POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
July 3, 2025
Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ini true story yang sangat tragis. Sebagai dosen saya merasa hati rasa tertikam belati. Kok bisa ada mahasiswi harus mengakhiri hidup gara-gara begitu kuatnya tekanan emosi. Simak kisahnya wak, siapkan tisu juga boleh, siapa tahu nanti mewek.

Pada Selasa siang, 1 Juli 2025, seorang gadis bernama DA (22), mahasiswi Program Studi K3 Universitas Sebelas Maret (UNS), melompat dari Jembatan Jurug, membiarkan tubuhnya menyatu dengan derasnya Sungai Bengawan Solo. Ia pergi dengan tenang, meninggalkan motor metik dan sebuah surat kecil bertuliskan permohonan maaf. Dunia menyebut ini “bunuh diri”, tapi psikologi tahu, ini bukan soal kematian. Ini adalah akumulasi dari hidup yang tidak pernah benar-benar dimengerti.

DA adalah potret muram dari seseorang yang mengidap gangguan afektif, kemungkinan depresi berat, atau bahkan bipolar, sebagaimana ia singgung sendiri dalam suratnya. “Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku nggak… Aku capek.” Kalimat ini bukan pengakuan, melainkan perlawanan sunyi terhadap stigmatisasi yang menempel kuat dalam dunia akademik, bahwa mahasiswa harus tangguh, mandiri, tahan banting, dan jangan manja. Gangguan kejiwaan? Ah, itu hanya alasan malas, kata sebagian orang.

Surat wasiat DA, meski pendek, memuat gejala-gejala klinis yang patut dicatat. Ada perasaan bersalah yang dalam (“Maaf aku tak sekuat Ibu”), alienasi diri (“Aku bukan diriku”), dan hopelessness akut (“Aku capek”). Ketiganya adalah indikator psikologis yang sangat kuat dari seseorang yang berada dalam fase ideation menuju action dalam spektrum bunuh diri. Seseorang yang tidak lagi melihat masa depan sebagai kemungkinan, tapi sebagai siksaan berkepanjangan.

Yang lebih tragis, DA bukan tidak ditangani. Ia sudah dalam pantauan psikiater. Dosen pembimbingnya, Dr. Sumardiyono, juga telah memberikan dispensasi. Bahkan, menyarankan cuti akademik selama 3 bulan. Tapi, ditolak DA karena ia tidak ingin dikasihani. Di titik inilah, psikologi sosial ikut berbicara, bahwa dalam masyarakat kita, empati kadang terasa seperti bentuk penghakiman halus. Bantuan sering hadir bukan dalam bentuk kehadiran, tapi intervensi yang membuat orang merasa kecil, gagal, dan lemah.

DA menginternalisasi itu semua. Ia menolak cuti karena takut dilabeli “mahasiswa bermasalah.” Ia terus berjuang, mungkin tidak untuk hidup, tapi untuk tetap dianggap “berfungsi”. Ia menulis skripsi, hadir di kelas, membalas chat dosen, dan tersenyum di kampus. Tapi semuanya hanya coping mechanism, topeng psikologis yang rapuh.

📚 Artikel Terkait

Membangun Semangat Literasi di SDN Kuta Batee Trienggadeng

Teungku Chik Di Leupu; Pengarang Kitab Masailal Muhtadi dan Murid Teungku Syiah Kuala

APRIL DAN LIONTIN

Perempuan Dan Pengelolaan Sampah

Sayangnya, seperti banyak kasus lainnya, sistem pendidikan tinggi kita terlalu sibuk mengejar akreditasi dan capaian lulusan, hingga lupa bahwa mahasiswa bukan mesin IPK, melainkan manusia dengan kapasitas jiwa yang bisa runtuh. Kita baru panik ketika seseorang melompat. Kita baru mengerahkan BPBD, psikolog, relawan, dan konferensi pers ketika tubuh sudah terseret arus.

Apa yang terjadi? Kita menyalahkan emosi yang tidak teratur. Kita lupa, regulasi emosi tak bisa tumbuh di ruang kuliah yang penuh tekanan. Ia tumbuh di ruang aman, di relasi manusiawi, bukan di jam SKS.

Kini, tubuh DA masih dicari. Tapi sejatinya, yang harus kita cari bukan hanya jasadnya, melainkan bagaimana sistem sosial kita gagal mengenali gejala penderitaan dalam diam. Kita gagal menampung air mata yang tidak tumpah, gagal menangkap makna dari senyuman yang dibuat-buat, dan gagal percaya bahwa ada orang yang benar-benar tidak kuat.

DA telah pergi. Tapi pertanyaannya kini, berapa banyak lagi DA yang diam-diam duduk di pojok perpustakaan, menahan napas, berharap dunia cukup sunyi untuk mendengar hatinya yang patah?

Jika kita hanya membaca berita ini, lalu melanjutkan hidup seperti biasa, barangkali kitalah bagian dari masalahnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Timur Menyeru Damai, Barat Mengejar Ambisi: Seruan Islam Global untuk Mencegah Perang Dunia Ketiga

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00