• Latest

Cerita dari Sebuah Cerita

Juni 28, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Cerita dari Sebuah Cerita

Redaksi by Redaksi
Juni 28, 2025
in Essay
Reading Time: 6 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

(Sebuah roman kecil dari dunia yang nyaris hilang)

Oleh Nyakman Lamjame

I. Desir yang Menyimpan Kenangan

Segalanya bermula dari desir angin yang nyaris tak terdengar. Pagi itu lambat menyusup di sebuah kampung yang tak pernah masuk dalam peta wisata—tempat cahaya matahari turun bukan sebagai sinar, melainkan sebagai kenangan: lembut, murung, dan terlalu tua untuk dikisahkan dalam bahasa modern.

Aku duduk di atas lantai kayu rumah panggung yang mulai keropos. Di bawah, ayam sesekali melintas; di atas, langit menggantung diam seperti kain yang lupa dijemur. Di depan, seorang perempuan tua sedang mengaduk rebusan daun dari pohon yang bahkan namanya pun tak kukenal.

“Ini untuk mencuci luka,” katanya pelan, suaranya lirih seperti gesekan dedaunan.

Aku mengangguk, lebih kepada udara. Waktu di ruang itu tak berjalan lurus. Ia memutar, melingkar, mundur perlahan, lalu membeku sejenak—seolah menunggu seseorang datang, atau sesuatu diingat.

Perempuan itu mulai bercerita, bukan seperti orang yang bercerita, melainkan seperti seseorang yang menimba air dari sumur yang dalam. Ceritanya tidak menggelegar; ia mengalir tenang, penuh jeda, seperti doa yang diucapkan dalam hati. Tentang pelabuhan yang kini tinggal bayang-bayang. Tentang perahu yang melaut tanpa peta. Tentang syair yang dilantunkan malam hari agar anak-anak tak bermimpi buruk.

Aku mendengarnya tanpa mencatat. Tak berani menyela. Karena dalam setiap katanya, ada sesuatu yang lebih tua dari umur siapa pun yang masih hidup hari ini. Dan mungkin, inilah satu-satunya jalan pulang bagiku—bukan ke rumah, tapi ke sesuatu yang pernah menjadi diriku sebelum aku tahu nama dunia ini.

II. Dunia yang Melupakan Dirinya Sendiri

Semakin jauh aku melangkah, semakin kusadari: dunia ini perlahan sedang melupakan dirinya sendiri.

Kita membangun jembatan, tapi tak tahu hendak menyeberang ke mana. Kita mengangkat budaya, tapi seringkali hanya untuk difoto. Kita menghidupkan kembali tradisi, tapi hanya di atas panggung—dengan durasi terbatas agar tak mengganggu jadwal makan malam.

Anak-anak di kampung itu masih hafal syair yang diajarkan sekolah. Tapi mereka tak lagi tahu kenapa kakek mereka dulu mendengarkannya sambil menatap laut, atau mengapa ibu mereka meneteskan air mata saat mendengar lagu Seudati.

Aku pernah bertanya kepada seorang pemuda, “Apa arti kata meuseunia?”

Ia tersenyum kecil, lalu membuka ponselnya. “Coba saya cari dulu, Bang.”

Dan di situlah, aku mendadak merasa sangat sunyi.

Bahasa yang tak diucapkan akan perlahan mati. Tapi lebih menyedihkan dari itu: bahasa yang masih hidup tapi tak lagi menyentuh jiwa.
Kita tahu cara menyusun kalimat, tapi tak tahu cara menyentuh hati. Kita tahu adat adalah warisan, tapi lupa bahwa warisan bukan sekadar benda—ia hidup dalam rasa: rasa malu yang halus, rasa hormat yang lembut, rasa rindu pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Adat dan reusam bukanlah aturan kaku. Ia adalah cara berjalan di atas bumi tanpa melukainya. Ia adalah cara menyapa langit tanpa merasa lebih tinggi. Ia adalah puisi yang hidup dalam gerak tubuh: cara menuang air, cara menunduk ketika lewat di hadapan orang tua, cara tertawa yang tidak berlebihan.

ADVERTISEMENT

Dan semua itu kini pelan-pelan memudar, seperti jejak di pasir yang disapu ombak sebelum sempat dipelajari.

III. Seribu Mata dari Masa Silam

Ada yang lebih pilu dari kehilangan: yaitu ketika kita berdiri tepat di atas sesuatu yang sangat berharga, namun tak pernah tahu bahwa ia ada.

Aku pernah menginap di sebuah rumah tua di pegunungan Aceh Tengah. Udara malamnya dingin, menusuk hingga ke tulang. Tapi yang paling menusuk bukan suhu, melainkan kesunyian.

