• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional

Juli 21, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional

Dayan Abdurrahmanby Dayan Abdurrahman
Juli 21, 2025
Reading Time: 4 mins read
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Dayan Abdurrahman,

Akal Sehat yang Kian Langka


Indonesia hari ini menyaksikan politik yang semakin jauh dari nalar. Koalisi partai dibentuk bukan karena kesamaan visi, tetapi karena perhitungan kursi. Kebijakan publik sering lahir dari tekanan elite, bukan kebutuhan rakyat.

Di media sosial, opini publik digiring oleh buzzer politik. Polarisasi identitas semakin tajam. Rakyat kebanyakan lebih sering dibuai janji populis ketimbang diajak memahami persoalan yang nyata.

Dalam kondisi seperti ini, akal sehat—kemampuan untuk menimbang benar dan salah secara jernih—menjadi komoditas langka. Padahal, tanpa akal sehat, demokrasi hanyalah panggung transaksional.


Politik Jadi Pasar Gelap

Politik uang dan mahar pencalonan sudah menjadi rahasia umum. Banyak calon legislatif dan kepala daerah harus menyiapkan miliaran rupiah hanya untuk “tiket” dari partai.

Akibatnya, begitu berkuasa, prioritas utama mereka bukan pelayanan publik. Fokusnya justru mengembalikan modal politik—melalui proyek, korupsi anggaran, atau kebijakan titipan sponsor.

Demokrasi yang seharusnya menjadi arena kompetisi gagasan berubah menjadi pasar gelap kekuasaan. Akal sehat publik pun tak punya ruang.


Koalisi Besar, Demokrasi Kerdil

Setelah Pemilu 2024, hampir semua partai utama bergabung ke pemerintahan. Dari satu sisi, ini menjanjikan stabilitas politik. Tapi dari sisi demokrasi, kondisi ini berbahaya.

Hilangnya oposisi membuat kebijakan pemerintah berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Suara kritik mudah dianggap gangguan. Kebijakan berpotensi lebih melayani elite ketimbang rakyat.

Tanpa oposisi yang kuat, demokrasi kian kehilangan daya kontrol. Dan ketika publik tak lagi punya tempat menyampaikan aspirasi, apatisme bisa berubah menjadi konflik.


Buzzer dan Polarisasi Emosi

Media sosial kini jadi senjata utama politik. Buzzer politik dan influencer berbayar menggiring opini. Fakta sering dikaburkan, kritik dibungkam dengan serangan pribadi.

Akibatnya, diskusi publik kehilangan substansi. Isu penting—dari ketimpangan ekonomi hingga kerusakan lingkungan—tenggelam oleh drama politik.

Polarisasi identitas dipelihara demi suara. Padahal, luka sosial akibat polarisasi bisa bertahan lama, bahkan setelah pesta demokrasi usai.


Mengapa Akal Sehat Mendesak?

Akal sehat adalah benteng terakhir rakyat. Tanpa itu, pemilih mudah termakan hoaks, janji kosong, dan politik uang.

Bagi elite, akal sehat adalah pengingat: kekuasaan hanyalah sarana, bukan tujuan. Tanpa legitimasi moral, kekuasaan mudah runtuh.

Sejarah dan teori politik memberi pelajaran. Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional. Machiavelli pun, meski dikenal pragmatis, memperingatkan bahwa kekuasaan tanpa legitimasi cepat kehilangan pijakan.


Jika Akal Sehat Hilang…

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Hilangnya akal sehat membawa tiga dampak nyata.

Pertama, krisis kepercayaan publik. Survei menunjukkan kepercayaan masyarakat pada DPR dan partai politik terus menurun.

ADVERTISEMENT

Kedua, konflik sosial berbasis identitas. Polarisasi politik bisa jadi bara api yang sulit dipadamkan.

Ketiga, kebijakan jangka pendek. Proyek mercusuar dan bansos menjelang pemilu populer, tapi sering mengabaikan masalah struktural seperti ketimpangan, pendidikan, dan lingkungan.

Demokrasi tanpa akal sehat ibarat rumah megah di atas fondasi rapuh: sekali diterpa badai, bisa roboh.


Menghidupkan Kembali Akal Sehat

Apa yang bisa dilakukan?

  1. Literasi politik dan media. Publik perlu diajarkan cara mendeteksi hoaks, memahami demokrasi, dan menilai calon secara objektif.
  2. Reformasi politik. Transparansi dana kampanye, pemberantasan politik uang, dan pembatasan dominasi oligarki mutlak diperlukan.
  3. Peran media independen dan akademisi. Mereka harus berani menyuarakan kritik berbasis data meski menghadapi tekanan.

Penutup: Nafas Demokrasi

Demokrasi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Akal sehat adalah bahan bakar agar alat itu berfungsi.

Jika akal sehat mati, demokrasi hanya menjadi ajang transaksi. Bangsa ini bisa berjalan, tetapi tanpa arah.

Pertanyaannya: apakah kita masih mau memelihara akal sehat sebagai penuntun? Atau rela membiarkannya terkubur oleh pragmatisme kekuasaan?


Dayan Abdurrahman
Pemerhati Isu Politik dan Budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias

Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com