POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

RedaksiOleh Redaksi
July 2, 2025
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asrul Sani Abu.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

📚 Artikel Terkait

Sepeda

Understanding the Relevance of Philosophy for the Modern Muslim

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh Sosialisasikan Kegeologian di MIN 11 Banda Aceh

Banjir Aceh

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Vice President Indonesia Australia Student Association UWS Hawkesbury Australia 1992.

https://www.kompasiana.com/asrulsani/6737240034777c031c1d6542/perbedaan-utama-kehidupan-indonesia-australia

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00