• Latest

Merdeka Dari Apa, Jika Ruang Kelas Sampai Asrama Masih Mencungkil Martabat Anak?

Agustus 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merdeka Dari Apa, Jika Ruang Kelas Sampai Asrama Masih Mencungkil Martabat Anak?

Frida Pignyby Frida Pigny
Agustus 18, 2025
Reading Time: 4 mins read
603
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: @Frida.Pigny | https://superschool.ing

Kita merayakan kemerdekaan, tapi merdeka dari apa, jika seorang anak berusia 8 tahun pulang dari sekolah dengan mata sembab karena diejek teman-temannya? Hanya karena ia anak dari keluarga pekerja biasa, ia dicap “kelas menengah miskin” dan tak pantas bergaul. Sang ibu mencoba membesarkan hatinya dengan bijak: bukan mengejar citra, tapi memperkuat iman dan akhlak. Namun siapa yang bisa merasa tenang, jika di sekolah pun seorang anak harus dihukum secara sosial hanya karena latar belakang orang tuanya?

Di Jambi, seorang siswa SMA yang dianggap “berbeda” tiba-tiba jadi sasaran kekerasan di kampusnya sendiri. Ia dipukuli sampai memerlukan sembilan jahitan wajah: di pelipis dan dagu. Sekolah tak memberi tahu orang tuanya; sang ibu baru tahu melalui grup WhatsApp wali murid, bukan secara resmi dari pihak sekolah.

Dan tak berhenti di situ. Seorang anak yatim: berprestasi di olimpiade, rajin beribadah, teladan di mata guru, pulang dengan dada lembam, dipukul di dalam masjid oleh teman-temannya. Para pelaku bukan sembarang murid, melainkan anak-anak dari keluarga berpengaruh yang merasa kebal aturan. Sementara si anak, yang seharusnya dibanggakan sekolah, menanggung luka batin yang jauh lebih berat dari lebam di tubuhnya.

Dan banyak lagi kisah serupa hampir tersaji setiap harinya. Mereka adalah korban sistem yang membiarkan kekerasan tumbuh di balik seragam, identitas unggulan, atau asrama megah. Pembullyan adalah gejala dari satu penyakit yang sama: kekerasan yang dinormalisasi di sekolah dan asrama anak-anak kita.

UNESCO mencatat, 1 dari 3 murid di dunia mengalami perundungan. Dampaknya bukan sekadar “anak-anak bercanda”, ini bahaya kesehatan masyarakat. Meta-analisis pada lebih dari 430.000 remaja menunjukkan, korban bullying memiliki risiko ide bunuh diri 2-3 kali lipat. Pelaku juga tidak lebih sehat: mereka lebih rentan depresi dan percobaan bunuh diri.

Di Indonesia, masalah ini nyata. KPAI menerima lebih dari 37 ribu laporan kekerasan anak dalam sembilan tahun terakhir, dengan sekolah sebagai salah satu lokasi dominan. Tahun 2023 saja, ada lebih dari 1.400 kasus yang tercatat hingga Oktober. UNICEF melaporkan 45% pemuda usia 14-24 tahun mengalami cyberbullying, ancaman yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Studi Global School-based Health Survey (GSHS) bahkan menunjukkan lebih dari 40% anak usia 7-11 tahun di Indonesia pernah mengalami perundungan, lebih tinggi dari rata-rata global. Angka ini kemungkinan hanya puncak gunung es, karena banyak korban bungkam akibat takut stigma.

Banyak orang tua mengira menitipkan anak ke sekolah berasrama berarti aman. Faktanya, penelitian internasional menegaskan: asrama justru rawan bila pengawasan lemah. Area tanpa kontrol guru: koridor, kamar, kamar mandi, adalah lokasi paling sering terjadi kekerasan.

