• Latest
Anak-anak (belajar) Jujur

Anak-anak (belajar) Jujur

Juni 12, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Anak-anak (belajar) Jujur

Redaksiby Redaksi
Juni 12, 2025
in Artikel, Pendidikan insklusif, Pendidikan POTRET Sekolah
Reading Time: 2 mins read
Anak-anak (belajar) Jujur
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Menjelang kenaikan kelas, ada kebiasaan yang tampak sederhana bagi anak-anak sekolahan di Kota Denpasar, namun sejatinya sarat makna: mereka mengembalikan buku paket ke sekolah.

Hari-hati ini anak-anak ke sekolah membawa buku yang dulu dipinjamkan negara melalui sekolah, dan menyerahkannya kembali dalam keadaan utuh.

Tidak ada keluh, tidak ada pamrih. Anak-anak ini tak pernah tahu betul apakah mereka wajib mengganti bila buku rusak atau hilang, karena bagi mereka, sudah cukup jika amanat itu dikembalikan dengan baik.

Tapi yang luput disadari banyak orang dewasa adalah pengembalian buku oleh siswa berarti penghematan nyata. Efisiensi yang tak didengung-dengungkan. Buku adalah salah satu pos belanja terbesar dari Dana BOS—Biaya Operasional Sekolah.

Ketika buku dikembalikan dengan layak, maka tak perlu lagi sekolah membeli banyak untuk pengadaan buku baru. Dana BOS bisa difokuskan untuk membiayai kebutuhan lain: listrik yang terus menyala, air yang terus mengalir, toilet yang layak, pelatihan guru, kegiatan siswa, hingga perbaikan fasilitas yang nyaris runtuh.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Namun justru di tengah semangat penghematan itulah, paradoks menampar wajah publik: mengapa masih ada pungutan komite? Mengapa sekolah di kota pariwisata yang katanya “gratis” masih mengetuk hati orang tua/wali untuk menyumbang dengan dalih uang komite?

Ini bukan soal besaran rupiahnya. Ini soal kejujuran sistemik. Soal kenapa pemerintah bersusah payah menyusun regulasi, menetapkan anggaran, dan mengikrarkan pendidikan gratis—lalu dikhianati oleh mekanisme semi-formal bernama “komite sekolah”.

Kita tahu, dalam praktiknya, sumbangan komite sering tak lagi sukarela. Banyak yang mengeluh, tapi takut bersuara. Banyak yang tahu, tapi memilih diam. Banyak pejabat pendidikan yang tahu, tapi memilih memalingkan wajah, karena pungutan itu—konon—untuk “menutup kekurangan anggaran”.

Tapi bukankah Dana BOS ada untuk itu? Bukankah BOS dirancang agar tidak ada lagi beban di pundak orang tua? Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas pembiaran ini? Siapa yang menutup mata ketika niat baik negara dicemari oleh praktik yang menyesakkan?

Yang lebih menyakitkan adalah anak-anak kecil dengan polos mengembalikan buku paket dalam kondisi baik, para pengelola sekolah—yang seharusnya jadi teladan moral—menyusupkan celah pungutan dalam aturan. Mereka yang seharusnya mengajarkan kejujuran, justru menormalkan kebijakan yang abu-abu.

Kita sedang hidup di dunia paradoks: anak-anak lebih jujur dari orang dewasa. Negara lebih berniat baik daripada sebagian aparatur pelaksananya. Pendidikan dijanjikan gratis, tapi dalam praktiknya tetap saja berbayar, hanya namanya yang diganti menjadi “sumbangan”.

Jika dunia pendidikan terus dibiarkan seperti ini, maka jangan heran bila suatu hari kelak anak-anak yang kini jujur mengembalikan buku, akan tumbuh menjadi generasi yang belajar satu pelajaran pahit: bahwa sistem bisa dimanipulasi, dan kejujuran hanya milik mereka yang tak berkuasa.

Kuta, 12 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Amanah yang Berat

Amanah yang Berat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com