POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Aceh dan Salem: Jejak Sejarah Dagang yang Terancam Terhapus

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
July 16, 2025
Salem’s City Seal Controversy: Between Historical Legacy and Modern Sensitivities
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Kesultanan Aceh berdiri sebagai salah satu kekuatan dagang paling berpengaruh di Asia Tenggara. Kaya akan hasil bumi seperti lada dan kapur barus, Aceh menjadi magnet bagi para pedagang dari seluruh dunia—termasuk dari Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat. Hubungan dagang yang berlangsung lintas samudra ini, pernah diabadikan dalam lambang resmi Kota Salem. Namun kini, sejarah itu menghadapi ancaman penghapusan melalui gerakan penggantian logo kota, dengan alasan sensitivitas rasial yang oleh banyak pihak dianggap keliru.

Aceh dalam Sejarah Maritim Dunia

Letak strategis Aceh di ujung utara Pulau Sumatra menjadikannya pintu gerbang perdagangan di Samudra Hindia. Menurut Daniel Perret, posisi geografis Aceh berperan besar dalam menjadikannya pusat pertemuan budaya dan ekonomi sejak era kuno hingga modern (Perret, 2011). Sejak abad ke-17, Aceh telah menjadi eksportir utama lada, dan secara aktif menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa dan Amerika.

Mehmet Özay mencatat bahwa perkembangan ekonomi Aceh sangat dipengaruhi oleh komunitas pesisir dan pelabuhan-pelabuhan Islam seperti Kuala Batee dan Trumon, yang berfungsi sebagai simpul penting dalam perdagangan lada (Özay, 2012; Inayatillah et al., 2024). Kedua kawasan ini bukan hanya pelabuhan dagang, melainkan juga pusat diplomasi dan pertukaran budaya.

Salem dan Lada Aceh: Kemitraan Trans-Samudra

Setelah merdeka dari Inggris, para pedagang Salem mencari pasar baru yang bebas dari monopoli kolonial. Pada tahun 1797, Kapten Jonathan Carnes berlayar ke Sumatra dengan kapal Rajah, dan kembali membawa lada liar senilai lebih dari $125.000—setara sekitar $1,5 juta saat ini. Perjalanan ini menandai awal dominasi Salem dalam perdagangan lada, dengan lebih dari 179 kapal Amerika tercatat berkunjung ke Aceh antara tahun 1654 hingga 1846 (Feener, 2021).

Logo Kota Salem yang dibuat oleh George Peabody pada 1839 tidak menampilkan kota itu sendiri, melainkan menggambarkan seorang bangsawan Aceh dengan pakaian gombrong tradisional dan payung, berdiri di bawah pohon palem, dengan latar kapal dagang. Tulisan Latin Divitis Indiae usque sinum (“Hingga pelabuhan terkaya di Timur”) mempertegas visi global dan penghormatan Salem terhadap Aceh.

Meski sebagian besar hubungan dagang berlangsung damai, ketegangan sempat terjadi. Pada 1831, kapal Friendship milik Amerika diserang di Kuala Batee, yang memicu intervensi militer AS melalui kapal USS Potomac. Meski peristiwa ini keras, hubungan dagang dan diplomatik antara Aceh dan Salem tetap berlanjut. Tokoh Aceh bernama Po Adam disebut berperan penting dalam melindungi pedagang Salem dari ancaman lokal (Feener, 2021; Inayatillah et al., 2024).

📚 Artikel Terkait

Politik Token Listrik

Perempuan yang Terperangkap Cengkeraman KDRT

ANAK BUANGAN

Kecerdasan Tanpa Nurani

Menurut Anthony Reid, kemunduran Aceh di abad ke-19 bukanlah akibat kelemahan internal, melainkan tekanan dari kolonialisme dan perubahan dinamika perdagangan global (Reid, 2016). Namun warisan maritim Aceh tetap hidup di ingatan budaya kota-kota seperti Salem.

Ancaman Penghapusan Sejarah atas Nama Sensitivitas

Pada tahun 2025, muncul gerakan untuk mengganti logo Kota Salem dengan alasan dianggap rasis. Sebagian pihak mengklaim bahwa gambar tersebut mengandung stereotip Asia yang tidak pantas. Namun banyak sejarawan dan akademisi seperti Prof. Michael Feener, Dr. Reza Idria, dan Prof. Cut Dewi membantah tuduhan tersebut, dengan menegaskan bahwa figur dalam logo adalah tokoh Aceh yang menggambarkan hubungan perdagangan yang saling menghormati, bukan kolonialisme.

Reid (2020) mengingatkan bahwa sejarah Aceh sangat kompleks, melibatkan hubungan dengan India, Cina, dan dunia Barat. Mereduksi ikon sejarah menjadi isu ras semata justru menghapus kekayaan sejarah diplomasi dan perdagangan yang telah berlangsung berabad-abad.

Hubungan dagang antara Aceh dan Salem bukan sekadar catatan kaki sejarah, melainkan simbol dari kemungkinan perdagangan global yang damai di tengah era imperialisme. Logo Kota Salem—jika dipahami dalam konteks sejarahnya—bukanlah simbol diskriminatif, melainkan penghargaan terhadap keberanian maritim dan persahabatan lintas budaya. Menghapusnya berarti menghapus kisah penting yang membentuk identitas Salem sekaligus mengaburkan peran Aceh dalam sejarah dunia.

Daftar Pustaka

Dadek, Ahmad. Meulaboh dalam lintas sejarah Aceh. Bappeda Aceh Barat, 2013.

Feener, R. Michael. “Salem to Sumatra (dan Jalur Improvisasi Lainnya).” Dalam Fieldwork and the Self: Changing Research Styles in Southeast Asia, Springer Singapore, 2021: 91–101.  

Inayatillah, Inayatillah, dkk. “Peran strategis kerajaan Islam di Aceh abad ke-18 dan ke-19: Studi kasus perdagangan di Kuala Batee dan Trumon.” Journal of Al-Tamaddun 19.1 (2024): 311–334.  

Özay, Mehmet. “Dasar sejarah perkembangan sosial-ekonomi Aceh (1511–1904).” Journal of History Culture and Art Research 1.2 (2012): 55–70.  

Perret, Daniel. “Aceh sebagai ladang studi sejarah kuno.” Mapping the Acehnese past (2011): 25–38.  

Reid, Anthony John S. “Mengapa Aceh kehilangan kemerdekaannya di abad ke-19?” Heritage of Nusantara 5.2 (2016): 161–182.  

Reid, Anthony. “Dimensi India dalam sejarah Aceh dan Sumatra.” Journal of Maritime Studies and National Integration 4.2 (2020): 64–72.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
KISAH CINTAKU

KISAH CINTAKU

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00