• Latest
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Juli 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Juli 19, 2025
Reading Time: 2 mins read
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Tak semua kisah besar lahir di panggung gemerlap. Ada kisah keberanian yang tumbuh tanpa sorotan kamera, tanpa kemewahan panggung, tanpa tepuk tangan publik.

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026

Ketika berkesempatan mengunjungi para pelaku UMKM perempuan bersama Kompasianer sebagai exclusive writer, saya menemukan sekelompok perempuan hebat yang tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Di balik kesederhanaan desa itu, saya menyaksikan semangat juang yang begitu murni. Mereka tak sekadar berjuang untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungannya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang merintis usaha minuman dari hasil pertanian lokal.

Ia tak hanya menjual minuman segar, tapi juga menghidupkan perekonomian petani-petani kecil di daerahnya. Setiap botol yang terjual membawa cerita, bahwa di balik rasanya yang menyegarkan ada kontribusi petani desa yang semakin sejahtera. Usahanya tumbuh seiring dengan meningkatnya penghasilan para petani di sekitar, karena setiap produksi berarti hasil panen mereka terserap lebih banyak.

Di sudut desa lain, saya berjumpa dengan seorang perempuan pengrajin rajutan. Dari tangan-tangan terampilnya lahir beragam kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Yang lebih mengagumkan, ia tak berjalan sendiri. Usaha kecilnya membuka lapangan kerja bagi perempuan-perempuan lain di desanya. Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tak punya penghasilan kini bisa membantu ekonomi keluarga dengan merajut dari rumah. Mereka tak perlu meninggalkan anak-anak, tak perlu pergi ke kota, cukup berkarya dari desa—dan hasilnya mampu menopang kehidupan sehari-hari.

Di kota, seringkali usaha dianggap ajang kompetisi. Di desa, saya menyaksikan usaha adalah ruang gotong royong. Ketika satu orang tumbuh, banyak orang ikut terangkat. Ketika pesanan meningkat, lebih banyak tangan yang diajak bekerja. Tidak ada yang takut orang lain ikut sukses. Justru kesuksesan bersama adalah tujuan yang mereka pegang erat.

Saya merenung dalam perjalanan pulang, betapa jauh bedanya dengan realitas yang kerap kita temui di kota besar. Individualisme begitu kuat mengakar. Bahkan di lingkungan keluarga sekalipun, saling menopang terkadang terasa asing. Banyak yang berlomba memperkaya diri, tapi enggan berpikir bagaimana bisa membuka penghidupan untuk orang lain. Di hotel-hotel megah, para elite sibuk merumuskan janji kesejahteraan, sambil menyaksikan deretan pengangguran di jalanan yang semakin panjang.

ADVERTISEMENT

Dari perempuan-perempuan desa ini, saya belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang seberapa besar keuntungan yang bisa kita raup, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita bagikan. Mereka mungkin tak masuk headline media nasional, tapi langkah kecil mereka menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi sesamanya, merupakan tindakan yang sangat mulia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
HABA Si PATok

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com