POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Permintaan Terakhir Albert Einstein: Warisan Kebajikan di Penghujung Hidup

RedaksiOleh Redaksi
May 31, 2025
Permintaan Terakhir Albert Einstein: Warisan Kebajikan di Penghujung Hidup
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr

Albert Einstein (1879–1955) dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan modern. Penemuannya yang revolusioner—terutama teori relativitas—tidak hanya mengubah arah perkembangan fisika teoretis, tetapi juga memberi sumbangsih besar terhadap pemahaman umat manusia tentang alam semesta. Nama Einstein menjadi ikon intelektualitas dan simbol kejeniusaan ilmiah pada abad ke-20.

Namun di balik seluruh pencapaian akademiknya, Einstein tidak semata-mata ingin dikenang sebagai ilmuwan besar. Ia memiliki pandangan yang lebih dalam mengenai kehidupan, warisan, dan bagaimana seseorang seharusnya diingat setelah meninggal dunia. Di penghujung hayatnya, Einstein tidak berbicara tentang sains, penghargaan, atau popularitas. Sebaliknya, ia justru lebih menekankan pada nilai-nilai moral, kesederhanaan, dan keinginan untuk tidak dipuja secara berlebihan setelah wafat.

Pada bulan April 1955, Einstein dirawat di Princeton Hospital, Amerika Serikat, akibat pecahnya aneurisma aorta—suatu kondisi medis serius yang menyebabkan pendarahan internal dari arteri utama tubuhnya. Di masa-masa terakhir inilah ia menyadari bahwa waktu hidupnya di dunia tidak lama lagi. Dalam kondisi fisik yang melemah namun pikiran yang tetap jernih, ia menyampaikan dua permintaan yang mencerminkan prinsip dan keyakinan hidupnya kepada orang-orang terdekatnya.

Pertama, Einstein menegaskan bahwa ia tidak ingin rumah tempat tinggalnya dijadikan museum atau tempat ziarah. Ia menyadari bahwa dengan reputasi yang dimilikinya, ada kemungkinan publik akan berusaha mengabadikan tempat tinggalnya sebagai lokasi penghormatan. Namun ia secara sadar menolak upaya tersebut, karena tidak ingin kehidupannya dikultuskan atau dijadikan simbol yang melampaui esensi nilai-nilai yang ia perjuangkan selama hidup.

📚 Artikel Terkait

Puisi Nesa Arya

Hujan Minggu Sore

Trauma Kolektif Tanpa Rekonstruksi: Aceh, Kepemimpinan Pasca-Kolonial, dan Paradoks Penderitaan dalam Negara Indonesia

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

Kedua, ia meminta agar ruang kerja atau kantornya tidak dibiarkan kosong atau diabadikan sebagai ruang kenangan, melainkan diserahkan kepada orang lain untuk digunakan. Baginya, ruang kerja adalah tempat untuk berkarya dan berbagi ilmu, bukan monumen diam yang hanya dikenang namun tidak lagi memberi manfaat langsung. Permintaan ini mencerminkan pandangannya bahwa keberlanjutan pemanfaatan ruang dan pengetahuan jauh lebih berarti daripada sekadar mempertahankannya sebagai simbol sejarah.

Selain dua permintaan tersebut, Einstein juga menolak segala bentuk seremoni kematian yang bersifat formal dan penuh penghormatan berlebihan. Ia tidak menginginkan adanya upacara pemakaman yang megah, arak-arakan jenazah, atau pendirian tugu peringatan untuk mengenangnya. Ia berulang kali menyampaikan bahwa dirinya ingin pergi dalam keheningan, tanpa ritual yang bersifat simbolik. Ia percaya bahwa tindakan baik, nilai-nilai kemanusiaan, serta kontribusi ilmiah yang nyata adalah bentuk penghormatan tertinggi yang dapat dikenang oleh generasi selanjutnya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap keinginannya, keluarga dan kolega dekat Einstein memastikan bahwa seluruh proses pemakamannya dilakukan dengan sangat sederhana. Jenazahnya dikremasi secara privat, dan hingga kini lokasi abu jenazahnya tidak pernah dipublikasikan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mencegah berkembangnya kultus individu yang bertentangan dengan prinsip hidup Einstein.

Apa yang dilakukan Einstein menjelang kematiannya menjadi pengingat penting bagi dunia, bahwa warisan sejati seseorang tidak terletak pada seberapa besar popularitas atau penghargaan yang diterimanya, melainkan pada dampak positif yang ia tinggalkan dan nilai-nilai luhur yang terus menginspirasi setelah ia tiada. Einstein mengajarkan bahwa kemuliaan bukan berasal dari dipuja, tetapi dari kerendahan hati, kesederhanaan, dan pengabdian kepada kebenaran dan kemanusiaan.

Dengan demikian, permintaan terakhir Einstein bukan sekadar catatan personal menjelang ajal, tetapi juga merupakan manifestasi dari filosofi hidup seorang ilmuwan besar—yang hingga akhir hayatnya tetap konsisten pada prinsipnya: bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada kemanusiaan, dan bahwa warisan moral jauh lebih abadi dibandingkan monumen fisik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Pranata Sumedanglarang

Pranata Sumedanglarang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00