Ketika guru pengawas hanya hadir secara administratif tanpa jam tugas jelas, kekuasaan berpindah ke tangan “hukum rimba” antar murid. Senioritas, gengsi, dan status sosial menjadi mata uang kekuasaan yang mematikan. Asrama berubah jadi ruang gelap tempat luka anak-anak ditimbun dalam diam.

Tahun 2023, pemerintah menerbitkan Permendikbudristek No. 46 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP). Aturannya jelas: sekolah wajib membentuk TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan), menyediakan mekanisme pelaporan, melindungi korban, hingga memberi sanksi administratif pada pelaku maupun lembaga yang lalai.

Namun realitasnya, banyak sekolah hanya menempel peraturan di papan pengumuman, tanpa tahu harus berbuat apa ketika kasus benar-benar terjadi. Regulasi tanpa implementasi hanyalah tinta di kertas.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sudah mengingatkan: aturan tidak akan efektif jika guru, kepala sekolah, hingga penjaga sekolah tidak diedukasi secara serius. Tanpa pemahaman, regulasi hanyalah formalitas.

Dunia sudah punya contoh nyata. KiVa Program dari Finlandia berhasil menurunkan angka bullying dengan pendekatan whole-school: bukan hanya korban dan pelaku, tapi juga penonton (bystanders) diajari cara bertindak.

Program Olweus Bullying Prevention Program (OBPP) di Eropa dan Amerika menunjukkan penurunan korban hingga 20% dan pelaku hingga 23%, asalkan implementasinya setia. Kuncinya: kebijakan jelas, pelatihan guru, monitoring, dan keterlibatan orang tua.

Artinya, bullying bukan takdir budaya, karena ia bisa ditekan jika kita serius.
Pertama, sekolah harus benar-benar menjalankan semangat Permendikbudristek 46. TPPK tidak boleh sekadar papan nama; ia harus aktif, bisa dipanggil kapan saja, melindungi korban, dan memulihkan trauma.

Kedua, adaptasi program ‘whole-school anti-bullying’ seperti KiVa atau OBPP. Anak-anak harus dibiasakan menolak ikut-ikutan, guru dilatih mengenali tanda awal bullying, dan pelaporan harus bisa dilakukan tanpa takut dibalas.

Ketiga, orang tua wajib terlibat. Jangan hanya tanya nilai ujian, tapi tanyakan juga: “Apa yang membuatmu takut hari ini?”. Ruang aman bercerita adalah vaksin paling awal melawan trauma.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Keempat, transparansi. Sekolah unggulan atau elite tidak boleh kebal evaluasi. Setiap kasus kekerasan harus bisa ditelusuri oleh pihak independen.

Nelson Mandela pernah berkata: “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Tapi senjata itu lumpuh jika sekolah justru jadi tempat anak disakiti.

Brené Brown mengingatkan: “We cannot give our children what we don’t possess. We cannot teach courage if we are still ruled by fear.” Yang artinya kira-kiranya begini: “Kita tidak bisa memberikan kepada anak-anak kita sesuatu yang tidak kita miliki. Kita tidak bisa mengajarkan keberanian jika kita sendiri masih dikuasai oleh rasa takut.”

ADVERTISEMENT

Jika sekolah dan orang tua masih berdiri di atas ketakutan, bagaimana mungkin kita mengajarkan keberanian pada anak-anak kita?

Benar seperti kaset rusak yang terus diputar, sistem pendidikan kita masih memproduksi kekerasan yang sama dari generasi ke generasi. Anak-anak pulang bukan dengan ilmu, tapi dengan trauma.

Merdeka bukan sekadar upacara di lapangan atau angka di rapor. Merdeka berarti anak bisa bernapas lega di sekolahnya sendiri: tanpa takut dipukul, diejek, atau diasingkan. Bullying adalah bentuk penjajahan di masa kini.

Dan hari ini, pertanyaan yang paling jujur untuk bangsa ini adalah: sudahkah kita merdeka dari ketakutan?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

ChatGPT dan Revolusi Pembelajaran: Melangkah Bersama Teknologi Menuju Masa Depan Gemilang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com