• Latest

Internetku Sayang, Air Tanahku Hilang

Agustus 2, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Internetku Sayang, Air Tanahku Hilang

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Agustus 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Sebuah stasiun televisi swasta menayangkan acara yang mengungkap fakta tentang makanan. Demi meraup keuntungan, seorang pria yang diwawancarai mengaku menjual roti berjamur yang diolah menjadi sejenis roti bakar. Dalam tayangan sebelumnya, seorang penjual bakso juga melakukan kecurangan. Hasil kecurangannya ternyata cukup besar. Setidaknya, ia sudah memiliki beberapa rumah di kampung halamannya.

Pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Selama ini kita memahami pepatah ini seolah hanya berlaku pada ucapan. Faktanya, apa yang masuk melalui mulut juga memengaruhi tubuh secara jasmani. Bahkan, makanan yang tidak dicurangi pun tetap bisa berdampak buruk jika kita tidak menjaga pola makan. Penyakit bisa datang—sebentar atau selamanya.

Kini, otak manusia mengalami gejala serupa. Era post-truth, digitalisasi, dan rendahnya daya kritis menyebabkan otak sering teracuni—oleh konsumsi berlebihan atas informasi yang tidak diverifikasi.

Sama seperti penjual roti dan bakso yang curang, para pengemas informasi pun melakukan kecurangan demi menumpuk pundi-pundi. Anda bisa membuktikannya sendiri dari berita atau konten yang Anda baca setiap hari. Banyak informasi yang disajikan tampak masuk akal, namun sesungguhnya menyesatkan. Kita pun dengan mudah mempercayainya, lalu menyebarkannya secara lisan. Sadar atau tidak, informasi yang keliru itu keluar dari mulut kita.

Bayangkan jika yang menyebarkannya adalah seorang publik figur—atau dalam era sekarang, disebut influencer. Dampaknya bisa sistemik. Berdasarkan berbagai riset, sekitar 85 persen pengguna media sosial mengaku terpengaruh oleh influencer. Bisa dibayangkan bila seseorang dengan pengaruh besar tidak memverifikasi informasi yang disampaikannya.

Pada titik ini, kita perlu bertanya, “Apakah kita memiliki filter yang berkualitas?” Filter itu adalah seperangkat pengetahuan, akal sehat, dan nalar yang terus berevolusi saat berhadapan dengan beragam informasi. Pisau bisa digunakan untuk memotong bawang, tapi juga bisa digunakan untuk menyakiti orang lain—termasuk diri sendiri. Pengetahuan pun demikian. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa menyesatkan. Di sinilah kebijaksanaan menjadi kunci.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026

Internet tumbuh menjadi kebutuhan, dan dari sana lahir berbagai kebutuhan baru yang dijalankan melalui internet. Sama seperti pisau, yang terpenting adalah bagaimana internet digunakan: untuk kebaikan dan kebenaran, atau sebaliknya. Mari kita evaluasi bersama.

Waktu terus berjalan. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari, minggu, bulan, bahkan tahun. “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian,” begitu peringatan dari Surat Al-‘Ashr. Kecuali mereka yang menggunakan internet dengan bijak, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Substansi Surat Al-‘Ashr relevan dengan kehidupan digital kita. Secara logis dan ilmiah, kandungannya sangat masuk akal. Misalnya, jika kita menggunakan internet hanya untuk hiburan tanpa arah, kita sesungguhnya sedang memperkaya kelompok tertentu tanpa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Mungkin itu urusan pribadi, tapi dampaknya tidak sesederhana itu.

Kita sering lupa bahwa setiap detik penggunaan internet berdampak pada sumber daya alam, termasuk air. Internet tidak bekerja tanpa infrastruktur yang terus-menerus didinginkan dengan air—terutama pusat data (data center). Di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2025 dibutuhkan sekitar 37,5 miliar liter air per tahun hanya untuk mendinginkan data center. Itu pun dengan asumsi rata-rata penggunaan internet hanya 28 menit per hari per pengguna. Jika lebih, tentu angka tersebut melonjak drastis hingga ratusan miliar liter.

Kebutuhan air data center internet di Indonesia

Dari sisi ekonomi, platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube meraup keuntungan sangat besar. Dengan asumsi nilai tukar Rp16.000 per dolar AS, dan pengguna aktif internet Indonesia sekitar 200 juta orang, pendapatan mereka bisa mencapai Rp24 juta per menit, atau lebih dari Rp12,6 triliun per tahun, jika setiap orang hanya menggunakan satu jam per hari. Itu pun belum termasuk iklan, transaksi digital, dan monetisasi data.

Mengapa informasi seperti ini tidak viral? Jawabannya sederhana: ia tidak menguntungkan algoritma. Ia mengganggu iklim bisnis platform digital. Maka pertanyaannya: apa yang bisa kita lakukan?

ADVERTISEMENT

Salah satu tindakan sederhana namun bermakna adalah mematikan paket data saat tidur. Biarkan bumi beristirahat bersama kita. Jangan biarkan mesin-mesin data center terus bekerja tanpa henti hanya demi kebiasaan kita yang tak sadar. Tindakan kecil ini adalah bentuk kesadaran kolektif demi generasi mendatang.

Setuju?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Abah dan Becak Tua

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com