Di dinding rumah tergantung sehelai kain tenun lusuh, dipaku dengan besi karatan.

“Ayahku yang menenunnya,” kata si pemilik rumah. “Sekarang, tak ada lagi yang tahu caranya.”

Malam itu aku terbangun, menatap kain itu dalam cahaya lampu minyak. Tiba-tiba aku merasa ditatap oleh seribu mata dari masa lalu. Bukan dengan marah, tapi dengan pilu—seolah mereka berbisik: Kami tidak menuntut untuk diingat. Kami hanya berharap kau tidak terlalu cepat lupa.

Aku teringat tulisan di pinggir buku tamu:

Kita adalah anak-anak dari cerita yang tak selesai. Kita hidup dalam dunia yang terus bergerak, tapi tak pernah tahu apa yang telah kita tinggalkan.

Dan malam itu, aku menangis tanpa suara. Bukan karena kehilangan, tapi karena sadar bahwa aku pun telah ikut menyumbang pada pelupaan itu.

IV. Menyalin Hikayat ke Dalam Waktu

Pagi berikutnya, kabut turun seperti jubah yang lupa dilipat. Segalanya tampak lebih redup, seolah matahari sendiri sedang ragu menyinari dunia yang tak lagi mengingat dirinya.

Di ujung kebun kopi yang nyaris terbengkalai, aku bertemu seorang lelaki tua. Ia tengah menuliskan sesuatu di selembar daun lontar, perlahan, dengan alat yang tak lagi dikenal oleh anak-anak sekolah. Tangannya gemetar, tapi setiap guratan tampak seperti bisikan yang sedang ditanamkan ke dalam waktu.

“Aku menyalin hikayat lama,” katanya lirih, tanpa menoleh. “Agar ia tak hilang begitu saja.”

Aku duduk di dekatnya, tak ingin mengganggu. Angin menggoyang daun-daun, dan suara alam bercampur dengan bunyi ukiran yang lirih—seperti napas panjang dari masa yang enggan pergi.

“Siapa yang akan membaca ini nanti?” tanyaku.

Ia diam cukup lama, lalu menjawab: “Mungkin tak ada. Tapi lebih menyakitkan membiarkannya lenyap tanpa perlawanan.”

Baca Juga

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

Dan saat itu juga, aku merasa sangat kecil. Seperti sebutir debu dalam hikayat yang belum selesai ditulis.

V. Rumah yang Tak Lagi Bernyawa

Beberapa hari kemudian, aku kembali ke kampung pertama—tempat perempuan tua menimba cerita dan merebus daun untuk luka. Tapi rumahnya kini kosong. Lantai kayu itu retak, dapur tak lagi hangat. Di sudut ruangan, hanya tersisa panci berkarat dan selembar kain batik yang menggantung setengah jatuh.

“Beliau sudah meninggalkan kita,” kata seorang tetangga. “Tanpa sempat menyelesaikan ceritanya.”

Aku berdiri lama di ambang pintu. Tak tahu apakah harus masuk, atau pergi. Udara dalam rumah itu seakan berhenti bernapas. Tapi entah mengapa, aku merasa suara perempuan tua itu masih menggantung di udara. Bukan sebagai kata, tapi sebagai rasa.

Dan saat itulah aku sadar: tidak semua cerita harus selesai. Sebagian memang ditakdirkan untuk ditinggalkan dalam keadaan terbuka—sebagai ruang kosong bagi generasi yang berani menyambungnya kembali.

Penutup

Cerita ini mungkin takkan pernah masuk buku sejarah. Takkan diajarkan di ruang kelas. Takkan viral di media sosial. Tapi ia tetap hidup—di sela-sela doa yang tak pernah dijelaskan, dalam gerak tangan yang sederhana, dalam cara seseorang menyebut nama kampungnya dengan pelan, seolah sedang menyebut nama ibunya sendiri.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukan hanya ingatan, tapi kesediaan untuk merawatnya. Bukan hanya tradisi, tapi kesetiaan untuk menghidupkannya secara diam-diam—tanpa tepuk tangan, tanpa panggung besar.

Dan aku menulis semua ini bukan untuk dikenang, tapi untuk mengingat.
Agar suatu hari nanti, saat dunia menoleh ke belakang, ia tahu bahwa pernah ada seseorang yang mencoba menyulam kembali cerita dari sebuah cerita.

Cerita yang nyaris hilang.
Tapi tidak sepenuhnya.
Belum. bye-bye bicycle bicycle

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Wisata Kawasan Rebana Tengah Digodok Dalam Kawah Candramuka, Diawali Dengan Diskusi Grup Terpumpun

Wisata Kawasan Rebana Tengah Digodok Dalam Kawah Candramuka, Diawali Dengan Diskusi Grup Terpumpun

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com