• Latest
Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Juli 3, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juli 3, 2025
Reading Time: 3 mins read
Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Ini true story yang sangat tragis. Sebagai dosen saya merasa hati rasa tertikam belati. Kok bisa ada mahasiswi harus mengakhiri hidup gara-gara begitu kuatnya tekanan emosi. Simak kisahnya wak, siapkan tisu juga boleh, siapa tahu nanti mewek.

Pada Selasa siang, 1 Juli 2025, seorang gadis bernama DA (22), mahasiswi Program Studi K3 Universitas Sebelas Maret (UNS), melompat dari Jembatan Jurug, membiarkan tubuhnya menyatu dengan derasnya Sungai Bengawan Solo. Ia pergi dengan tenang, meninggalkan motor metik dan sebuah surat kecil bertuliskan permohonan maaf. Dunia menyebut ini “bunuh diri”, tapi psikologi tahu, ini bukan soal kematian. Ini adalah akumulasi dari hidup yang tidak pernah benar-benar dimengerti.

DA adalah potret muram dari seseorang yang mengidap gangguan afektif, kemungkinan depresi berat, atau bahkan bipolar, sebagaimana ia singgung sendiri dalam suratnya. “Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku nggak… Aku capek.” Kalimat ini bukan pengakuan, melainkan perlawanan sunyi terhadap stigmatisasi yang menempel kuat dalam dunia akademik, bahwa mahasiswa harus tangguh, mandiri, tahan banting, dan jangan manja. Gangguan kejiwaan? Ah, itu hanya alasan malas, kata sebagian orang.

Surat wasiat DA, meski pendek, memuat gejala-gejala klinis yang patut dicatat. Ada perasaan bersalah yang dalam (“Maaf aku tak sekuat Ibu”), alienasi diri (“Aku bukan diriku”), dan hopelessness akut (“Aku capek”). Ketiganya adalah indikator psikologis yang sangat kuat dari seseorang yang berada dalam fase ideation menuju action dalam spektrum bunuh diri. Seseorang yang tidak lagi melihat masa depan sebagai kemungkinan, tapi sebagai siksaan berkepanjangan.

Yang lebih tragis, DA bukan tidak ditangani. Ia sudah dalam pantauan psikiater. Dosen pembimbingnya, Dr. Sumardiyono, juga telah memberikan dispensasi. Bahkan, menyarankan cuti akademik selama 3 bulan. Tapi, ditolak DA karena ia tidak ingin dikasihani. Di titik inilah, psikologi sosial ikut berbicara, bahwa dalam masyarakat kita, empati kadang terasa seperti bentuk penghakiman halus. Bantuan sering hadir bukan dalam bentuk kehadiran, tapi intervensi yang membuat orang merasa kecil, gagal, dan lemah.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

DA menginternalisasi itu semua. Ia menolak cuti karena takut dilabeli “mahasiswa bermasalah.” Ia terus berjuang, mungkin tidak untuk hidup, tapi untuk tetap dianggap “berfungsi”. Ia menulis skripsi, hadir di kelas, membalas chat dosen, dan tersenyum di kampus. Tapi semuanya hanya coping mechanism, topeng psikologis yang rapuh.

Sayangnya, seperti banyak kasus lainnya, sistem pendidikan tinggi kita terlalu sibuk mengejar akreditasi dan capaian lulusan, hingga lupa bahwa mahasiswa bukan mesin IPK, melainkan manusia dengan kapasitas jiwa yang bisa runtuh. Kita baru panik ketika seseorang melompat. Kita baru mengerahkan BPBD, psikolog, relawan, dan konferensi pers ketika tubuh sudah terseret arus.

Apa yang terjadi? Kita menyalahkan emosi yang tidak teratur. Kita lupa, regulasi emosi tak bisa tumbuh di ruang kuliah yang penuh tekanan. Ia tumbuh di ruang aman, di relasi manusiawi, bukan di jam SKS.

Kini, tubuh DA masih dicari. Tapi sejatinya, yang harus kita cari bukan hanya jasadnya, melainkan bagaimana sistem sosial kita gagal mengenali gejala penderitaan dalam diam. Kita gagal menampung air mata yang tidak tumpah, gagal menangkap makna dari senyuman yang dibuat-buat, dan gagal percaya bahwa ada orang yang benar-benar tidak kuat.

DA telah pergi. Tapi pertanyaannya kini, berapa banyak lagi DA yang diam-diam duduk di pojok perpustakaan, menahan napas, berharap dunia cukup sunyi untuk mendengar hatinya yang patah?

Jika kita hanya membaca berita ini, lalu melanjutkan hidup seperti biasa, barangkali kitalah bagian dari masalahnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Timur Menyeru Damai, Barat Mengejar Ambisi: Seruan Islam Global untuk Mencegah Perang Dunia Ketiga

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com