• Latest
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Juli 2, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Redaksiby Redaksi
Juli 2, 2025
Reading Time: 7 mins read
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Asrul Sani Abu. Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang […]

Oleh Asrul Sani Abu.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Baca Juga

ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

ADVERTISEMENT

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Vice President Indonesia Australia Student Association UWS Hawkesbury Australia 1992.

https://www.kompasiana.com/asrulsani/6737240034777c031c1d6542/perbedaan-utama-kehidupan-indonesia-australia

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com