• Latest

Ketika Nafas Menemukan Ruangnya: Merdeka Adalah Merdeka

Agustus 12, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Nafas Menemukan Ruangnya: Merdeka Adalah Merdeka

Redaksi by Redaksi
Agustus 12, 2025
in #Kemerdekaan, Essay, Lomba Menulis, Lomba Menulis POTRET, Menulis, Menulis Berhadiah
Reading Time: 4 mins read
0
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TM

Bulan Agustus selalu punya caranya sendiri untuk mengetuk pintu ingatan. Bau cat baru di pagar sekolah, riuh suara anak-anak berlatih tarik tambang, hingga lagu perjuangan yang mengalun dari pengeras suara masjid. Semuanya berpadu menjadi latar yang hangat, sekaligus menggetarkan hati. Namun, di tengah gemuruh perayaan itu, ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar hilang dari pikiranku: benarkah kita sudah merdeka?

Pertanyaan itu pertama kali muncul pada malam yang sepi di dalam bus ekonomi yang melaju menuju kampung halaman. Lampu-lampu warung kopi di pinggir jalan berkelip redup, dan di tengah kegelapan itu, kulihat seorang bapak tua berjalan sambil memanggul karung berisi botol plastik bekas. Wajahnya letih, langkahnya pelan, tapi matanya memandang lurus ke depan. 

Entah kenapa, sosoknya menancap di kepalaku. Ia membuatku bertanya: apa arti merdeka baginya? Apakah kemerdekaan hanya sebatas tidak dijajah bangsa lain, ataukah ada lapisan makna yang lebih dalam?

Baca Juga

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Maret 24, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Maret 13, 2026

Generasi Joget: Hilang Eksistensi Manusia di Era Digital? Antara Ekspresi, Identitas, dan Tantangan Zaman. 

Februari 25, 2026

Jawaban itu tidak datang sekaligus. Ia muncul sedikit demi sedikit, lewat potongan-potongan peristiwa yang kualami sendiri.

Kemerdekaan pertama yang kualami adalah saat memutuskan meninggalkan pekerjaan kantoran. Setiap bulan, gaji masuk tepat waktu, tapi setiap hari juga aku merasa semakin kehilangan diriku sendiri. Jam kerja yang panjang, ruang kerja tanpa jendela, dan rapat-rapat tanpa akhir membuatku seperti mesin yang diatur tombolnya. Hingga suatu pagi, ketika melihat wajahku sendiri di cermin, aku sadar aku sedang menjalani hidup orang lain.

Keputusan untuk berhenti tidak mudah. Ada yang menasihati dengan nada khawatir, ada pula yang mencibir, seakan aku sedang melakukan kesalahan besar. Tapi ketika pintu kantor itu kututup untuk terakhir kalinya, rasanya seperti menghirup udara segar setelah lama berada di ruang pengap. Saat itu aku tahu, kemerdekaan adalah keberanian memilih jalan sendiri, meski itu berarti berjalan sendirian untuk sementara waktu.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kesempatan tinggal di sebuah kampung nelayan di pesisir. Di sana, aku belajar bahwa kemerdekaan juga tumbuh dari kebersamaan. Warga saling membantu memperbaiki perahu, berbagi hasil tangkapan dengan tetangga yang sedang sakit, dan menjaga anak-anak bersama. 

Mereka tidak hidup bergelimang harta, tapi ada rasa aman yang lahir dari saling percaya. Aku melihat, kemerdekaan sejati tidak hanya soal kebebasan individu, tetapi juga soal menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk hidup layak.

Tapi ada jenis belenggu lain yang tak terlihat, yaitu belenggu dalam diri sendiri. Bertahun-tahun aku takut mencoba hal-hal baru, khawatir gagal, takut dihakimi. Sampai suatu ketika, aku memutuskan mengikuti lomba menulis. Aku tidak berharap menang, aku hanya ingin membuktikan bahwa rasa takut tidak akan lagi memegang kendali. Saat jari-jariku mulai mengetik, rasanya seperti membuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Proses itu membebaskanku, bahkan sebelum hasil lomba diumumkan.

Kemerdekaan juga kadang berarti melepaskan beban yang selama ini kita pelihara. Aku pernah menyimpan dendam bertahun-tahun kepada seseorang yang mengkhianatiku. Rasanya setiap mengingatnya, aku kembali terperangkap dalam kotak sempit berisi amarah dan sakit hati. Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk memaafkan not demi dia, tetapi demi diriku sendiri. Dan benar saja, saat itu seperti keluar dari ruangan yang gelap dan sesak menuju udara yang segar.

Bagi sebagian orang, kemerdekaan berarti kebebasan berbicara; bagi yang lain, itu adalah bebas dari utang, bebas dari kekerasan, atau bebas dari diskriminasi. Tapi bagiku, semua bentuk kemerdekaan berpangkal pada satu hal: kemerdekaan adalah ruang untuk menjadi manusia seutuhnya, tanpa harus mengecilkan diri demi muat di cetakan yang dibuat orang lain.

Agustus datang lagi, dan aku tak lagi merayakannya hanya dengan lomba panjat pinang atau makan kerupuk. Aku tetap tersenyum melihat anak-anak tertawa, tapi aku juga mengibarkan pertanyaan di dalam hati:

Apakah aku sudah benar-benar merdeka dalam pikiran dan tindakan?

Apakah kebebasan yang kumiliki bermanfaat untuk orang lain, atau hanya berhenti di lingkaran kecil milikku?

Jujur saja, ada bagian-bagian dari hidupku yang masih terikat: rasa khawatir yang kadang berlebihan, kecenderungan menunda, atau kebiasaan membatasi diri sebelum mencoba. Tapi aku belajar bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir yang bisa kita capai sekali untuk selamanya. Ia adalah perjalanan yang terus diperbarui setiap hari, lewat keputusan-keputusan kecil yang kita ambil.

Hari ini, saat melihat anak-anak berlarian di lapangan sambil membawa bendera kecil, aku mengerti satu hal: kemerdekaan yang sejati bukan hanya diwariskan lewat teks proklamasi atau simbol-simbol negara. Ia tumbuh di hati setiap orang yang berani memilih, berani berkata jujur, dan berani melihat orang lain sebagai manusia yang setara.

Merdeka adalah saat kita merasa punya daya, meski kecil untuk mengubah hidup kita sendiri dan memberi dampak pada dunia di sekitar kita. Merdeka adalah ketika napas menemukan ruangnya, dan hati menemukan jalannya. Dan pada akhirnya, merdeka adalah merdeka itu sendiri.

ADVERTISEMENT

#bulanmerdeka #potretonline #lombamenulisagustus

Tentang Penulis:

Saya, Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr, berdomisili di Kota Banda Aceh, saya terus mengembangkan diri melalui berbagai sertifikasi dan produktif menulis diberbagai platfrom media. Berpegang pada motto “With hardship, there is ease,” saya berkomitmen untuk berkontribusi dalam pendidikan dan kemajuan masyarakat. Simak kegiatan saya di Instagram @muhammadabrar0212

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Merdeka Adalah Merdeka

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com