir peradaban, dewa veto sejagad raya, Amerika Serikat.

Secara de jure, Palestina masih terkatung-katung. Statusnya di PBB baru sebatas non-member observer state sejak 2012, hasil Resolusi Majelis Umum 67/19. Sudah berulang kali diajukan jadi anggota penuh, tapi apa yang terjadi? Amerika Serikat dengan gagah perkasa, atau lebih tepatnya dengan pongah, mengangkat kartu veto. Begitulah yang terjadi April 2024, ketika 12 anggota Dewan Keamanan setuju, dua abstain, dan hanya satu yang menolak, AS. Hanya satu, tapi bisa mematahkan keinginan mayoritas dunia. Apa nama kalau bukan kesewenang-wenangan? Negara-negara lain boleh ramai-ramai mengakui, boleh ribut menegaskan solidaritas, tapi Amerika tinggal menekan tombol “No” dan seluruh harapan itu gugur seketika. Inilah dunia modern, 157 negara sepakat, tapi satu negara merasa dirinya Tuhan di meja rapat.

Dalih Amerika klise sekali. Mereka bilang pengakuan negara Palestina harus lewat negosiasi langsung dengan Israel, bukan lewat tekanan internasional. Katanya demi keamanan kawasan, katanya demi mencegah Hamas dan kelompok bersenjata berlindung di balik status negara. Tapi kenyataan di lapangan, rakyat Palestina setiap hari hidup dalam blokade, tanahnya dirampas, rumahnya dihancurkan, anak-anaknya dibesarkan dengan suara bom dan sirine. Dan dunia yang katanya beradab itu hanya bisa menggeleng-geleng, karena satu negara superpower bilang, “Tunggu dulu.” Lucunya, kalau urusan Kosovo atau Taiwan, Amerika bisa fleksibel soal pengakuan. Tapi begitu bicara Palestina, standar ganda dipoles manis jadi argumen diplomatik. Semua orang paham, ini bukan soal hukum internasional, ini soal aliansi abadi Amerika dengan Israel, lengkap dengan industri senjata, lobi politik, dan kalkulasi elektoral di Washington.

Akibatnya jelas. Palestina tidak bisa duduk sejajar dengan negara lain di PBB, tidak punya hak suara penuh, tidak bisa menggunakan mekanisme internasional dengan leluasa untuk menuntut keadilan. Israel pun merasa semakin kebal, karena punya jaminan veto Amerika. Dunia hanya bisa menyaksikan, lagi-lagi rakyat Palestina dibiarkan jadi korban permainan veto. Ironis sekali, ketika mayoritas dunia sudah mengakui Palestina, tapi hukum internasional dibuat macet oleh satu negara yang menganggap demokrasi dunia bisa dikendalikan dari kantornya di Washington.

📚 Artikel Terkait

Dari ‘Aceh Pungö’ ke ‘Teupü Droë’: Tamparan dari Seorang Anak SD

Merdeka Adalah Merdeka: Antara Retorika, Realitas dan Tanggung Jawab

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

SUGUHI PEMBACA DENGAN BAHASA SATIR DAN PEMIKIRAN BERNAS

Pertanyaannya sederhana tapi menyesakkan dada, apa gunanya 157 pengakuan kalau satu veto bisa membatalkan semuanya? Apa artinya hukum internasional kalau satu negara bisa menahan kemerdekaan bangsa lain hanya karena kepentingannya sendiri? Kita bisa bicara panjang soal perdamaian, solusi dua negara, hak asasi manusia, tapi kenyataannya selama Amerika masih memegang palu veto, Palestina akan terus dijadikan sandera politik global. Dunia boleh berteriak, rakyat boleh menjerit, tapi suara mayoritas bisa ditelan bulat-bulat oleh satu negara yang terlalu lama merasa dirinya penguasa tunggal. Di situlah letak kegetiran sekaligus kemarahan, Palestina sudah merdeka di mata dunia, tapi belum di mata hukum internasional, karena satu negara bernama Amerika Serikat memutuskan menutup pintu.

“Nampaknya wak Trump ni perlu diajak ngopi ke Warkop NYC, kan tak juga jauh dari gedung PBB, sekalian diajak makan indomie telur.” Ups

Foto Ai, hanya ilustrasi.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Mengapa Demo Besar Rakyat Itali Menuntut Pengakuan Palestina Merdeka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00