POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
July 21, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Dayan Abdurrahman,

Akal Sehat yang Kian Langka


Indonesia hari ini menyaksikan politik yang semakin jauh dari nalar. Koalisi partai dibentuk bukan karena kesamaan visi, tetapi karena perhitungan kursi. Kebijakan publik sering lahir dari tekanan elite, bukan kebutuhan rakyat.

Di media sosial, opini publik digiring oleh buzzer politik. Polarisasi identitas semakin tajam. Rakyat kebanyakan lebih sering dibuai janji populis ketimbang diajak memahami persoalan yang nyata.

Dalam kondisi seperti ini, akal sehat—kemampuan untuk menimbang benar dan salah secara jernih—menjadi komoditas langka. Padahal, tanpa akal sehat, demokrasi hanyalah panggung transaksional.


Politik Jadi Pasar Gelap

Politik uang dan mahar pencalonan sudah menjadi rahasia umum. Banyak calon legislatif dan kepala daerah harus menyiapkan miliaran rupiah hanya untuk “tiket” dari partai.

Akibatnya, begitu berkuasa, prioritas utama mereka bukan pelayanan publik. Fokusnya justru mengembalikan modal politik—melalui proyek, korupsi anggaran, atau kebijakan titipan sponsor.

Demokrasi yang seharusnya menjadi arena kompetisi gagasan berubah menjadi pasar gelap kekuasaan. Akal sehat publik pun tak punya ruang.


Koalisi Besar, Demokrasi Kerdil

Setelah Pemilu 2024, hampir semua partai utama bergabung ke pemerintahan. Dari satu sisi, ini menjanjikan stabilitas politik. Tapi dari sisi demokrasi, kondisi ini berbahaya.

Hilangnya oposisi membuat kebijakan pemerintah berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Suara kritik mudah dianggap gangguan. Kebijakan berpotensi lebih melayani elite ketimbang rakyat.

Tanpa oposisi yang kuat, demokrasi kian kehilangan daya kontrol. Dan ketika publik tak lagi punya tempat menyampaikan aspirasi, apatisme bisa berubah menjadi konflik.


Buzzer dan Polarisasi Emosi

Media sosial kini jadi senjata utama politik. Buzzer politik dan influencer berbayar menggiring opini. Fakta sering dikaburkan, kritik dibungkam dengan serangan pribadi.

📚 Artikel Terkait

Api di Selatan, Duka di Langit

BISNIS BIRO JASA RUMAH KOS DI KOTA BANDA ACEH

Serantai Kata Dalam Untaian Puisi Zab Bransah

Narasi: Senjata Senyap yang Mengubah Dunia

Akibatnya, diskusi publik kehilangan substansi. Isu penting—dari ketimpangan ekonomi hingga kerusakan lingkungan—tenggelam oleh drama politik.

Polarisasi identitas dipelihara demi suara. Padahal, luka sosial akibat polarisasi bisa bertahan lama, bahkan setelah pesta demokrasi usai.


Mengapa Akal Sehat Mendesak?

Akal sehat adalah benteng terakhir rakyat. Tanpa itu, pemilih mudah termakan hoaks, janji kosong, dan politik uang.

Bagi elite, akal sehat adalah pengingat: kekuasaan hanyalah sarana, bukan tujuan. Tanpa legitimasi moral, kekuasaan mudah runtuh.

Sejarah dan teori politik memberi pelajaran. Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional. Machiavelli pun, meski dikenal pragmatis, memperingatkan bahwa kekuasaan tanpa legitimasi cepat kehilangan pijakan.


Jika Akal Sehat Hilang…

Hilangnya akal sehat membawa tiga dampak nyata.

Pertama, krisis kepercayaan publik. Survei menunjukkan kepercayaan masyarakat pada DPR dan partai politik terus menurun.

Kedua, konflik sosial berbasis identitas. Polarisasi politik bisa jadi bara api yang sulit dipadamkan.

Ketiga, kebijakan jangka pendek. Proyek mercusuar dan bansos menjelang pemilu populer, tapi sering mengabaikan masalah struktural seperti ketimpangan, pendidikan, dan lingkungan.

Demokrasi tanpa akal sehat ibarat rumah megah di atas fondasi rapuh: sekali diterpa badai, bisa roboh.


Menghidupkan Kembali Akal Sehat

Apa yang bisa dilakukan?

  1. Literasi politik dan media. Publik perlu diajarkan cara mendeteksi hoaks, memahami demokrasi, dan menilai calon secara objektif.
  2. Reformasi politik. Transparansi dana kampanye, pemberantasan politik uang, dan pembatasan dominasi oligarki mutlak diperlukan.
  3. Peran media independen dan akademisi. Mereka harus berani menyuarakan kritik berbasis data meski menghadapi tekanan.

Penutup: Nafas Demokrasi

Demokrasi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Akal sehat adalah bahan bakar agar alat itu berfungsi.

Jika akal sehat mati, demokrasi hanya menjadi ajang transaksi. Bangsa ini bisa berjalan, tetapi tanpa arah.

Pertanyaannya: apakah kita masih mau memelihara akal sehat sebagai penuntun? Atau rela membiarkannya terkubur oleh pragmatisme kekuasaan?


Dayan Abdurrahman
Pemerhati Isu Politik dan Budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias

Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00