POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Puisi yang Menyentuh dan Lukisan yang Berbicara di Pundensari

RedaksiOleh Redaksi
September 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

 Oleh Fileski Walidha Tanjung

Di sebuah desa bernama Gunungsari, Wisata Pundensari, Madiun, malam sederhana pada tanggal 9 September 2025 berubah menjadi pengalaman kebudayaan yang menggugah. Festival Desa Creative Hub menghadirkan sebuah acara yang dinamakan Puitisasi Seni Rupa: puisi, lukisan, dan masyarakat bertemu dalam ruang yang cair, akrab, tanpa sekat. 

Apa yang tampak sekilas sebagai hiburan desa, sesungguhnya adalah peristiwa yang jauh lebih mendalam: sebuah percobaan estetis dan sosial yang menantang cara kita memahami seni.

Walter Benjamin, dalam esainya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, menyebut setiap karya seni memiliki aura—sebuah kehadiran yang lahir dari keunikan keberadaannya di ruang dan waktu tertentu. 

Apa yang terjadi di Gunungsari malam itu membuktikan bahwa aura tidak hanya milik museum besar atau panggung prestisius, tetapi bisa lahir di halaman rumah warga, di bawah lampu desa, ketika goresan cat basah segera diberi suara oleh bait-bait puisi. Aura yang lahir dari momen itu bukan aura yang berjarak, melainkan aura yang justru mendekat, karena merasuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kita perlu mengakui, selama ini seni kerap dikurung dalam menara gading. Ia dipamerkan di galeri yang sepi, dibicarakan dalam forum intelektual yang terbatas, atau dibaca dalam buku yang hanya menyentuh kalangan tertentu. Seni terkesan milik mereka yang terdidik, berpunya, atau punya akses pada ruang-ruang eksklusif. 

Padahal, Jacques Rancière dalam The Politics of Aesthetics mengingatkan, “Emansipasi estetis adalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk merasakan, menafsir, dan mencipta.” Acara di Gunungsari adalah bukti hidup dari pernyataan itu. Seni tidak hanya dipersembahkan untuk ditonton, melainkan dibagikan, dialami, bahkan ikut diciptakan secara kolektif.

Perupa Dwi Kartika Rahayu menyebut setiap goresan sebagai jejak rasa, setiap warna sebagai cerita. Dua pelukis muda, Anis Marhayu dan Shal Shalihah, melukis langsung di tengah masyarakat, membiarkan atmosfer sosial mempengaruhi intuisi mereka. Lalu saya merespons karya lukisan yang baru saja lahir itu dengan bait-bait puisi. 

Hubungan lintas medium ini bukan sekadar eksperimen artistik, tetapi juga metafora tentang hakikat kehidupan itu sendiri: bahwa realitas tak pernah selesai dimaknai, selalu menunggu tafsir baru.

Martin Heidegger dalam The Origin of the Work of Artmenyebut karya seni sebagai peristiwa “terbukanya kebenaran.” Kebenaran di sini bukanlah dogma yang final, melainkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi lalu tiba-tiba menyingkap. 

📚 Artikel Terkait

Di Antara Puing-Puing Harapan

Apa Alasan Perempuan Suka Bergunjing?

UTANG PRIBADI, LEMBAGA, ATAU NEGARA?

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Di Gunungsari, kebenaran yang terungkap bukan sekadar tentang teknik melukis atau menulis puisi, melainkan tentang manusia sebagai makhluk yang saling berbagi imajinasi. Di sana, seni berhenti menjadi benda mati, ia menjadi dialog yang hidup, jembatan antara individu dan komunitas.

Namun, pertanyaan penting tetap tersisa: apakah ruang semacam ini hanya akan menjadi catatan indah sebuah festival, atau mampu bertahan sebagai praktik yang berkelanjutan? Demokratisasi seni mudah dirayakan, tetapi sulit dijaga. Kita tahu betapa kuat arus kapitalisasi seni di kota-kota besar, di mana pameran sering lebih dipandang sebagai investasi ketimbang perjumpaan. 

Apakah ruang-ruang alternatif seperti Gunungsari bisa menandingi arus besar ini, atau perlahan tenggelam dalam romantisme sesaat? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab sekali jadi, tetapi harus terus dipertaruhkan.

Meski demikian, penting untuk melihat momen seperti ini bukan sekadar “acara,” melainkan sebuah metode berpikir baru. Ia menantang batas kategoris antara seni tinggi dan seni rakyat, antara seniman profesional dan masyarakat awam, antara galeri eksklusif dan halaman rumah. Jika puisi bisa lahir dari lukisan yang baru ditorehkan, dan warga desa bisa larut dalam imajinasi bersama seniman, maka bukankah setiap ruang dapat menjadi galeri, setiap waktu bisa menjadi panggung puitik?

Albert Camus pernah berkata, “Seni adalah satu-satunya yang membuat kita tidak menyerah pada absurditas dunia.” Pernyataan ini memberi kita sudut pandang lain: seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan cara untuk melawan absurditas kehidupan modern yang sering menekan manusia agar hanya produktif, efisien, dan utilitarian. 

Gunungsari malam itu menunjukkan alternatif: seni sebagai perjumpaan, sebagai jeda, sebagai ruang yang membebaskan manusia dari logika kering angka dan fungsi.

Namun, apa arti semua ini bagi kita yang hidup di luar Gunungsari? Barangkali makna terdalam dari Puitisasi Seni Rupa justru terletak pada keberanian untuk membayangkan ulang seni dalam kehidupan kita masing-masing. Jika desa bisa menjadi pusat kreativitas, bukankah kota juga bisa belajar meruntuhkan sekat-sekatnya? Jika masyarakat bisa merasakan seni sebagai bagian dari kehidupan, bukankah pendidikan pun seharusnya memberi ruang serupa bagi ekspresi, bukan sekadar hafalan?

Pada akhirnya, seni tidak pernah selesai ditafsirkan. Ia selalu menantang kita untuk menanyakan ulang siapa kita, apa makna kebersamaan, dan bagaimana kita ingin hidup. Perjumpaan di Gunungsari hanyalah satu fragmen, tetapi fragmen yang mampu memantulkan cermin besar: bagaimana kita memperlakukan seni dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ia akan terus kita asingkan dalam ruang elitis, atau kita berani mengembalikannya ke tengah kehidupan, agar menjadi milik semua orang?

Pertanyaan reflektif ini layak kita bawa pulang: di tengah dunia yang semakin utilitarian, masihkah kita berani merayakan kehidupan dengan cara puitis? Masihkah kita mampu menghadirkan seni sebagai ruang dialog yang hidup, bukan sekadar benda mati untuk dipamerkan? Jawaban itu mungkin sederhana, namun menuntut keberanian: keberanian untuk terus merawat perjumpaan puitis, di desa maupun di kota, di ruang kecil maupun besar, demi kehidupan yang lebih manusiawi.

***

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Beberapa bukunya yang terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Kapalku Laut Kita, Interludium Kapibara, dan Cara Penghilang Duka.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Transformasi Kompetensi Guru di Era AI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00