• Latest
Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Juni 27, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Ilhamdi Sulaiman by Ilhamdi Sulaiman
Juni 27, 2025
in Puisi
Reading Time: 3 mins read
0
Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ilhamdi Sulaiman

Puisi tak bisa menghentikan perang,
seperti doa yang jatuh di antara peluru,
tapi ia mampu bertahan di dada luka
sebagai nyala kecil yang tak padam.
Ia tak mampu membungkam deru meriam,
tapi bisa menjadi bisikan lembut
di telinga anak-anak yang tak lagi punya bantal.
Bukan senjata, tapi ia senantiasa hadir
sebagai air di padang luka.
Rumah yang Hilang
Kami pernah punya rumah,
atapnya dari tawa ayah,
lantainya dari cerita ibu,
dindingnya dari tangis yang saling mendekap.
Kini rumah itu hanya bayang
di pasir yang selalu bergerak,
tempat kami menggali malam
dengan tangan telanjang,
mencari mimpi yang tertimbun puing.
Roti di Tengah Ledakan
Ada roti yang tak bisa dimakan,
bukan karena basi,
tapi karena tangannya tak sampai
melewati pagar seng dan laras senapan.
Anak-anak mengunyah angin
dan membayangkan gandum di televisi,
sementara langit menggigil
karena terlalu banyak janji
yang tak turun sebagai hujan.

Perbatasan
Di perbatasan. peta jadi senjata.
Sungai kecil. tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan,
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis,
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.

Di Balik Puing
Ada puisi yang lahir. dari reruntuhan,
bukan dari tinta,
tapi dari darah. mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa,
ia tetap menulis,
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.

Nama-Nama yang Hilang
Kami menyebut nama-nama
dalam daftar panjang kehilangan.
Mereka bukan angka,
tapi cahaya yang menyalakan pagi kami.
Setiap nama adalah perahu
karam tanpa laut,
hilang di halaman koran
belum kami baca.

Sekolah Tanpa Jendela
Anak-anak duduk di lantai debu,
membaca huruf dari sisa.
papan tulis
retak seperti langit di atas kepala.
Buku-buku mereka terbakar,
tapi mereka tetap mengeja harapan dari serpihan pelajaran
yang terbang bersama suara meriam.

Lonceng yang Tak Lagi Berdentang
Dulu ada lonceng di menara,
memanggil orang berdamai.
Kini ia dibungkam,
berkarat dalam kesepian waktu.
Lonceng itu masih ada,
tapi nadanya dipenjara
oleh tangan yang lebih suka membunyikan senjata.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026

Malam Tanpa Tidur
Malam kami bukan untuk tidur,
tapi untuk menunggu
apakah dinding masih sanggup bertahan
jika pagi tak datang?
Kami tidur dengan satu mata terbuka,
dan mimpi-mimpi kami dibungkus
dengan kain kafan suara.

Surat yang Tak Pernah Sampai
Aku menulis surat untuk dunia,
menitipkannya pada burung yang tak punya arah.
Tapi dunia sedang sibuk
menghitung keuntungan dari luka.
Maka suratku hanya jatuh
di pelataran senyap
dibaca oleh tanah
yang tahu bagaimana menahan tangis.

Sungai yang Membawa Mayat
Sungai di desa kami dulu jernih,
tempat kami menyanyi sambil berenang.
Kini ia membawa tubuh
yang tak bisa lagi memeluk pagi.
Airnya masih mengalir,
tapi tak menyuburkan
selain kesedihan mendalam.

Puisi yang Tersisa
Setelah semua hancur,
puisi adalah satu-satunya tersisa
rapuh, terluka,
tapi terus berkata.
Ia tak punya senjata,
tapi punya lidah
yang menolak diam
ketika kemanusiaan dihancurkan.
23 Juni 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com