POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ayah, Luka Pertamaku

RedaksiOleh Redaksi
July 8, 2025
Membedah Sejarah, Merawat Ingatan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nurkamari

Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie

Aku tumbuh bukan dari cinta yang utuh, tapi dari luka yang dibiarkan terbuka.
Dan luka pertamaku… adalah kamu, Ayah.

Kau adalah alasan kenapa aku selalu merasa ada yang hilang, bahkan ketika semua orang bilang aku punya segalanya.
Kau adalah sosok yang seharusnya pertama kali mengajariku arti cinta dan perlindungan,
tapi kau justru menjadi orang pertama yang membuatku merasa ditinggalkan.

Ayah,
kau tahu betapa menyakitkannya menjadi anak perempuan yang tidak pernah tahu rasanya duduk di pangkuan ayahnya sendiri?
Yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicium keningnya dan dipanggil “sayang” oleh lelaki pertama yang seharusnya mencintainya tanpa syarat?

Kau tidak pernah tahu,
karena sejak awal…
kau memilih tidak hadir.

Bukan karena mati.
Bukan karena takdir.
Tapi karena kepergian yang kau pilih sendiri.

Dan aku, anak kecil yang bahkan belum tahu cara membenci, dipaksa menerima kenyataan bahwa sosok bernama ayah hanyalah bayangan dalam pikiranku.
Bayangan yang tidak pernah benar-benar ada.

📚 Artikel Terkait

Benang Kusut Masalah Pengemis di Negeri Syariah

Sajak Kinabalu

Tentang Indah dan Tari

Menjadi Bos Kecil dalam Dunia Besar: Catatan Seorang Penulis yang Mencari Arti

Aku menunggu…
Dulu aku sering berdiri di depan jendela, menatap jalanan yang kosong.
Berharap kau muncul.
Berharap kau datang meski hanya untuk sekadar melihatku dari jauh.

Tapi yang datang hanya senyap.
Dan aku mulai menyadari…
kau tak pernah menganggapku cukup berharga untuk diperjuangkan.

Ayah,
kau tahu apa yang paling menyakitkan?
Bukan karena kau pergi.
Tapi karena kau pergi tanpa pernah menoleh.
Tanpa pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Tanpa pernah memastikan bahwa aku tumbuh dengan hati yang utuh.

Padahal aku tidak baik.
Aku patah sejak kecil.
Dan retaknya tidak pernah sembuh.

Setiap kali melihat teman sebayaku bermain dengan ayah mereka,
hatiku seperti disayat.
Aku ingin tertawa, tapi selalu ada air mata yang siap jatuh kapan saja.
Aku ingin kuat, tapi aku terlalu rapuh untuk terus berpura-pura.

Aku tidak tahu seperti apa pelukan seorang ayah.
Tapi aku tahu bagaimana rasanya iri.
Bagaimana rasanya menahan tangis sendirian.
Bagaimana rasanya mencoba tidur di malam hari dengan dada penuh pertanyaan:
“Kenapa bukan aku yang kau peluk? Kenapa bukan aku yang kau jaga?”

Kau adalah luka pertamaku, Ayah.
Luka yang tak bisa ditambal siapa pun.
Luka yang terus kubawa ke mana pun aku pergi.
Luka yang diam-diam membentuk siapa aku hari ini
seorang perempuan yang takut mencintai terlalu dalam,
karena takut ditinggalkan… seperti kau meninggalkanku.

Aku tidak membencimu.
Aku hanya kecewa.
Kecewa karena kau bahkan tidak memberi kesempatan untukku mengenalmu.
Kecewa karena aku tumbuh tanpa pernah punya kenangan tentangmu hanya rasa sakit yang tidak pernah selesai.

Ayah…
jika kau membaca ini suatu hari nanti,
ketahuilah bahwa anak perempuanmu pernah sangat merindukanmu.
Merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
Dan sampai hari ini,
meski harapanku telah berkali-kali mati,
di dalam dada ini…
masih ada satu ruang kecil yang belum tertutup tempat luka itu tinggal dengan tenang.

Karena bagaimana pun aku mencoba melupakan,
kau tetap akan jadi nama pertama yang mengajarkanku,
bahwa cinta pertama tidak selalu indah.
Karena kadang…
cinta pertama bisa jadi luka terdalam.
Dan itu adalah kamu, Ayah.
Luka pertamaku.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Perempuan Perkasa

Perempuan Perkasa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00