POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sastra yang Lupa Berkaca

RedaksiOleh Redaksi
August 9, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Mustiar Ar

      Sebuah karya sastra selalu membawa beban ganda: sebagai cermin bagi masyarakat dan sebagai potret batin sang penulis. Dalam bentuknya yang terbaik, sastra adalah jendela tempat dunia melihat ke dalam jiwa manusia, sekaligus kaca tempat manusia melihat kekurangan dirinya. Namun, apa jadinya bila kaca itu retak, atau bahkan buram sejak awal?

Bila karya sastra tumbuh tanpa kritik, ia seperti rumah megah yang dibangun tanpa pondasi. Dari kejauhan tampak gagah, tapi sesungguhnya rapuh menunggu waktu untuk roboh. Keindahannya menipu mata, dan daya tahannya rapuh di hadapan guncangan kecil. Banyak penulis yang percaya bahwa karya mereka cukup kokoh berdiri di atas pujian, padahal tanpa masukan yang jujur, setiap kata di dalamnya bisa menjadi debu yang tak meninggalkan jejak.

KRITIK BUKAN PALU GODAM, MELAINKAN PENGUKUR PRESISI

      Banyak yang mengira kritik hanyalah serangan, sebuah palu besar yang menghantam karya sampai hancur berkeping-keping. Padahal, kritik sejati ibarat penggaris arsitek—memastikan garis lurus tetap lurus, sudut tepat pada tempatnya, dan bentuk sesuai dengan tujuan. Kritik yang tulus tidak pernah lahir dari niat menjatuhkan, melainkan dari kepedulian terhadap mutu.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berlawanan. Kritik yang hadir justru lahir dari lingkaran kecil—teman dekat, sesama komunitas, atau orang-orang yang tak ingin suasana menjadi “tidak enak”. Alhasil, kritik itu hanyalah pujian yang dipoles agar terdengar sedikit “analitis”. Lebih mirip formalitas belaka ketimbang cermin yang memantulkan wajah sebenarnya.

YANG TERPERANGKAP DALAM PUJIAN

      Ada penulis yang hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang tak pernah berani mengucap “karya ini lemah di sini dan di sini.” Mereka hanya memberi senyum, tepukan di bahu, dan kalimat yang aman: “Bagus sekali!” Padahal, tanpa catatan yang jujur, bagaimana mungkin seorang penulis bisa berkembang?

Penulis semacam ini ibarat raja yang setiap hari bercermin pada kaca retak. Apa yang dilihatnya adalah bayangan indah yang menipu, bukan kebenaran. Mereka berjalan di jalan panjang sastra, tapi setiap langkahnya berada di atas tanah yang keropos. Satu hari nanti, langkah itu akan terperosok.

Tanpa Kritik, Sastra Menjadi Artefak Narsistik

📚 Artikel Terkait

Hidup adalah Pilihan

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

Berkat Sebuah Kejujuran

PENULIS YANG PESIMIS?

      Sastra yang bebas dari kritik tak ubahnya seperti perhiasan yang dibuat untuk dipajang di etalase sendiri. Ia bukanlah dialog dengan pembaca, melainkan monolog yang hanya menyanjung penciptanya. Tentu, semua orang berhak mencintai karyanya sendiri, tetapi cinta tanpa kejujuran hanya melahirkan kebanggaan kosong.

Kritik yang sehat memberi napas panjang pada sebuah karya. Ia memperkuat jalinan kata, memperjelas makna, dan mengasah ketajaman pesan. Sebaliknya, pujian berlebihan adalah racun halus yang mempercepat kematian kreativitas.

Pembaca Sejati Adalah Penilai yang Berani

      Kita sering menganggap pembaca hanyalah penikmat pasif. Padahal, pembaca sejati adalah mereka yang berani memberi catatan, menunjukkan titik lemah, dan mempertanyakan maksud. Seorang pembaca yang kritis ibarat dokter yang menemukan gejala penyakit sebelum menjadi kronis. Tanpa mereka, sastra hanya akan menjadi hiasan dinding: indah, tapi tanpa daya hidup.

Sayangnya, di negeri ini, budaya kritik sering diartikan sebagai permusuhan. Mengkritik berarti “tidak mendukung” atau “tidak menghargai”. Padahal, kritik adalah bentuk penghargaan tertinggi—sebab ia lahir dari kesediaan untuk membaca, memahami, dan peduli.

Membuka Jendela Selebar-lebarnya

      Sudah saatnya penulis, terutama yang bercita-cita meninggalkan jejak panjang, membuka jendela selebar-lebarnya. Biarkan angin kritik masuk, meski dingin menusuk. Biarkan suara-suara yang tidak nyaman terdengar, sebab dari situlah ketangguhan dibentuk. Karya sastra yang baik tidak akan runtuh hanya karena kritik, justru akan semakin kokoh karena telah diuji.

Jika tidak, kita akan terus hidup dalam lingkaran karya yang kita puji sendiri. Kita mengaguminya di ruang kecil yang tertutup, sampai suatu hari sadar bahwa dunia luar bahkan tidak tahu karya itu pernah ada.

Sastra tanpa kritik adalah sastra yang lupa berkaca. Ia mungkin terasa nyaman bagi penulisnya, tapi tidak akan pernah menjadi warisan yang layak dibaca generasi berikutnya. Kritik adalah teman seperjalanan yang jujur—terkadang menyebalkan, tapi selalu menyelamatkan. Tanpa itu, karya hanyalah bangunan rapuh yang indah dipandang, namun mudah roboh diterpa angin pertama.
Maka, bagi setiap penulis yang masih ingin tumbuh: jangan takut pada kritik. Tak ada pohon besar yang tumbuh di bawah naungan pujian semata.

Pasie karam,09.08.2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00